Kebangkrutan Perusahaan Jepang Tembus 1.000 Kasus! Krisis Tenaga Kerja Jadi Pemicu

Kebangkrutan perusahaan Jepang pada Juli 2026 tembus 1.028 kasus akibat krisis tenaga kerja, kenaikan harga, dan tekanan biaya usaha.

Para pekerja berjalan kaki melintas dekat Stasiun Tokyo di Tokyo, Jepang, 15 Mei 2026. (Foto: Xinhua/Jia Haocheng)

Para pekerja berjalan kaki melintas dekat Stasiun Tokyo di Tokyo, Jepang, 15 Mei 2026. (Foto: Xinhua/Jia Haocheng)

Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, TOKYO — Angka kebangkrutan perusahaan di Jepang kembali menembus 1.000 kasus pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap dunia usaha, terutama perusahaan kecil, masih cukup berat akibat krisis tenaga kerja dan kenaikan biaya.

Data Tokyo Shoko Research yang dikutip Kyodo News, Senin (10/8/2026) menunjukkan sebanyak 1.028 perusahaan di Jepang gulung tikar sepanjang Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 6,9 persen dibandingkan Juli tahun sebelumnya.

Kenaikan jumlah perusahaan yang bangkrut juga diikuti lonjakan nilai liabilitas. Total liabilitas perusahaan yang mengalami kebangkrutan mencapai 236,3 miliar yen, meningkat 41,4 persen secara tahunan.

Jika dikonversikan berdasarkan nilai tukar yang tercantum dalam laporan, jumlah tersebut setara sekitar Rp26,7 triliun atau sekitar 1,5 miliar dolar AS.

Kebangkrutan Akibat Krisis Tenaga Kerja Mencapai Rekor

Krisis tenaga kerja menjadi salah satu persoalan utama yang semakin menekan perusahaan di Jepang. Tokyo Shoko Research mencatat sebanyak 63 kasus kebangkrutan pada Juli berkaitan dengan kesulitan memperoleh tenaga kerja.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang pencatatan. Dari jumlah itu, sebanyak 36 kasus dipicu oleh meningkatnya biaya tenaga kerja atau personel. Jumlah tersebut bahkan dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan juga datang dari kenaikan harga. Sebanyak 93 kasus kebangkrutan pada Juli disebut berkaitan dengan kenaikan harga, menjadi angka tertinggi sejak 2022.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari pelemahan nilai tukar yen yang membuat biaya material dan bahan baku semakin tinggi. Bagi perusahaan dengan kemampuan finansial terbatas, kenaikan biaya tersebut dapat semakin mempersempit ruang usaha.

Sektor Jasa Paling Banyak Bangkrut

Jika dilihat berdasarkan sektor industri, perusahaan jasa mencatat jumlah kebangkrutan paling tinggi pada Juli 2026 dengan 342 kasus.

Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi mencatat kenaikan kebangkrutan yang cukup tajam, yakni mencapai 62,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut antara lain mencakup perusahaan perangkat lunak yang menghadapi perubahan besar akibat semakin luasnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perkembangan teknologi AI membuat persaingan di industri perangkat lunak semakin ketat. Perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan pasar dan teknologi menghadapi tekanan yang semakin besar.

Perusahaan Kecil Paling Terdampak

Tekanan ekonomi tersebut paling banyak dirasakan perusahaan berskala kecil. Data Tokyo Shoko Research menunjukkan perusahaan dengan liabilitas di bawah 100 juta yen menyumbang hampir 80 persen dari keseluruhan kasus kebangkrutan pada Juli.

Tingginya proporsi perusahaan kecil menunjukkan bahwa kenaikan biaya tenaga kerja, harga bahan baku, serta perubahan kondisi bisnis memberikan tekanan besar terhadap pelaku usaha dengan kapasitas keuangan yang lebih terbatas.

Dengan jumlah kebangkrutan yang kembali menembus 1.000 kasus selama dua bulan berturut-turut, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa dunia usaha Jepang masih menghadapi tantangan serius pada 2026.

(Sumber: Xinhua)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *