Yusril Buka Suara Soal Buku Islam ala Prabowo: Saya Bukan Penulis, Hanya Narasumber

Yusril-Ihza-Mahendra-Presiden-Tidak-Harus-Cuti-Ketika-Menjadi-Petahana

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, angkat bicara mengenai buku berjudul "Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" yang kembali menjadi perhatian publik. (Foto: setkab.go.id)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, angkat bicara mengenai buku berjudul “Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam” yang kembali menjadi perhatian publik.

Yusril menegaskan dirinya bukan penulis buku tersebut. Keterlibatannya hanya sebagai narasumber yang memberikan keterangan kepada tim penyusun melalui sebuah wawancara.

“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” kata Yusril saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (7/9/2026).

Menurut Yusril, wawancara tersebut berlangsung cukup lama sebelum dirinya dilantik sebagai menteri dalam Kabinet Merah Putih. Setelah wawancara selesai, dia mengaku tidak pernah melihat transkrip maupun naskah hasil wawancara hingga buku tersebut diterbitkan.

Yusril baru membaca buku itu secara utuh setelah kembali menjadi sorotan. Dari hasil pembacaan tersebut, dia menilai sebagian besar pandangan yang disampaikannya dalam wawancara telah dituangkan dengan cukup baik.

“Saya baru membaca buku itu secara utuh sampai selesai. Apa yang saya sampaikan dalam wawancara tersebut merupakan pandangan saya dan tentu dapat saya pertanggungjawabkan secara akademik,” jelas Yusril.

Secara umum, Yusril juga tidak melihat persoalan mendasar dalam substansi buku tersebut. Menurut dia, polemik yang muncul lebih banyak berkaitan dengan judul buku yang dapat memunculkan beragam persepsi dan tafsir di tengah masyarakat.

Yusril mengaku tidak pernah diajak berdiskusi mengenai judul buku tersebut. Karena itu, dia menilai keputusan mengenai judul sepenuhnya menjadi kewenangan pihak yang menyusun dan menerbitkannya.

“Kalau saya ditanya mengenai judulnya, saya tidak tahu, karena memang tidak pernah diajak membicarakannya. Kalau judulnya misalnya ‘Prabowo dan Islam’, menurut saya akan lebih mudah dipahami sebagai pembahasan mengenai hubungan Prabowo dengan Islam,” ujar Yusril.

Yusril juga mengingatkan masyarakat agar tidak menilai sebuah buku hanya berdasarkan judul. Terlebih, karya yang memiliki muatan akademik perlu dibaca secara utuh agar pembaca memahami konteks dan substansi yang sebenarnya.

“Sekarang orang cenderung tidak sabar membaca buku yang cukup panjang. Judulnya dibaca, lalu dianggap sudah mewakili seluruh isi buku,” katanya.

Yusril menambahkan, dirinya tidak terlibat dalam penggagasan ataupun pembiayaan penerbitan buku tersebut. Dia juga menyebut pencantuman namanya dalam bagian hak cipta tidak pernah dibicarakan sebelumnya.

“Posisi saya dalam buku itu jelas sebagai orang yang diwawancarai. Saya bukan sponsor dan bukan pula orang yang menginisiasi penerbitannya,” tegas Yusril.

Buku Islam ala Prabowo diluncurkan dalam rangkaian Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) 2025 di Jakarta pada 26 Agustus 2025. Dalam keterangan BAZNAS saat peluncuran, penulisan buku tersebut diinisiasi Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua MUI Kiai Haji Anwar Iskandar.

Terkait hak cipta, Yusril tidak mempermasalahkannya secara khusus. Dia menduga pencantuman namanya berkaitan dengan materi wawancara yang dimuat dalam buku.

“Kalau pun ada, mungkin berkaitan dengan bagian wawancara saya, tetapi mengenai pencantuman itu saya tidak pernah diajak bicara. Saya sendiri tidak terlalu mempersoalkan soal hak cipta,” cetus Yusril.

Yusril berharap publik membedakan substansi buku dengan persepsi yang muncul akibat pilihan judul. Baginya, pandangan yang dia sampaikan dalam wawancara merupakan tanggung jawab akademiknya dan dia tidak keberatan jika pandangan tersebut dimuat dalam buku.

“Saya tidak keberatan pandangan tersebut dimuat dan saya siap mempertanggungjawabkannya secara akademik,” ujar Yusril menandaskan.

(A. Rayyan K/Berbagai Sumber)