Rusun Manggarai Dibangun, Sebanyak 1.232 Unit Terjangkau dan Bisa Dicicil hingga 40 Tahun
Proyek hunian vertikal di lahan KAI seluas 2,2 hektare ini mengusung konsep TOD dan menyediakan 1.232 unit untuk segmen MBR dan MBM.(Foto: Bobby Rasyidin/ Dirut KAI)
GEBRAK.ID,JAKARTA — Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI resmi memulai pembangunan hunian vertikal di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026). Proyek yang dikembangkan di atas aset lahan KAI tersebut mengusung konsep Transit Oriented Development (TOD) dan ditujukan untuk menyediakan hunian yang lebih terjangkau di tengah tingginya harga tanah di Jakarta.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pembangunan tahap awal berada di kawasan Blok F dan Blok G dengan luas lahan sekitar 2,2 hektare. “Saat ini kita akan melakukan groundbreaking terhadap hunian terjangkau di kawasan Manggarai yang terdiri dari dua blok, yaitu Blok G dan Blok F, dengan luas total sekitar 2,2 hektare,” ujar Bobby dalam acara groundbreaking, Jumat (21/8/2026).
Berdasarkan rencana pengembangan, kawasan tersebut akan memiliki delapan tower dengan total sekitar 3.784 unit hunian dan 150 unit ruang retail. Tiga tower akan dibangun di Blok G, sementara lima tower lainnya berada di Blok F. Setiap tower direncanakan memiliki 24 lantai.
1.232 Unit untuk Hunian Terjangkau
Dari keseluruhan proyek tersebut, pemerintah dan KAI menyiapkan 1.232 unit hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah (MBM). KAI sebelumnya menjelaskan, komposisi hunian terjangkau itu terdiri dari 308 unit untuk MBR dan 924 unit untuk MBM. Sementara sekitar 2.508 unit lainnya merupakan hunian komersial.
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) menyebut pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya menyediakan hunian di kawasan perkotaan dengan memanfaatkan aset milik negara atau BUMN.
Menteri PKP Maruarar Sirait sebelumnya meninjau persiapan pembangunan di Blok F dan Blok G pada 18 Agustus 2026. Kementerian PKP menyebut total area pengembangan mencapai sekitar 21.939 meter persegi, dengan Blok F sekitar 15.014 meter persegi dan Blok G sekitar 6.925 meter persegi.
Bisa Dicicil hingga 40 Tahun
Salah satu daya tarik proyek hunian vertikal Manggarai adalah skema pembiayaannya. Hunian terjangkau tersebut akan didukung melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan suku bunga 6 persen dan tenor hingga 40 tahun. Dengan tenor panjang tersebut, pemerintah berharap beban cicilan masyarakat dapat lebih ringan sehingga hunian di kawasan pusat kota dapat dijangkau lebih banyak pekerja.
Adapun unit hunian yang dirancang pemerintah terdiri atas beberapa tipe, mulai dari tipe 28, tipe 36 hingga tipe 45. Tipe 45 memiliki luas sekitar 45 meter persegi dan dirancang dengan dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur serta ruang keluarga.
Hanya 400 Meter dari Stasiun Manggarai
Proyek tersebut mengandalkan konsep TOD dengan menempatkan hunian dekat simpul transportasi publik. Lokasi pembangunan disebut hanya berjarak sekitar 400 meter dari Stasiun Manggarai dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar empat menit. Konsep tersebut memungkinkan penghuni mengakses transportasi publik tanpa harus menempuh perjalanan jauh dari tempat tinggal.
Pemerintah berharap pola ini dapat membantu masyarakat menghemat biaya dan waktu perjalanan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Selain akses ke stasiun, kawasan tersebut juga berada dekat dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, perdagangan, tempat ibadah serta berbagai fasilitas publik lainnya.
Pembangunan Dilakukan Bertahap
Pembangunan proyek Manggarai dilakukan secara bertahap. Kementerian PKP sebelumnya menyebut Blok G menjadi bagian yang lebih dahulu dipersiapkan untuk pembangunan, sedangkan Blok F menyusul setelah proses persiapan lahannya selesai.
KAI dan pemerintah menempatkan proyek ini sebagai salah satu contoh pemanfaatan aset BUMN untuk mendukung penyediaan hunian perkotaan. Kementerian PKP berperan sebagai regulator, sedangkan KAI berperan dalam pemanfaatan aset dan pengembangan proyek.
Kementerian PKP juga menyebut pemanfaatan aset negara untuk perumahan menjadi salah satu bagian dari upaya mempercepat Program 3 Juta Rumah. Pemerintah menilai keterbatasan lahan di pusat kota membuat pembangunan hunian vertikal menjadi salah satu solusi yang semakin penting.
Dengan lokasi yang terintegrasi dengan transportasi publik, proyek Rusun TOD Manggarai diharapkan tidak hanya menambah pasokan hunian, tetapi juga menjadi model pengembangan kawasan perkotaan yang menggabungkan tempat tinggal, transportasi dan aktivitas ekonomi dalam satu kawasan.
( berbagai sumber)
