Kehendak Bebas dan Psikologi Behaviorisme dalam Anime Psycho-Pass

Kehendak Bebas dan Psikologi Behaviorisme dalam Anime Psycho-Pass. (Foto: Tangkapan Layar Anime).

Kehendak Bebas dan Psikologi Behaviorisme dalam Anime Psycho-Pass. (Foto: Tangkapan Layar Anime)

GEBRAK.ID–Anime Jepang tidak hanya menawarkan hiburan melalui cerita aksi, fantasi, atau petualangan. Sejumlah judul justru menghadirkan persoalan filosofis dan psikologis yang kompleks. Salah satunya adalah Psycho-Pass, serial fiksi ilmiah yang mengajak penonton mempertanyakan kebebasan manusia dalam menentukan pilihan, pengaruh lingkungan terhadap perilaku, serta batas antara keamanan masyarakat dan kebebasan individu.

Melalui dunia distopia yang dikendalikan oleh Sibyl System, Psycho-Pass menggambarkan sebuah masyarakat yang menggunakan teknologi untuk mengukur kondisi psikologis dan memperkirakan kecenderungan seseorang melakukan kejahatan.

Konsep tersebut menarik jika dikaitkan dengan psikologi behaviorisme dan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Keduanya menawarkan perspektif yang berbeda mengenai perilaku manusia.

Behaviorisme menekankan bagaimana perilaku dibentuk oleh lingkungan, stimulus, pembelajaran, dan konsekuensi. Sementara itu, Freud menjelaskan perilaku manusia melalui dinamika antara id, ego, dan superego.

Jika kedua perspektif tersebut digunakan untuk membaca Psycho-Pass, Sibyl System dapat dilihat sebagai bentuk pengawasan eksternal yang berfungsi menyerupai superego. Sistem tersebut menetapkan batas mengenai perilaku yang dianggap benar atau salah, kemudian memberikan konsekuensi kepada individu yang dianggap menyimpang.

Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah manusia masih memiliki kehendak bebas ketika lingkungan dan sistem sosial terus-menerus menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan?

Mengenal Psycho-Pass

Psycho-Pass merupakan anime orisinal yang diproduksi oleh Production I.G. Serial pertamanya mulai ditayangkan pada 2012 dan memperkenalkan masyarakat Jepang di masa depan yang berada di bawah pengawasan Sibyl System.

Dalam dunia tersebut, pemerintah menggunakan teknologi untuk membaca kondisi mental masyarakat. Salah satu indikator utamanya adalah Psycho-Pass, yaitu gambaran mengenai kondisi psikologis seseorang dan tingkat risiko kriminal yang diperkirakan dimilikinya.

Jika tingkat risiko seseorang dianggap terlalu tinggi, aparat dapat mengambil tindakan meskipun orang tersebut belum melakukan tindak kriminal.

Konsep ini menjadi persoalan utama dalam cerita.

Seseorang dapat dianggap berbahaya bukan karena tindakan yang telah dilakukan, melainkan berdasarkan kemungkinan bahwa ia akan melakukan tindakan tertentu di masa depan.

Dengan demikian, Psycho-Pass mengubah pertanyaan hukum dari “Apa yang telah dilakukan seseorang?” menjadi “Apa yang mungkin dilakukan seseorang?”

Perubahan tersebut kemudian menjadi dasar berbagai konflik moral dalam cerita.

Psycho-Pass: Providence dan Konflik dengan Sibyl System

Psycho-Pass: Providence memperluas konflik yang telah dibangun dalam cerita sebelumnya. Film ini mengikuti Akane Tsunemori, seorang inspektur Departemen Investigasi Kriminal, ketika sebuah insiden kapal asing membuka jalan menuju kasus yang jauh lebih besar.

Dalam penyelidikan tersebut, ditemukan jenazah Profesor Milicia Stronskaya. Kelompok paramiliter bernama Peacebreakers kemudian muncul dan berusaha mendapatkan penelitian sang profesor yang dikenal sebagai Stronskaya Document.

Dokumen tersebut menyimpan informasi penting yang berkaitan dengan berbagai rahasia politik dan pemerintahan. Penyelidikan akhirnya membawa Akane kembali berhadapan dengan Shinya Kogami, mantan anggota Departemen Investigasi Kriminal.

Kasus tersebut semakin berkembang dan membawa mereka mendekati rahasia yang berkaitan dengan Sibyl System.

Di sinilah persoalan mengenai kehendak bebas, perilaku, dan kontrol sosial menjadi semakin relevan.

Kehendak Bebas dalam Dunia Psycho-Pass

Kehendak bebas atau free will dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menentukan pilihan dan tindakannya sendiri.

Dalam kehidupan normal, kita menganggap seseorang bertanggung jawab atas tindakannya karena ia dianggap memiliki pilihan. Seseorang yang melakukan kejahatan dihukum karena ia dianggap telah memilih untuk melakukan tindakan tersebut.

Namun, dunia Psycho-Pass menghadirkan persoalan yang berbeda.

Bagaimana jika sebuah sistem dapat memprediksi bahwa seseorang berpotensi melakukan kejahatan sebelum kejahatan tersebut terjadi?

Jika seseorang dinyatakan memiliki tingkat risiko kriminal yang tinggi, apakah ia masih dianggap bebas?

Persoalan tersebut menjadi semakin rumit karena penilaian Sibyl System dapat memengaruhi bagaimana masyarakat memperlakukan seseorang. Individu yang dianggap berbahaya dapat dijauhi, diawasi, atau bahkan ditangani oleh aparat sebelum melakukan tindakan kriminal.

Dengan demikian, sistem bukan hanya memprediksi perilaku. Sistem juga menciptakan lingkungan yang dapat memengaruhi perilaku tersebut.

Behaviorisme: Ketika Lingkungan Membentuk Perilaku

Dari perspektif behaviorisme, perilaku manusia sangat berkaitan dengan interaksi antara individu dan lingkungan. Behaviorisme dikritik keras dalam hal kehendak bebas (free will) karena teori ini secara radikal menolak keberadaan kehendak bebas tersebut.

Para tokoh behaviorisme, terutama B.F. Skinner, berargumen bahwa semua perilaku manusia sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan dan proses belajar masa lalu (seperti reward dan punishment). Konsep bahwa manusia memiliki kebebasan murni untuk memilih tindakan mereka dianggap sebagai ilusi belaka.

Dalam pendekatan ini, stimulus, proses pembelajaran, serta konsekuensi dapat memengaruhi munculnya suatu perilaku. Tindakan yang mendapatkan konsekuensi positif dapat semakin diperkuat, sementara tindakan yang menghasilkan konsekuensi negatif dapat berkurang.

Behaviorisme memperlakukan manusia seperti “kotak hitam” (black box). Kritik menganggap teori ini terlalu menyederhanakan manusia dengan mengabaikan proses mental internal seperti pikiran, emosi, keyakinan, dan niat yang sebenarnya melandasi sebuah keputusan.

Karena banyak eksperimen behaviorisme dilakukan pada hewan (seperti tikus dan merpati), para kritikus berargumen bahwa manusia memiliki tingkat kesadaran dan kapasitas pilihan yang jauh lebih kompleks yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan respons mekanis hewan.

Jika konsep ini diterapkan pada Psycho-Pass, masyarakat hidup dalam sebuah lingkungan yang memiliki sistem penghargaan dan hukuman yang sangat kuat.

Sibyl System menentukan perilaku apa yang dianggap aman dan perilaku apa yang dianggap berbahaya. Individu kemudian belajar menyesuaikan diri dengan standar tersebut.

Masyarakat tidak hanya takut melakukan kejahatan. Mereka juga takut memiliki kondisi psikologis yang membuat sistem menganggap mereka berpotensi melakukan kejahatan.

Akibatnya, masyarakat belajar mengendalikan perilaku dan kondisi mentalnya agar tetap berada dalam batas yang diterima sistem.

Dari sudut pandang behaviorisme, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk pengondisian perilaku dalam skala sosial.

