Pekerja Hyundai dan Kia Mogok, Robot AI Jadi Bayang-bayang di Balik Tuntutan
Ribuan pekerja Hyundai dan Kia di Korea Selatan menghentikan aktivitas produksi dalam aksi mogok kerja penuh pertama mereka dalam satu dekade. Selain menuntut kenaikan upah dan kepastian kerja, para pekerja juga menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan robot dan kecerdasan artifisial (AI). (Foto: Bloomberg)
Editor: Devona R
GEBRAK.ID — Ribuan pekerja Hyundai dan Kia di Korea Selatan menghentikan aktivitas produksi dalam aksi mogok kerja penuh pertama mereka dalam satu dekade. Selain menuntut kenaikan upah dan kepastian kerja, para pekerja juga menyuarakan kekhawatiran terhadap perkembangan robot dan kecerdasan artifisial (AI).
Laman Carscoops, Sabtu (21/8/2026) melaporkan, sekitar 40.000 anggota serikat pekerja Hyundai diperkirakan terlibat dalam aksi tersebut. Sebagian pekerja bahkan mendatangi kantor pusat perusahaan untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.
Aksi mogok berlangsung selama satu hari dan menjadi bagian dari tekanan pekerja kepada perusahaan terkait sejumlah persoalan ketenagakerjaan.
Salah satu tuntutan utama menyangkut usia pensiun. Para pekerja meminta batas usia pensiun wajib yang saat ini berada di angka 60 tahun dinaikkan.
Selain itu, serikat pekerja menuntut bonus yang lebih besar serta jaminan pekerjaan yang lebih kuat di tengah perubahan industri otomotif yang semakin mengandalkan otomatisasi dan AI.
Robot Boston Dynamics Jadi Sorotan
Kekhawatiran pekerja bukan tanpa alasan. Hyundai Motor Group tengah mempersiapkan penggunaan robot buatan Boston Dynamics di fasilitas produksinya mulai 2028.
Rencana tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja bahwa otomatisasi dapat mengurangi kebutuhan terhadap tenaga manusia. Perusahaan sendiri mendorong penggunaan teknologi robot untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Pada Juli 2026, produsen otomotif Korea Selatan itu menyampaikan bahwa robot Atlas diproyeksikan mulai bekerja di Hyundai Motor Group Metaplant America dalam dua tahun mendatang.
Pada tahap awal, Atlas akan membantu pekerjaan pengurutan komponen. Namun, kemampuan robot tersebut diperkirakan terus berkembang hingga dapat menjalankan tugas yang lebih kompleks.
Hyundai bahkan memperkirakan robot tersebut nantinya mampu membantu proses perakitan komponen pada 2030.
Perkembangan itu membuat isu perlindungan tenaga kerja semakin mencuat dalam negosiasi antara serikat pekerja dan perusahaan. Pekerja tidak hanya mempersoalkan besaran upah, tetapi juga masa depan pekerjaan mereka ketika otomatisasi semakin luas.
“Mogok ini untuk melindungi akar industri otomotif Korea dan menegakkan martabat tenaga kerja,” ujar Ketua Korean Metal Workers’ Union Park Sang-man.
Aksi Melibatkan Sekitar 50 Lokasi
Korean Metal Workers’ Union mencatat aksi mogok bersama tersebut melibatkan karyawan dari sekitar 50 lokasi.
Mogok penuh ini menjadi kelanjutan dari rangkaian aksi ketenagakerjaan yang berlangsung sejak Juli 2026. Sebelumnya, para pekerja melakukan aksi mogok sebagian yang turut mengganggu kegiatan produksi.
Dampaknya cukup besar. Rangkaian aksi tersebut dilaporkan telah menghambat produksi sekitar 55.200 kendaraan.
Nilai kendaraan yang terdampak mencapai lebih dari 1,67 miliar dolar AS. Dengan asumsi kurs sekitar Rp17.650 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp29,49 triliun.
Tekanan dari pekerja datang ketika industri otomotif global menghadapi perubahan besar. Produsen kendaraan kini berlomba meningkatkan otomatisasi, mengembangkan kendaraan listrik, serta memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi.
Bagi pekerja Hyundai dan Kia, perubahan teknologi tersebut menjadi tantangan tersendiri. Mereka menginginkan transformasi industri tetap berjalan tanpa mengorbankan kepastian pekerjaan dan kesejahteraan tenaga kerja.
(Sumber: Carscoops)
