AI Makin Merajalela di Malaysia, Lebih dari 38 Persen Bisnis Kini Sudah Menggunakannya

artificial intelligence.(photo:Pixabay.com)

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia usaha Malaysia terus melaju. Lebih dari 38 persen bisnis di negara tersebut kini secara konsisten menggunakan sedikitnya satu alat AI. (Foto: Pixabay)

Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, KUALA LUMPUR — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia usaha Malaysia terus melaju. Lebih dari 38 persen bisnis di negara tersebut kini secara konsisten menggunakan sedikitnya satu alat AI.

Angka itu menunjukkan peningkatan cukup tajam dibandingkan tahun 2025 yang masih berada di kisaran 27 persen. Data tersebut terungkap dalam laporan Amazon Web Services (AWS) bertajuk Unlocking Malaysia’s AI Potential 2026, sebagaimana dilaporkan Xinhua, Sabtu (22/8/2026).

Laporan AWS mencatat sekitar satu juta bisnis tambahan di Malaysia mulai mengadopsi AI dalam setahun terakhir. Artinya, hampir dua bisnis setiap menitnya mulai memanfaatkan teknologi tersebut.

Dengan pertumbuhan itu, jumlah bisnis yang menggunakan AI di Malaysia kini telah menembus lebih dari 3,4 juta.

Meski adopsinya berkembang pesat, penerapan AI di kalangan pelaku usaha Malaysia masih didominasi penggunaan dasar. Sebanyak 67 persen bisnis yang telah mengadopsi AI masih menggunakannya untuk kebutuhan sederhana, seperti chatbot publik untuk pekerjaan rutin atau perangkat siap pakai guna mempercepat proses bisnis yang sudah berjalan.

Sementara itu, hanya 19 persen bisnis yang telah memiliki strategi formal untuk memperluas penggunaan AI ke berbagai fungsi dalam perusahaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan jumlah pengguna AI belum sepenuhnya diikuti kematangan strategi. Banyak perusahaan masih berada pada tahap pemanfaatan teknologi untuk membantu pekerjaan sehari-hari, belum menjadikannya sebagai bagian utama dari transformasi bisnis.

AWS juga menemukan bahwa mayoritas perusahaan tidak memilih membangun seluruh kemampuan AI secara mandiri. Lebih dari 57 persen bisnis justru mengandalkan penyedia eksternal, konsultan, atau vendor perangkat lunak untuk memperoleh kemampuan AI.

Di sisi lain, sebanyak 69 persen perusahaan menilai penyedia perangkat lunak dan pengembang solusi AI lokal memiliki peran penting dalam membantu proses adopsi teknologi tersebut.

“Penyedia yang memiliki pengetahuan mendalam tentang sektor tertentu dapat mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja yang sudah familier dan membuat kapabilitas itu tersedia bagi banyak organisasi, sehingga membantu keahlian tersebut menjangkau lebih luas di seluruh perekonomian,” demikian keterangan dalam laporan AWS.

Sektor jasa keuangan menjadi salah satu bidang yang paling maju dalam pemanfaatan AI. Sebanyak 64 persen bisnis di sektor tersebut telah melewati tahap eksperimen, sementara 42 persen di antaranya sudah memiliki strategi untuk memperluas penggunaan AI.

Kemajuan sektor keuangan juga terlihat dari aspek tata kelola. Sebanyak 39 persen perusahaan di sektor tersebut telah memiliki kerangka tata kelola AI formal. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata seluruh sektor bisnis Malaysia yang berada di angka 24 persen.

AWS menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa penerapan tata kelola tidak selalu menjadi penghambat inovasi. Sebaliknya, aturan dan sistem pengawasan yang jelas justru dapat membantu perusahaan mempercepat kematangan penggunaan AI.

“Hal ini menunjukkan bahwa investasi tata kelola justru mempercepat kematangan AI, alih-alih menghambatnya,” ungkap laporan tersebut.

AWS menyarankan perusahaan yang ingin membawa penggunaan AI keluar dari tahap uji coba agar mulai mengalokasikan sumber daya khusus untuk tata kelola. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pembentukan tim, penyediaan perangkat pendukung, serta keterlibatan manajemen dalam pengambilan keputusan terkait AI.

Perkembangan di Malaysia memperlihatkan bahwa adopsi AI bukan lagi sekadar tren teknologi. Bagi semakin banyak perusahaan, kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengubah cara mereka menjalankan bisnis.

(Sumber: Xinhua)