Freud: Id, Ego, dan Superego

Untuk memahami Psycho-Pass lebih jauh, teori psikoanalisis Sigmund Freud juga dapat digunakan sebagai perspektif.

Freud membagi struktur kepribadian manusia menjadi tiga bagian utama, yaitu id, ego, dan superego.

Id merupakan bagian kepribadian yang berkaitan dengan dorongan dasar dan keinginan spontan. Id bekerja berdasarkan prinsip kenikmatan dan cenderung menginginkan pemuasan kebutuhan tanpa terlalu memikirkan aturan moral atau konsekuensi.

Ego berfungsi menghadapi realitas. Ego berusaha mencari jalan agar keinginan dari id dapat dipenuhi dengan mempertimbangkan kondisi nyata dan konsekuensi yang mungkin terjadi.

Sementara itu, superego berkaitan dengan nilai moral, norma, aturan, dan standar mengenai apa yang dianggap benar atau salah. Superego memberikan tekanan kepada individu untuk mengikuti nilai-nilai yang telah diinternalisasi.

Ketiga unsur tersebut terus berinteraksi dalam kehidupan psikologis manusia.

Jika digunakan sebagai kacamata untuk membaca Psycho-Pass, kita dapat melihat adanya kemiripan menarik antara fungsi superego dan Sibyl System.

Sibyl System sebagai Superego Eksternal

Sibyl System tidak secara harfiah merupakan superego menurut teori Freud. Namun, secara konseptual, sistem tersebut dapat dianalogikan sebagai semacam superego eksternal dalam masyarakat Psycho-Pass.

Superego bekerja dengan memberikan standar moral mengenai apa yang seharusnya dilakukan seseorang. Ia membuat individu merasa bersalah atau cemas ketika keinginannya bertentangan dengan norma.

Dalam Psycho-Pass, fungsi pengawasan tersebut sebagian besar berada di luar individu.

Sibyl System menentukan tingkat risiko seseorang dan menetapkan apakah kondisi psikologisnya masih dapat diterima oleh masyarakat. Ketika seseorang memiliki Crime Coefficient yang terlalu tinggi, sistem dapat memberikan konsekuensi.

Dengan demikian, sesuatu yang dalam kehidupan psikologis normal dapat muncul sebagai suara moral internal, dalam dunia Psycho-Pass sebagian dipindahkan menjadi mekanisme pengawasan sosial eksternal.

Masyarakat tidak hanya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah tindakan saya benar?”

Mereka juga harus mempertimbangkan, “Bagaimana Sibyl System akan menilai saya?”

Perbedaan ini sangat penting.

Dari Superego Internal Menjadi Pengawasan Eksternal

Dalam teori Freud, superego berkembang melalui proses internalisasi aturan dan nilai sosial. Anak belajar mengenai apa yang dianggap benar dan salah melalui orang tua, lingkungan, serta kebudayaan.

Seiring pertumbuhan, aturan tersebut tidak harus selalu diawasi secara langsung karena individu dapat mengawasi dirinya sendiri.

Psycho-Pass menggambarkan bentuk ekstrem dari gagasan tersebut.

Dalam masyarakat yang sepenuhnya percaya kepada Sibyl System, individu dapat menginternalisasi standar sistem hingga mereka mulai mengawasi diri sendiri.

Mereka berusaha menjaga kondisi psikologisnya agar tetap berada dalam batas yang dianggap aman. Bahkan, munculnya kecemasan terhadap kondisi mental sendiri dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak membutuhkan pengawasan aparat setiap saat.

Sistem sudah “hidup” dalam kesadaran masyarakat.

Di sinilah Sibyl System dapat dibaca sebagai semacam superego kolektif: sebuah mekanisme eksternal yang menentukan standar perilaku, mengawasi penyimpangan, dan memberikan hukuman ketika individu dianggap melampaui batas.

Ketika Superego Menjadi Terlalu Kuat

Teori Freud juga membantu menjelaskan persoalan lain dalam dunia Psycho-Pass.

