Ismaila Sarr Gagal ke Liverpool, Sang Agen Soroti Perlakuan terhadap Pemain Afrika
Ismaila Sarr gagal mewujudkan kepindahan ke Liverpool pada hari terakhir bursa transfer. Kegagalan tersebut kemudian memicu sorotan dari agen sang pemain, Diomansy Kamara, yang mempertanyakan apakah kepentingan kliennya benar-benar menjadi pertimbangan dalam proses transfer. (Foto: Instagram/@cpfc)
GEBRAK.ID — Ismaila Sarr gagal mewujudkan kepindahan ke Liverpool pada hari terakhir bursa transfer. Kegagalan tersebut kemudian memicu sorotan dari agen sang pemain, Diomansy Kamara, yang mempertanyakan apakah kepentingan kliennya benar-benar menjadi pertimbangan dalam proses transfer.
Sarr sebelumnya terlihat berpeluang besar meninggalkan Crystal Palace menuju Anfield. Penyerang timnas Senegal itu tampil impresif sepanjang musim 2026/2027 dan menjadi pencetak gol terbanyak Palace di semua kompetisi.
Namun, hingga bursa transfer ditutup, kesepakatan tidak terwujud. Sarr akhirnya tetap bertahan di Selhurst Park.
Pelatih Crystal Palace, Pierre Sage, sebelumnya mengatakan Sarr membutuhkan waktu untuk menerima kegagalan transfer tersebut. Pernyataan itu muncul setelah sang pemain disebut telah menunjukkan keinginannya untuk pindah ke Merseyside.
Di tengah situasi tersebut, Kamara menyampaikan kritik melalui pernyataannya mengenai perlakuan terhadap pemain asal Afrika dalam industri sepak bola.
“Kita harus menjauh dari logika bahwa pemain Afrika terkadang merasa hanya diperlakukan sebagai komoditas. Anda membelinya, menentukan harganya, menegosiasikan masa depannya, dan terlalu sering keinginannya seolah-olah dikesampingkan,” ujar Kamara, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, pemain Afrika layak mendapatkan penghormatan yang sama terhadap kerja keras, karier, ambisi, serta suara mereka dalam menentukan masa depan.
“Pemain Afrika pantas mendapatkan rasa hormat. Menghormati pekerjaan, karier, ambisi, serta suara mereka,” lanjutnya.
Kamara juga menegaskan bahwa transfer seharusnya tidak hanya berkutat pada kesepakatan antara dua klub dan nilai uang. Menurut dia, setiap transaksi menyangkut masa depan seorang pemain yang memiliki karier, impian, dan pilihan hidup.
“Transfer seharusnya bukan sekadar urusan dua klub dan angka. Di balik setiap kontrak, ada seorang manusia, karier, impian, dan pilihan hidup,” katanya.
Agen tersebut mengakui klub memang memiliki kewenangan besar dalam sepak bola profesional. Namun, ia meminta agar kepentingan pemain tetap menjadi bagian penting dalam setiap proses negosiasi.
“Fakta bahwa klub terkadang bisa menjadi pihak yang memiliki keputusan akhir adalah kenyataan dalam sepak bola profesional,” ujar Kamara.
Kamara kemudian menyinggung kasus Sarr bersama Crystal Palace sekaligus upaya Chelsea mendatangkan pemain AS Monaco, Lamine Camara, yang juga berujung kegagalan.
Kamara menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa pemain tetap menjadi sosok utama di balik setiap keberhasilan dalam sepak bola. “Jangan pernah lupa apa yang paling penting. Di balik setiap kesuksesan, para pemainlah yang terlebih dahulu menulis sejarah,” tegas dia.
(Damar Pratama/Sumber: Tribal Football)
