STEM Bukan Sekadar Teori, Murid SMAN 2 Surabaya Ubah Masalah Lingkungan Jadi Solusi
Pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) tidak harus berlangsung dengan teori yang rumit di dalam kelas. Di SMA Negeri 2 Surabaya, pendekatan tersebut justru membawa murid untuk melihat persoalan di sekitar, merancang gagasan, menguji solusi, hingga menciptakan produk yang bisa digunakan. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, SURABAYA — Pembelajaran Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) tidak harus berlangsung dengan teori yang rumit di dalam kelas. Di SMA Negeri 2 Surabaya, pendekatan tersebut justru membawa murid untuk melihat persoalan di sekitar, merancang gagasan, menguji solusi, hingga menciptakan produk yang bisa digunakan.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mendorong penerapan STEM sebagai pendekatan pembelajaran yang membuat murid lebih peka terhadap persoalan lingkungan sekaligus terbiasa mencari solusi melalui pengetahuan yang mereka miliki.
Budaya belajar seperti itu terlihat dari berbagai proyek yang dikembangkan murid SMA Negeri 2 Surabaya. Persoalan fisika, keterbatasan lahan, polusi, hingga pengelolaan air menjadi bahan yang mereka olah menjadi karya.
Guru Fisika SMA Negeri 2 Surabaya Neny Else Josephine memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) untuk membuat pembelajaran lebih menarik. Murid diajak mengembangkan simulator fisika berbasis permainan dengan memanfaatkan perangkat dan perangkat lunak sederhana yang tersedia secara gratis di internet.
“Mereka memanfaatkan tools yang sangat sederhana dan gratis di internet, tetapi hasilnya sangat di luar ekspektasi. Anak-anak meluncur lebih jauh dalam mengeksplorasi konsep fisika yang dikembangkan dalam lab virtual,” ujar Neny seperti dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Salah satu murid kelas XII, Reynaldo, kemudian mengembangkan laman interaktif untuk memperluas materi fisika yang tidak tersedia dalam sejumlah perangkat pembelajaran daring.
“Dari laman interaktif inilah kita bisa mendalami ilmu-ilmu fisika yang di beberapa tools internet tidak tersedia. Jadi selain untuk memahami, kita juga menambah alat baru yang terbuka untuk umum dan bisa digunakan bersama,” jelas Reynaldo.
Proyek lain muncul dari persoalan lingkungan perkotaan. Guru Matematika SMA Negeri 2 Surabaya Nimas Izmi Aufa menggabungkan matematika dan fisika melalui rancangan miniatur kota berbasis energi terbarukan.
Menurut Nimas, STEM membuat murid berhadapan dengan masalah yang benar-benar mereka temui sehingga proses belajar tidak berhenti pada teori.
“Anak-anak jadi lebih kritis dalam menghadapi atau membaca sesuatu. Kemampuan literasi anak-anak juga semakin meningkat. Karena diberikan permasalahan-permasalahan kontekstual yang benar-benar nyata, jadi mereka mau membaca dan mencari,” jelas Nimas.
Murid kelas XI Ananda Aqila Zahir Diptyo, misalnya, mengembangkan konsep miniatur pulau reklamasi sebagai sumber energi terbarukan sekaligus ruang hutan kota. Gagasan itu berangkat dari persoalan polusi dan keterbatasan lahan yang dihadapi Surabaya.
Proyek pengelolaan air juga dikembangkan Khalisha Zahratus Syita melalui “Morico”. Sistem tersebut menampung air hujan, mengolahnya melalui kolam pengendapan dengan biji kelor sebagai biokoagulan, kemudian melakukan filtrasi dan pemantauan menggunakan sensor pH serta kekeruhan.
“Karena saya memiliki ketertarikan di bidang engineering, saya suka ketika ada isu-isu mengenai lingkungan yang bisa saya selesaikan. Ketika saya menemukan masalah dan saya bisa menemukan solusinya, saya merasa senang,” ujar Khalisha.
Guru Kimia SMA Negeri 2 Surabaya Bahrul Ulum mengatakan berbagai proyek tersebut berangkat dari ketertarikan murid terhadap lingkungan sekitar. Materi kimia hijau, termasuk prinsip pencegahan limbah, kemudian dikaitkan dengan persoalan nyata agar murid memahami manfaat ilmu yang mereka pelajari.
Penerapan STEM akhirnya tidak hanya menghasilkan produk. Murid juga belajar membaca masalah, menguji gagasan, menerima kegagalan, memperbaiki rancangan, dan menyampaikan hasilnya kepada orang lain.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis persoalan nyata dapat membuat proses belajar lebih bermakna. Pengetahuan akademik pun tidak berhenti sebagai teori, tetapi berubah menjadi bekal bagi murid untuk menciptakan solusi bagi lingkungan dan menghadapi tantangan masa depan.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