Superego yang terlalu dominan dapat menekan keinginan dan dorongan individu. Dalam kerangka psikoanalisis, konflik antara id, ego, dan superego dapat menghasilkan kecemasan serta berbagai bentuk tekanan psikologis.

Jika masyarakat terus-menerus dituntut untuk memiliki kondisi psikologis yang “bersih”, individu dapat mengalami tekanan untuk selalu terlihat sehat, tenang, dan sesuai dengan standar sosial.

Masalahnya, manusia tidak selalu dapat mengontrol seluruh emosi dan pikirannya.

Marah, sedih, takut, frustrasi, iri, atau memiliki pikiran negatif merupakan bagian dari pengalaman manusia. Namun, dalam masyarakat Psycho-Pass, kondisi mental tertentu dapat menjadi ancaman terhadap status seseorang.

Akibatnya, manusia bukan hanya belajar mengendalikan tindakan, tetapi juga berusaha mengendalikan emosi dan pikirannya agar tidak dianggap menyimpang.

Ini menciptakan paradoks.

Semakin seseorang berusaha keras untuk menghindari pikiran atau emosi negatif, semakin besar kemungkinan ia mengalami tekanan psikologis karena merasa harus selalu berada dalam kondisi ideal.

Id, Ego, dan Karakter yang Menolak Sistem

Konflik antara id, ego, dan superego juga dapat digunakan untuk membaca karakter-karakter dalam Psycho-Pass.

Id dapat dipahami secara sederhana sebagai representasi dorongan dan keinginan individu. Ego berusaha mencari cara realistis untuk menghadapi dunia. Sedangkan superego memberikan batas moral dan norma.

Dalam dunia Psycho-Pass, batas tersebut tidak hanya berasal dari dalam diri manusia. Sibyl System ikut menentukan standar yang harus dipatuhi.

Karakter seperti Shinya Kogami menarik untuk dibaca melalui perspektif ini karena ia tidak sepenuhnya menerima standar sistem sebagai kebenaran mutlak.

Kogami memiliki dorongan, emosi, dan keinginan sendiri, tetapi ia juga mampu membuat keputusan berdasarkan penilaiannya terhadap keadaan. Sikap tersebut menunjukkan konflik antara individu dengan norma yang ditentukan oleh sistem.

Sementara itu, Akane Tsunemori menjadi karakter yang menarik karena ia berada di dalam sistem tetapi tetap mampu mempertanyakan keputusan dan batas moralnya.

Akane tidak hanya menerima apa yang dikatakan Sibyl System. Ia menggunakan penilaian dan pertimbangan moralnya sendiri.

Di sinilah ego dalam pengertian Freud dapat menjadi metafora yang menarik: individu harus bernegosiasi antara dorongan pribadi, tuntutan realitas, dan tuntutan moral.

Behaviorisme dan Freud: Dua Cara Melihat Manusia

Behaviorisme dan psikoanalisis Freud memiliki pendekatan yang berbeda.

Behaviorisme lebih menekankan perilaku yang dapat diamati serta pengaruh lingkungan terhadap perilaku. Sementara Freud lebih menekankan dinamika psikologis dan konflik antara berbagai bagian kepribadian.

Psycho-Pass dapat dibaca melalui kedua perspektif tersebut.

Dari sudut pandang behaviorisme, Sibyl System menciptakan lingkungan yang penuh dengan stimulus dan konsekuensi. Individu belajar untuk berperilaku sesuai dengan aturan karena penyimpangan dapat menghasilkan hukuman.

Dari perspektif Freud, Sibyl System dapat dianalogikan sebagai superego eksternal yang menetapkan standar moral dan memaksa individu untuk menyesuaikan diri.

Kedua perspektif tersebut kemudian bertemu dalam satu persoalan: bagaimana kebebasan manusia ketika perilaku mereka dibentuk oleh lingkungan dan diawasi oleh sistem moral eksternal?

Apakah Manusia Masih Memiliki Kehendak Bebas?

Psycho-Pass tidak memberikan jawaban sederhana mengenai kehendak bebas.

