Rusun Subsidi 3.740 Unit Dibangun di Lahan KAI Manggarai, Tanah Tetap Milik Negara

1787063047686

Proyek hunian vertikal di kawasan Stasiun Manggarai dimulai dari tiga tower di Blok G. Total delapan tower disiapkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah.(Foto:ist)

GEBRAK.ID,JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan memanfaatkan aset lahannya di kawasan Manggarai, Jakarta, untuk pembangunan rumah susun milik (rusunami) subsidi. Lahan seluas sekitar 2,2 hektare tersebut tetap menjadi milik KAI meski bangunan hunian nantinya dapat dimiliki masyarakat.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pemanfaatan lahan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan aset agar memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.”Jadi memang programnya Pak Menteri (Menteri PKP Maruarar Sirait) kepemilikan rumah supaya rakyat Indonesia ini punya rumah,” kata Bobby saat ditemui di Manggarai, Selasa (18/8/2026).

Bobby menjelaskan tanah yang digunakan untuk proyek tersebut tidak dialihkan kepemilikannya. Masyarakat yang membeli unit rusunami akan memperoleh Hak Guna Bangunan (HGB), sedangkan tanah tetap berada di bawah kepemilikan KAI.”Tanahnya tetap punya Kereta Api. Daripada lahan-lahan negara ini tidak teroptimalkan, lebih baik untuk kepentingan rakyat,” ujar Bobby.

Delapan Tower Siap Dibangun

Lahan proyek rusun subsidi tersebut memiliki luas 21.939 meter persegi atau sekitar 2,2 hektare. KAI membaginya menjadi dua bidang, yakni Blok G seluas 6.925 meter persegi dan Blok F seluas 15.014 meter persegi.

Pembangunan akan berlangsung bertahap.

Blok G yang sudah dinyatakan siap dibangun akan menjadi lokasi tahap pertama dengan tiga tower. KAI menargetkan groundbreaking berlangsung pada Jumat (21/8/2026).

Sementara itu, pembangunan Blok F ditargetkan mulai pada September 2026 setelah proses penertiban dan pembongkaran bangunan di atas lahan tersebut selesai. Secara keseluruhan, proyek ini menyiapkan delapan tower.

KAI Properti Management akan menangani pembangunan proyek tersebut.

Untuk tahap awal di Blok G, pengerjaan tiga tower diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 18 bulan. Blok G akan menyediakan 1.232 unit. Rinciannya, Tower A memiliki 418 unit, Tower B sebanyak 506 unit, dan Tower C sebanyak 308 unit. Adapun Blok F akan menampung sekitar 2.508 unit melalui lima tower. Dengan demikian, seluruh proyek di dua blok tersebut berpotensi menyediakan sekitar 3.740 unit rusun subsidi.

Unit yang ditawarkan terdiri atas tipe 28, 36, dan 45. Tipe 36 dan 45 memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tamu, dapur, serta ruang makan. Sementara tipe 28 memiliki satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur.

Terintegrasi dengan Transportasi Publik

Pembangunan rusun di Manggarai tidak hanya memanfaatkan aset KAI, tetapi juga mengusung konsep hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik atau Transit Oriented Development (TOD).

Kawasan Stasiun Manggarai menjadi salah satu simpul transportasi penting di Jakarta.

Kawasan ini terhubung dengan layanan KRL Commuter Line dan sejumlah moda transportasi umum lainnya. KAI sebelumnya menyampaikan rencana pengembangan kawasan Manggarai sebagai bagian dari kawasan bisnis dan hunian yang lebih besar.

Perusahaan menyiapkan sekitar 62 hektare aset di kawasan tersebut untuk dikembangkan secara bertahap, termasuk hunian, kawasan komersial, dan fasilitas pendukung. Konsep TOD dinilai relevan untuk menyediakan hunian di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Masyarakat dapat tinggal lebih dekat dengan pusat aktivitas sekaligus memperoleh akses transportasi umum tanpa harus terlalu bergantung pada kendaraan pribadi.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebelumnya menyebut hunian vertikal berbasis TOD menjadi salah satu pendekatan realistis untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal masyarakat perkotaan.

Harga Rusun Subsidi Manggarai

Pemerintah juga telah menetapkan batas harga untuk rusun subsidi di kawasan tersebut. Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP Sri Haryati mengatakan harga jual paling tinggi berada di kisaran Rp14,5 juta per meter persegi untuk kawasan Jakarta Pusat.Menurut dia, angka tersebut merupakan batas atas sehingga harga yang ditawarkan pengembang masih dapat lebih rendah.

Pembelian rusun juga dirancang menggunakan skema pembiayaan perumahan.

Sebelumnya, BTN memberikan simulasi bahwa unit seharga Rp500 juta dapat dibeli dengan uang muka sekitar 1 persen atau Rp5 juta, sementara plafon kredit mencapai Rp495 juta.Dengan asumsi tenor 30 tahun dan bunga 6 persen, cicilan yang disimulasikan sekitar Rp2,9 juta per bulan. Namun, angka tersebut merupakan simulasi pembiayaan dan bukan berarti seluruh unit di proyek Manggarai akan memiliki harga yang sama.

KAI Tetap Pemilik Lahan

Model pemanfaatan aset KAI di Manggarai memperlihatkan pola kerja sama antara pemilik aset, pengembang, regulator, dan lembaga pembiayaan. Menteri PKP Maruarar Sirait menjelaskan kementeriannya berperan sebagai regulator dan pembuat kebijakan. KAI bertindak sebagai pemilik aset, sedangkan KAI Properti Management menjalankan pembangunan sebagai pengembang.

Sebelumnya, KAI dan BTN juga telah menjajaki pengembangan hunian TOD di sejumlah kawasan stasiun. Selain Manggarai, rencana tersebut mencakup Kiaracondong di Bandung, kawasan Dr. Kariadi/Gergaji di Semarang, dan Stasiun Gubeng di Surabaya.

Pengembangan hunian vertikal di Manggarai menjadi bagian dari dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah pemerintah. Pemerintah sendiri mendorong rusun subsidi sebagai salah satu solusi penyediaan hunian terjangkau, terutama di kawasan perkotaan dengan harga tanah yang semakin tinggi.

Dengan proyek tersebut, lahan strategis KAI di sekitar Stasiun Manggarai tidak hanya dikembangkan untuk aktivitas transportasi dan bisnis, tetapi juga diarahkan untuk menyediakan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

(berbagai sumber)