Kualitas Udara Bandara Soekarno-Hatta Masih Tidak Sehat, PM2.5 Jadi Sorotan

1788957420929

Konsentrasi PM2.5 masih menjadi perhatian setelah paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. (Foto: ist)

GEBRAK.ID,TANGERANG — Kualitas udara di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, masih menjadi perhatian pemerintah. Hasil pengukuran Kementerian Kesehatan menunjukkan konsentrasi partikel halus atau PM2.5 di sejumlah titik masih berada di atas kondisi normal.

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono melakukan pemeriksaan langsung terhadap kualitas udara di lingkungan bandara, termasuk di area Terminal 2F. Pengukuran tersebut dilakukan di tengah kondisi kawasan Banten dan sekitarnya yang sebelumnya terdampak sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Partikel PM2.5 menjadi salah satu indikator penting karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Kualitas Udara Masih Menjadi Perhatian

Pengukuran di sejumlah area terbuka dan apron Bandara Soekarno-Hatta menunjukkan konsentrasi PM2.5 masih berada di atas ambang normal. Kondisi tersebut menandakan kualitas udara di kawasan bandara belum sepenuhnya kembali seperti kondisi normal.

Temuan ini menjadi perhatian khusus karena Bandara Soekarno-Hatta merupakan salah satu pintu masuk utama Indonesia dengan aktivitas penumpang yang sangat tinggi. Sebelumnya, pemerintah juga telah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda dan Banten.

BMKG pada 6 September 2026 menyebut hasil analisis citra satelit menunjukkan adanya sebaran abu vulkanik yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Kondisi atmosfer tersebut juga sempat berdampak langsung terhadap sektor penerbangan.

Bandara Sempat Ditutup akibat Abu Vulkanik

Kementerian Perhubungan sebelumnya menutup sementara sejumlah bandara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, termasuk Bandara Soekarno-Hatta. Penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan penerbangan. Pemerintah ketika itu melakukan pemantauan terhadap sebaran abu dan kondisi fasilitas bandara sebelum operasional kembali dibuka.

Kementerian Perhubungan menyatakan operasional Bandara Soekarno-Hatta dan sejumlah bandara terdampak kembali berjalan mulai Selasa, 8 September 2026 pukul 00.01 WIB. Meski demikian, pembukaan tersebut disertai sejumlah catatan keselamatan.

Otoritas bandara dan maskapai diminta melakukan inspeksi terhadap pesawat, sementara pilot dan kru wajib mengetahui wilayah udara yang dibatasi karena masih berpotensi mengandung abu vulkanik.

PM2.5 Berbeda dengan Abu yang Terlihat Mata

Kondisi udara yang masih kurang baik tidak selalu berarti masyarakat dapat melihat adanya debu atau abu secara kasatmata.

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat berasal dari berbagai sumber. BMKG menjelaskan kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2.5 dapat masuk kategori tidak sehat ketika konsentrasinya berada pada rentang tertentu.

Dalam informasi kualitas udara BMKG, kategori ekstrem mencakup kondisi tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya, yang ditentukan berdasarkan konsentrasi PM2.5. Karena ukurannya sangat kecil, paparan PM2.5 menjadi perhatian dari sisi kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit kardiovaskular.

Abu Vulkanik Masih Dipantau

Meskipun operasional Bandara Soekarno-Hatta telah kembali berjalan, pemerintah belum menghentikan pemantauan terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. BMKG menyatakan pemantauan terhadap aktivitas gunung dan sebaran abu vulkanik dilakukan secara intensif, termasuk untuk mengetahui dampaknya terhadap atmosfer dan penerbangan.

Dalam perkembangan sebelumnya, sebaran abu bahkan membuat delapan bandara terdampak. Kementerian Perhubungan mencatat hingga 7 September 2026 sekitar 2.300 penerbangan dan 270.337 penumpang terdampak akibat gangguan operasional yang berkaitan dengan sebaran abu vulkanik.

Dengan kondisi tersebut, pengukuran kualitas udara di Bandara Soekarno-Hatta menjadi bagian penting untuk memastikan aspek kesehatan tetap diperhatikan setelah aktivitas penerbangan kembali normal. Pemerintah juga mengimbau masyarakat tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara dan sebaran abu vulkanik, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.

(Dinar K/ berbagai sumber)