Bank Sentral Korea Selatan Beri Peringatan: AI Mulai Menggerus Lapangan Kerja Anak Muda

jalan di seoul korsel xinhua

Orang-orang melintas di jalanan Seoul, Korea Selatan, 9 Januari 2025. (Foto ilustrasi: Xinhua/Park Jintaek)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA — Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan lapangan kerja kaum muda di Korea Selatan. Bank of Korea (BOK) memperingatkan bahwa industri yang banyak menggunakan AI menghadapi penurunan kesempatan kerja bagi generasi muda.

Peringatan tersebut tertuang dalam laporan BOK yang dirilis pada Selasa (18/8/2026). Bank sentral Korea Selatan menggunakan data kepesertaan National Pension Service (NPS) serta survei penduduk yang aktif secara ekonomi untuk melihat perubahan kondisi pasar kerja.

Laporan BOK mencatat jumlah lapangan kerja bagi kaum muda turun 285.000 dalam empat tahun terakhir. Sebanyak 94 persen atau sekitar 268.000 pekerjaan yang hilang berasal dari sektor dengan tingkat paparan AI tinggi.

Penurunan paling tajam terjadi di sektor layanan informasi. Lapangan kerja bagi pekerja muda di bidang tersebut merosot 31,4 persen dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, sektor penerbitan mengalami penurunan 27,4 persen. Industri pemrograman komputer juga kehilangan 16,6 persen lapangan kerja kaum muda, sedangkan sektor jasa profesional turun 11,6 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam struktur pasar kerja ketika perusahaan mulai mengadopsi teknologi AI untuk menjalankan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia.

Menariknya, tren berbeda justru terlihat pada kelompok pekerja berusia 50-an tahun. Jumlah lapangan kerja kelompok tersebut terus bertambah di industri yang sama. Fenomena ini mengindikasikan adanya kesenjangan antargenerasi dalam menghadapi perubahan akibat perkembangan teknologi.

BOK menilai dampak AI terhadap dunia kerja tidak semata-mata bergantung pada seberapa luas perusahaan menggunakan teknologi tersebut. Cara perusahaan menerapkan AI menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.

Ketika perusahaan memanfaatkan AI untuk otomatisasi, teknologi tersebut dapat mengambil alih sejumlah tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia. Kondisi ini kemudian berpotensi mengurangi kebutuhan perekrutan tenaga kerja, terutama pekerja muda yang baru memasuki pasar kerja.

Sebaliknya, penggunaan AI sebagai alat augmentasi atau teknologi yang membantu meningkatkan kemampuan pekerja memberikan dampak berbeda. Menurut laporan BOK, penggunaan AI dengan pendekatan tersebut hanya memberikan dampak negatif yang terbatas terhadap perekrutan tenaga kerja muda.

Temuan itu memperlihatkan bahwa AI tidak selalu menjadi ancaman bagi pekerja. Dampaknya sangat bergantung pada keputusan perusahaan dalam memanfaatkan teknologi, apakah untuk menggantikan peran manusia atau justru membantu pekerja meningkatkan produktivitas.

BOK menegaskan bahwa tantangan utama bukan sekadar adopsi AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut diterapkan dalam proses kerja. Kebijakan perusahaan dalam memilih otomatisasi atau augmentasi dapat menentukan seberapa besar dampaknya terhadap kesempatan kerja generasi muda.

(Sumber: Xinhua)