Super Flu H3N2 Terdeteksi di 13 Provinsi, IDAI Ingatkan Risiko Serius pada Anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala influenza pada anak. (Foto ilustrasi: Pixabay)
GEBRAK.ID — Influenza A H3N2 subclade K yang belakangan populer disebut “Super Flu” masih terdeteksi di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat subclade tersebut ditemukan di 13 provinsi, dengan Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan temuan terbanyak dalam pemantauan.
Laporan surveilans Kemenkes pada minggu epidemiologi ke-35 juga menunjukkan influenza masih beredar. Dari 119 spesimen yang diperiksa, terdapat 32 kasus positif influenza, terdiri atas empat kasus Influenza A(H3N2), 27 kasus A(H1N1)pdm09, dan satu kasus Influenza B Victoria. Sebaran H3N2 subclade K tetap tercatat di 13 provinsi.
Kemenkes sebelumnya menegaskan H3N2 subclade K bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman yang beredar pada manusia. WHO juga mengategorikan subclade K sebagai virus influenza A(H3N2) musiman.
Di tengah peningkatan aktivitas influenza, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala influenza pada anak. Kelompok usia tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi bergejala maupun komplikasi.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus,” ujar Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), dalam keterangan pers, Selasa (22/9/2026).
Anak juga dapat melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam waktu lebih lama. Kondisi ini membuat lingkungan keluarga dan sekolah berpotensi menjadi tempat penularan.
Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menekankan pentingnya deteksi dan penanganan sejak dini. Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat berkembang menjadi pneumonia, memperberat asma, hingga menyebabkan miokarditis dan ensefalopati.
“Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus. Terapi antivirus neuraminidase inhibitor, seperti oseltamivir, efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul,” kata Prof Anggraini.
WHO memperkirakan influenza musiman menyebabkan sekitar 1 miliar kasus setiap tahun di dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 3-5 juta kasus berkembang menjadi penyakit berat dan 290.000-650.000 kematian setiap tahun berkaitan dengan gangguan pernapasan akibat influenza.
Karena itu, IDAI mendorong pencegahan melalui vaksinasi influenza tahunan, etika batuk, mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, serta memastikan anak beristirahat di rumah ketika mengalami gejala.
“Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih,” ujar Prof Anggraini menandaskan.
(Devona R/Sumber: IDAI)
