Pemerintah Buka Tender 7 Proyek PLTS, Danantara Siap Ambil Alih Jika Swasta tak Berminat

1787723274530

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia prioritaskan keterlibatan IPP, namun siapkan skema pembiayaan cadangan melalui Danantara untuk megaproyek energi surya 100 GWp. (Foto:dunia energi)

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA– Pemerintah secara resmi membuka peluang bagi perusahaan swasta untuk menggarap tujuh proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) melalui mekanisme tender. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) akan mengambil alih proyek jika penawaran harga dari swasta tidak kompetitif atau tidak ada pihak yang berminat.

Langkah ini merupakan bagian dari strategi percepatan program PLTS 100 gigawatt peak (GWp) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. “Tim yang akan melakukan tender nantinya sesuai dengan arah Pak Presiden. Kami laporkan bahwa ini yang pertama adalah kita dorong IPP (Independent Power Producer),” ujar Bahlil dalam acara peluncuran program di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8/2026).

Skema Tender dan Opsi Danantara

Pemerintah menetapkan syarat utama bagi pihak swasta yang ingin terlibat, yaitu penawaran harga listrik yang kompetitif dan efisien bagi kepentingan nasional. Bahlil menekankan bahwa negara tidak akan bergantung sepenuhnya pada minat swasta jika angka yang diajukan berpotensi memberatkan keuangan negara.

“Kalau harganya kompetitif kita kasih IPP. Kalau tidak kompetitif dan tidak ada yang mau, maka kita akan ambil alih untuk dikerjakan oleh pemerintah lewat Danantara dengan pembiayaan yang sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden yang efisien, efektif, dan terjangkau,” tegasnya. Skema dua jalur ini disiapkan untuk memastikan proyek strategis nasional tetap berjalan sesuai target tanpa hambatan.

Daftar 7 Proyek PLTS yang Siap Tender

Kementerian ESDM telah memetakan tujuh lokasi spesifik yang siap memasuki proses tender kepada pihak swasta. Proyek-proyek tersebut didominasi oleh PLTS terapung di sejumlah waduk di Pulau Jawa, dengan rincian sebagai berikut :

1. PLTS Terapung Jatiluhur (Purwakarta, Jabar): 1.688 MWp

2. PLTS Terapung Cirata (Purwakarta, Jabar): 1.250 MWp

3. PLTS Terapung Jatigede (Sumedang, Jabar): 636 MWp

4. PLTS+BESS Klaster Madura (Sumenep, Jatim): 605 MWp

5. PLTS Gilimanuk (Jembrana, Bali): 300 MWp

6. PLTS Buleleng (Bali): 118 MWp

7. PLTS Lahan Bank Tanah Purwakarta (Jabar): 69 MWp

Total kapasitas dari tujuh proyek yang ditenderkan ini mencapai sekitar 4.666 MWp dan merupakan bagian dari 14 proyek tahap awal dengan total 5,3 GWp yang telah dilakukan peletakan batu pertama (groundbreaking).

Investasi dan Target Ekonomi Hijau

Program PLTS 100 GWp ini diproyeksikan membutuhkan investasi total sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.140 triliun. Pemerintah menargetkan pembangunan dapat berlangsung secara masif dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Selain bertujuan mencapai swasembada dan kedaulatan energi, proyek ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Bahlil memaparkan bahwa pembangunan PLTS yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) berpotensi menghasilkan efisiensi subsidi energi hingga Rp73,9 triliun per tahun, menggantikan peran pembangkit berbahan bakar fosil.

Khusus untuk Pulau Bali, pembangunan PLTS 300 MWp di Gilimanuk dan 118 MWp di Buleleng diproyeksikan mampu menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), menghemat sekitar 0,6 juta kiloliter solar per tahun, dan mendukung citra Bali sebagai destinasi wisata berenergi hijau.

(berbagai sumber)