Maulid Nabi 2026, Haedar Nashir: Momentum Tegakkan Moral Publik dan Kepedulian Kemanusiaan
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun moral publik dan kepedulian terhadap sesama. (Foto: muhammadiyah.or.id)
Editor: A. Rayyan K
GEBRAK.ID, JAKARTA — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai sarana menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun moral publik dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam tulisannya berjudul “Maulid Nabi: Jalan Menegakkan Moral Publik dan Praksis Kemanusiaan”, Haedar menilai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW perlu meninggalkan jejak nyata dalam perilaku umat.
Menurut Haedar, secara syariat Maulid Nabi bukan bagian dari perintah khusus dalam ajaran Islam. Namun, peringatan tersebut dapat menjadi ruang untuk menyampaikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai risalah serta keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Haedar menekankan pentingnya menjadikan Rasulullah sebagai uswah hasanah atau teladan terbaik. Keteladanan tersebut tidak hanya menyangkut kehidupan pribadi, tetapi juga bagaimana umat menjalankan hubungan sosial, kehidupan berbangsa, hingga membangun hubungan kemanusiaan secara universal.
“Jadikan perayaan Maulid sebagai delivery nilai dari risalah dan keteladanan Nabi Muhammad dalam kehidupan dengan menjadikan Rasul akhir zaman itu betul-betul sebagai teladan utama,” kata Haedar dalam tulisannya, dikutip Selasa (25/8/2026).
Haedar mengingatkan bahwa ajaran agama dan keteladanan Nabi tidak akan memberikan perubahan apabila hanya berhenti pada wacana. Nilai tersebut harus diterapkan dalam kehidupan nyata, mulai dari keluarga, masyarakat hingga ruang publik.
Haedar juga mengaitkan keteladanan Nabi dengan kondisi moral masyarakat saat ini. Menurut dia, Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan serius, seperti korupsi, penyalahgunaan jabatan, perusakan lingkungan, narkoba, serta beragam kejahatan dan masalah sosial lainnya.
Persoalan tersebut, kata dia, semakin memprihatinkan ketika korupsi juga melibatkan aktor di lingkungan lembaga pendidikan tinggi.
Di ruang digital, persoalan moral juga muncul dalam bentuk berbeda. Media sosial masih dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, saling menghujat, kata-kata kasar hingga berbagai bentuk permusuhan.
Haedar berpandangan bahwa kualitas manusia menjadi salah satu kunci utama dalam menentukan baik atau buruknya kehidupan bersama.
“Kunci kehidupan sebenarnya terletak pada manusianya. Jika manusianya baik maka baiklah sistem kehidupan, begitu pula sistem akan rusak di tangan manusianya yang rusak secara moral,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong para tokoh agama dan umat Islam yang berada di berbagai lembaga publik untuk menghadirkan nilai agama dalam bentuk keteladanan konkret. Menurutnya, moralitas publik harus memperlihatkan keselarasan antara ucapan dan perbuatan.
“Akhlak yang menyambung garis lurus antara kata dan tindakan di dunia nyata, bukan akhlak dalam khazanah normatif dan retorika teologis belaka,” kata Haedar.
Maulid Nabi dan Aksi Kemanusiaan
Selain persoalan moral publik, Haedar menilai Maulid Nabi dapat menjadi momentum memperkuat kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
Ia mencontohkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membantu korban bencana, termasuk dalam menghadapi dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Indonesia sendiri kerap menghadapi berbagai bencana alam, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor hingga erupsi gunung berapi. Pemerintah memiliki kewajiban melakukan pencegahan, rehabilitasi, dan mitigasi bencana. Namun, Haedar menegaskan masyarakat juga memiliki peran penting dalam membantu mereka yang terdampak.
Organisasi keagamaan, menurut dia, dapat mengambil bagian dengan menggerakkan tokoh dan umatnya dalam aksi kemanusiaan.
Kepedulian tersebut, lanjut Haedar, semestinya lahir dari ketulusan dan panggilan moral, bukan sekadar untuk membangun citra keagamaan.
Haedar mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Muslim: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”
Haedar juga mengingatkan pesan sosial dalam Surah Al-Ma’un yang menempatkan kepedulian terhadap orang miskin, anak yatim, dan kelompok lemah sebagai bagian penting dari keberagamaan.
Menurutnya, kesalehan seorang muslim tidak cukup diukur dari aktivitas ibadah yang bersifat personal. Kesalehan juga harus terlihat melalui manfaat yang diberikan kepada masyarakat, terutama kepada kelompok yang membutuhkan pertolongan.
“Bukti para tokoh dan umat muslim yang tinggi kesalehannya diuji selain dalam menegakkan moralitas publik juga dalam melakukan praksis kemanusiaan membela mereka yang lemah (dhu’afa), tertindas (mustadh’afin), dan mengalami masalah atau menderita dalam hidupnya,” jelas Haedar.
Haedar kemudian mengutip hadis yang menyebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Hadis tersebut diriwayatkan Ahmad.
Bagi Haedar, kekuatan keberagamaan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah mayoritas. Hal yang lebih penting ialah kualitas keberagamaan yang mampu menghadirkan moralitas, keadilan, pemberdayaan, dan manfaat sosial.
Karena itu, agama tidak seharusnya berhenti sebagai simbol atau sekadar menjadi komoditas dalam narasi di dunia maya. Nilai agama perlu dibumikan melalui tindakan nyata yang membawa pembebasan, pemberdayaan, kemajuan, serta kebaikan bagi kehidupan bersama.
Haedar pun mengajak umat Islam menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum untuk membuktikan kesalehan melalui tindakan konkret.
“Karenanya, mari wujudkan perayaan Maulid Nabi untuk dijadikan jalan nyata dalam membuktikan kesalehan menegakkan moral publik dan praksis sosial kemanusiaan di negeri tercinta,” kata Haedar.
Haedar menutup refleksinya dengan mengingatkan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ash-Shaff ayat 2-3 mengenai larangan mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada ucapan dan seremoni. Keteladanan Rasulullah justru perlu terlihat dalam sikap, perilaku, kepedulian sosial, serta keberanian memperjuangkan kebaikan di tengah masyarakat.
(Sumber: Muhammadiyah)
