Kemendikdasmen dan ANRI Siapkan Pembelajaran Sejarah Digital, Bisa Dikemas Jadi Gim
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dan Kepala ANRI Mego Pinandoto (kiri) di sela-sela Forum “Arsip Goes To School: Integrasi Arsip sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Sekolah Menengah Atas” di Gedung ANRI, Jakarta, Kamis (27/8/2026). (Foto: Gebrak.id)
Editor: Endro Yuwanto
GEBRAK.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sedang merancang pembelajaran sejarah berbasis digital untuk siswa. Inovasi ini diharapkan membuat pelajaran sejarah lebih menarik sekaligus dekat dengan kehidupan generasi muda.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pembelajaran sejarah menghadapi tantangan karena sebagian generasi muda lebih fokus pada kehidupan masa kini dan masa depan.
Menurut Abdul Mu’ti, cara mengajarkan sejarah juga perlu diperbarui. Penyampaian materi yang hanya berisi cerita dan fakta masa lalu berisiko membuat siswa menganggap sejarah tidak memiliki hubungan dengan kehidupan mereka.
“Metode pengajaran bahasa dan sejarah terkadang kurang menarik bagi siswa. Sejarah berpotensi dipandang sekadar sebagai cerita mengenai orang-orang di masa lalu yang tidak memiliki keterkaitan dengan kehidupan mereka sekarang,” ujar Abdul Mu’ti dalam forum “Arsip Goes to School” di Gedung ANRI, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Abdul Mu’ti menilai pelajaran sejarah perlu menerapkan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning. Siswa tidak cukup menghafal peristiwa dan tanggal, tetapi perlu memahami konteks serta kaitan sejarah dengan persoalan yang mereka hadapi saat ini.
Karena itu, pemerintah juga mendorong pengembangan kembali penulisan sejarah bangsa dengan memanfaatkan arsip dan dokumen autentik. Sumber tersebut dinilai penting agar pembelajaran memiliki dasar yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Penggunaan sumber sejarah yang kuat diperlukan agar masyarakat tidak terus-menerus berdebat mengenai sejarah bangsa sendiri tanpa dasar dokumentasi yang memadai,” ujar Abdul Mu’ti.
Kepala ANRI Mego Pinandoto menambahkan, format pembelajaran juga harus menyesuaikan kebiasaan generasi muda yang kini sangat dekat dengan perangkat digital.
Menurut Mego, siswa saat ini lebih sering membawa telepon seluler dibandingkan buku fisik. Kondisi tersebut menjadi alasan materi sejarah perlu dikembangkan dalam berbagai format digital tanpa menghilangkan substansi dan nilai sejarah.
“Kita melihat bahwa anak-anak sekarang jarang yang bawa buku, bawanya HP, jadi kebayang kalau ada pembelajaran sejarah gitu harus bawa buku, kan sudah tidak sesuai,” kata Mego.
Mego membuka peluang materi sejarah dikemas dalam bentuk buku digital, gim, film, maupun media interaktif lainnya. Menurutnya, gim dapat menjadi salah satu cara untuk membuat siswa mempelajari sejarah dengan pengalaman yang lebih menarik.
“Gim itu juga salah satu model yang sangat menarik, tidak bikin bosan,” cetus Mego.
Kolaborasi Kemendikdasmen dan ANRI tersebut diharapkan dapat menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual, interaktif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi, sekaligus tetap menggunakan arsip autentik sebagai pijakan utama.
(*)
