Dari Yogyakarta, Duta SMA 2026 Siapkan Gerakan untuk Pelajar
Duta SMA 2026 menjadi ruang pelajar mengembangkan potensi, kepemimpinan, budaya, dan gagasan untuk pendidikan. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto
GEBRAK.ID, YOGYAKARTA — Program Duta SMA 2026 menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenali potensi diri, mengembangkan kepemimpinan, sekaligus melahirkan gagasan yang dapat memberi dampak bagi lingkungan pendidikan.
Program yang dikembangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) itu tidak hanya berfokus pada pencapaian individu. Para peserta juga mendapat kesempatan bertukar pengalaman, membangun jejaring, serta menyusun berbagai rencana yang dapat melibatkan pelajar dari sejumlah daerah.
Bagi Duta SMA Nasional Kategori Putri, Fidela Shahia Myiesha Susilo dari SMA Negeri 1 Yogyakarta, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik.
“Saya berusaha untuk menampilkan versi terbaik dari diri saya untuk Duta SMA kali ini. Saya menggali lebih dalam lagi tentang kemampuan saya yang bisa saya sumbangkan untuk Indonesia,” ujar Fidela, Rabu (12/8/2026).
Fidela mengajak para murid SMA di seluruh Indonesia agar tidak ragu mengenali kemampuan yang mereka miliki. Menurutnya, potensi yang terus dikembangkan dapat menjadi modal untuk mengambil peran dan memberikan manfaat bagi orang lain.
“Persiapkan diri kalian dengan baik, gali potensi kalian sedalam-dalamnya. Cari di manakah celah kalian untuk bersinar,” pesannya.
Baca juga: 76 Pelajar Dikukuhkan Jadi Duta SMA 2026, Ini Tugas Besarnya
Sementara itu, Duta SMA Nasional Kategori Putra, Fachri Akbar Triyanto dari SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur, menilai pertemuan dengan pelajar dari berbagai daerah menjadi salah satu pengalaman penting dalam program tersebut.
Keragaman latar belakang para peserta membuka ruang untuk saling mendukung dan bertukar gagasan. Para Duta SMA juga mulai menyiapkan rencana tindak lanjut yang diharapkan dapat memberi ruang bagi pelajar lain untuk mengembangkan karya.
“Kami pastinya menyusun rencana tindak lanjut yang akan menjadi sebuah wadah bagi siswa di Indonesia untuk bisa mengembangkan karya-karyanya, sehingga bisa menjadi seseorang yang bermanfaat pada masa depan,” ujar Fachri.
Pengalaman berbeda dirasakan Rhiana Abigail Katu dari SMA Negeri 1 Waikabubak, Nusa Tenggara Timur. Selama mengikuti rangkaian kegiatan Duta SMA, ia memperoleh materi mengenai komunikasi, kepemimpinan, kepedulian terhadap lingkungan sekitar, hingga cara mencari solusi atas persoalan yang dihadapi murid.
Bekal tersebut mendorong Rhiana untuk mengambil peran lebih besar sebagai representasi pelajar di daerahnya. Ia ingin mengembangkan program yang dapat mengajak lebih banyak teman sebaya untuk terlibat dan menjadi bagian dari perubahan.
“Tentunya hal yang ingin saya kembangkan sebagai Duta SMA adalah menjadi representasi yang dapat memberikan dampak positif bagi teman-teman SMA, khususnya di daerah saya, dengan menjalankan program Teman SMA Impact Challenge, di mana teman-teman SMA itu menjadi agen perubahan,” tutur Rhiana.
Selain kepemimpinan dan pengembangan potensi, program Duta SMA juga menjadi ruang untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia.
Albert Edon dari SMA Negeri 1 Lobalain, Nusa Tenggara Timur, mengaku mendapat kesempatan mengenal budaya dari berbagai provinsi. Pada saat yang sama, ia memperkenalkan budaya Kabupaten Rote Ndao kepada para Duta SMA dari daerah lain.
“Kita bisa belajar banyak budaya dari provinsi-provinsi lain yang dapat kita lestarikan. Tentunya, sebagai Duta SMA Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya juga mengajarkan banyak budaya dari Kabupaten Rote Ndao kepada teman-teman dari provinsi lain,” ujar Albert.
Selama menjalani karantina di Yogyakarta, para Duta SMA juga diajak menerapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Kebiasaan tersebut mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih cepat.
Rangkaian kegiatan turut diisi aktivitas bersama di SMA Negeri 2 Ngaglik, termasuk penanaman pohon. Para peserta juga mengunjungi Keraton Yogyakarta untuk mengenal lebih dekat warisan budaya dan sejarah daerah tersebut.
Berbagai pengalaman itu menjadi bekal bagi para Duta SMA untuk menjalankan peran selama satu tahun ke depan. Mereka tidak hanya membawa nama provinsi masing-masing, tetapi juga diharapkan mampu menjadi pelantang sebaya yang mengajak pelajar lain berani berkarya dan menyampaikan gagasan.
Melalui jejaring antardaerah yang terbentuk, Duta SMA 2026 diharapkan dapat menghadirkan lebih banyak inisiatif positif bagi lingkungan pendidikan. Potensi yang mereka miliki pun diharapkan berkembang menjadi aksi nyata yang memberi manfaat bagi teman sebaya dan masyarakat.
(Sumber: Kemendikdasmen)
