Paus dan Lumba-lumba Kian Sering Terdampar, Perubahan Laut Jadi Alarm Bahaya?

paus-terdampar-di-banyuwangi-penyebab-dan-kondisi-terkini_169

Seekor paus terdampar di Banyuwangi, tepatnya di Dermaga Hotel Ketapang Indah, Ketapang, Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Antara/Budi Chandra S)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA — Fenomena paus dan lumba-lumba terdampar di pesisir kembali menjadi perhatian. Peristiwa tersebut tidak selalu menunjukkan satu penyebab tertentu, tetapi dapat menjadi gambaran adanya tekanan terhadap kehidupan mamalia laut.

Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr Meutia Ismet, menjelaskan bahwa kejadian terdampar memiliki penyebab yang kompleks. Faktor biologis, perubahan lingkungan, hingga aktivitas manusia dapat saling berkaitan dalam satu kasus.

“Penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa penyebab mamalia laut terdampar sangat kompleks. Pada setiap kasus, faktor yang berperan bisa berbeda dan saling memengaruhi,” kata Meutia dalam laman IPB University, dikutip Minggu (16/8/2026).

Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terdampar berasal dari kondisi kesehatan hewan. Infeksi bakteri dan parasit dapat melemahkan sistem tubuh paus maupun lumba-lumba.

Sejumlah penelitian menemukan adanya mamalia laut terdampar dengan tingkat akumulasi parasit yang tinggi. Kondisi tersebut dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan berpotensi memengaruhi fungsi kognitif serta kemampuan navigasi.

Infeksi bakteri tertentu, termasuk yang berkaitan dengan meningitis, juga dapat mengganggu kemampuan mamalia laut dalam menggunakan sistem sonar untuk mengenali lingkungan sekitar.

Gangguan navigasi tidak hanya berkaitan dengan penyakit. Paparan racun dari ledakan alga berbahaya serta akumulasi logam berat di laut juga dapat memengaruhi sistem saraf dan kemampuan orientasi mamalia laut.

Perubahan Iklim Mengubah Jalur Migrasi

Perubahan iklim turut memberikan tekanan terhadap ekosistem laut. Kenaikan suhu perairan dapat mengubah persebaran fitoplankton, kril, dan ikan yang menjadi sumber makanan bagi berbagai jenis mamalia laut.

Perubahan ketersediaan makanan kemudian mendorong paus dan lumba-lumba menyesuaikan jalur migrasi. Mereka harus bergerak lebih jauh untuk menemukan sumber pakan yang sesuai.

“Perubahan jalur migrasi membuat mereka mengeluarkan energi lebih besar. Ketika memasuki wilayah yang kurang dikenali, risiko kelelahan, kesalahan navigasi, hingga akhirnya terdampar juga meningkat,” kata Meutia.

Tekanan dari Aktivitas Manusia

Aktivitas manusia di laut juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Pencemaran, sampah plastik, penangkapan ikan yang tidak selektif atau bycatch, hingga masuknya limbah organik dapat mengubah kondisi perairan.

Limbah organik dalam jumlah besar dapat memicu ledakan populasi alga berbahaya. Beberapa jenis alga menghasilkan neurotoksin yang mampu mengganggu sistem saraf mamalia laut.

Selain itu, karakter sosial paus dan lumba-lumba juga dapat membuat satu kejadian terdampar berkembang menjadi peristiwa yang melibatkan banyak individu.

Mamalia laut tersebut dikenal hidup dalam kelompok. Ketika salah satu anggota mengalami gangguan orientasi atau terdampar, individu lain dapat mendekat dan mengikuti kelompoknya. Kondisi ini berpotensi menyebabkan lebih banyak hewan ikut terdampar.

Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung panik ketika menemukan paus atau lumba-lumba terdampar di pesisir.

Meutia mengingatkan masyarakat agar mengutamakan keselamatan diri dan tidak melakukan tindakan yang justru dapat membahayakan manusia maupun hewan.

Masyarakat sebaiknya segera melaporkan kejadian tersebut kepada instansi atau pihak berwenang agar proses penanganan dapat dilakukan oleh petugas yang memiliki kompetensi.

Fenomena terdamparnya paus dan lumba-lumba memang tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda bahwa seluruh kondisi laut sedang memburuk. Namun, setiap kejadian tetap penting dicatat dan diteliti karena dapat membantu ilmuwan memahami perubahan kesehatan mamalia laut serta kondisi ekosistem perairan.

(Sumber: IPB)