Jika perilaku manusia dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, lingkungan, kondisi psikologis, proses pembelajaran, dan aturan sosial, maka kebebasan manusia memang tidak pernah benar-benar berada dalam ruang kosong.

Namun, manusia tetap memiliki kemampuan untuk merefleksikan kondisi tersebut.

Inilah yang membuat beberapa karakter Psycho-Pass menarik. Mereka tidak hanya menerima prediksi sistem, tetapi mempertanyakan apakah prediksi tersebut harus menentukan masa depan mereka.

Perbedaan antara “diprediksi akan melakukan sesuatu” dan “memilih untuk melakukan sesuatu” menjadi sangat penting.

Seseorang mungkin memiliki kecenderungan tertentu, tetapi kecenderungan bukanlah tindakan. Prediksi bukanlah kepastian.

Di sinilah Psycho-Pass mempertahankan gagasan bahwa manusia mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor, tetapi belum tentu sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor tersebut.

Ketika Prediksi Justru Membentuk Perilaku

Ada persoalan yang lebih dalam lagi.

Jika seseorang terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya berbahaya, masyarakat mungkin akan memperlakukannya sebagai orang berbahaya. Perlakuan tersebut kemudian dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perilakunya.

Dengan demikian, sistem prediksi dapat menciptakan sebuah lingkaran.

Sistem memprediksi seseorang berisiko. Masyarakat memperlakukan orang tersebut berdasarkan prediksi. Individu mengalami tekanan akibat perlakuan tersebut. Kondisi psikologisnya berubah. Kemudian perubahan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa prediksi sistem memang benar.

Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan tentang kehendak bebas menjadi semakin sulit.

Apakah seseorang benar-benar melakukan tindakan tersebut karena pilihan bebas, atau karena lingkungan yang dibangun berdasarkan prediksi telah membentuk pilihan tersebut?

Psycho-Pass menggunakan pertanyaan ini untuk menunjukkan bahaya ketika prediksi statistik diperlakukan sebagai kebenaran mutlak tentang manusia.

Kesimpulan

Psycho-Pass dapat dipahami bukan hanya sebagai anime tentang kriminalitas dan teknologi, tetapi juga sebagai eksplorasi mengenai psikologi manusia dan kebebasan.

Dari perspektif behaviorisme, dunia Psycho-Pass menunjukkan bagaimana lingkungan, stimulus, pembelajaran, dan konsekuensi dapat membentuk perilaku masyarakat.

Dari perspektif Sigmund Freud, Sibyl System dapat dianalogikan sebagai bentuk superego eksternal yang menentukan batas moral dan perilaku yang dianggap dapat diterima. Jika superego dalam diri manusia memberikan standar moral secara internal, Sibyl System melakukan fungsi serupa dalam skala sosial melalui teknologi pengawasan.

Namun, persoalan utamanya adalah apa yang terjadi ketika superego tersebut menjadi terlalu kuat.

Ketika masyarakat tidak lagi mampu membedakan antara moralitas, kepatuhan, dan hasil pengukuran sebuah sistem, kebebasan individu dapat semakin menyempit. Manusia akhirnya bukan hanya takut melakukan kejahatan, tetapi juga takut memiliki pikiran atau emosi yang dianggap tidak sesuai dengan standar.

Di sisi lain, karakter-karakter dalam Psycho-Pass menunjukkan bahwa manusia tidak selalu dapat direduksi menjadi angka, prediksi, atau hasil pengukuran psikologis.

Manusia memiliki kemampuan untuk mempertanyakan aturan, melakukan refleksi, dan mengambil keputusan yang mungkin bertentangan dengan prediksi lingkungan maupun sistem.

Karena itu, pertanyaan terbesar Psycho-Pass bukan sekadar apakah seseorang akan melakukan kejahatan.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: jika sebuah sistem dapat menentukan siapa yang dianggap berbahaya, mengatur perilaku masyarakat, dan memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri, apakah manusia masih benar-benar bebas untuk menentukan siapa dirinya?

(Damar Pratama/Berbagai Sumber).