Kolaborasi IP Global dan Kreator Lokal Makin Menjanjikan, Wamen Ekraf Sebut Peluang Bisnis Baru Terbuka
![]() |
| Salah satu stan kreator lokal pada HoYo FEST 2026 di Pondok Indah Mall 3, Jakarta, Sabtu (1/8/2026) (Foto: Kementerian Ekonomi Kreatif) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, JAKARTA — Kolaborasi antara pemilik kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) global dengan kreator lokal dinilai menjadi peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Melalui skema lisensi resmi, para kreator kini memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya bernilai komersial sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar saat menyoroti penyelenggaraan HoYo FEST 2026 yang digelar di Jakarta, Sabtu (1/8/2026). Menurutnya, model kerja sama berbasis lisensi seperti ini mampu menciptakan ekosistem bisnis baru yang saling menguntungkan bagi pemilik IP maupun pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.
“HoYo FEST menunjukkan bahwa kolaborasi antara IP global dan kreator lokal mampu menciptakan nilai ekonomi yang saling menguntungkan. Inisiatif seperti ini membuka ruang yang lebih luas bagi talenta Indonesia untuk menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai komersial sekaligus menjangkau pasar yang lebih besar,” ujar Irene dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).
Irene menjelaskan, pemanfaatan kekayaan intelektual kini tidak lagi terbatas pada industri gim. Lisensi resmi juga membuka peluang di berbagai subsektor ekonomi kreatif, seperti kriya, ilustrasi, desain, hingga produksi merchandise.
Dengan skema tersebut, kreator lokal dapat memproduksi berbagai produk resmi berbasis karakter gim global tanpa melanggar hak cipta. Di sisi lain, karya mereka memiliki nilai jual yang lebih tinggi karena menggunakan lisensi yang sah.
Pada HoYo FEST 2026, sebanyak 71 pelaku ekonomi kreatif ambil bagian dalam Artist Alley yang menghadirkan sekitar 50 stan. Seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil kolaborasi kreator Indonesia dengan IP milik HoYoverse melalui lisensi resmi.
Menurut Irene, model bisnis semacam ini menjadi terobosan penting karena memberi ruang bagi kreator untuk memperoleh keuntungan ekonomi dari karya mereka, sekaligus tetap menghargai sistem perlindungan hak kekayaan intelektual.
Irene berharap kerja sama serupa dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak pemilik IP internasional. Langkah tersebut diyakini akan mempercepat pertumbuhan industri kreatif nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif di kawasan Asia.
Sementara itu, Associate Brand Director HoYoverse Indonesia/COGNOSPHERE PTE. LTD, Aswin Atonie, mengungkapkan HoYo FEST 2026 mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Sejak dibuka pada 30 Juli 2026, acara tersebut telah dikunjungi lebih dari 9.500 orang. Tingginya antusiasme itu menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat lahir dari kolaborasi antara industri gim, komunitas, dan kreator lokal.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas seperti ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak talenta kreatif Indonesia yang memiliki kesempatan untuk berkarya, berkembang, dan dikenal di tingkat yang lebih luas,” kata Aswin.
Selain menjadi ajang berkumpulnya komunitas penggemar gim, HoYo FEST juga menjadi etalase bagi kreator Indonesia untuk memperkenalkan produk kreatif mereka kepada pasar yang lebih luas.
Pemerintah menilai kolaborasi berbasis lisensi IP merupakan salah satu model bisnis yang berkelanjutan karena mampu melahirkan peluang usaha baru, meningkatkan daya saing kreator lokal, serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional.
(Sumber: Kementerian Ekonomi Kreatif)

