Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali Saat HUT Ke-81 RI, Status Masih Siaga
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, erupsi. (Foto ilustrasi: AI)
Editor: Saeful Imam
GEBRAK.ID, LAMPUNG SELATAN — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, masih menunjukkan peningkatan. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat gunung api tersebut mengalami 20 kali erupsi sepanjang 17 Agustus 2026.
Meski bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berlangsung dan mendapat pemantauan intensif selama 24 jam.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan aktivitas gunung api masih bersifat fluktuatif.
“Hari ini tidak ada. Tanggal 17 Agustus 2026 kemarin terjadi erupsi sebanyak 20 kali. Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih fluktuatif, sehingga pemantauan dilakukan selama 24 jam,” kata Suwarno, Selasa (18/8/2026).
Menurut dia, petugas terus mengamati kondisi Gunung Anak Krakatau melalui pemantauan visual dan peralatan instrumental. Hasil pengamatan masih merekam aktivitas kegempaan serta hembusan dari gunung api tersebut.
Kondisi itu menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya mereda. Karena itu, petugas terus mengikuti setiap perubahan aktivitas untuk memastikan langkah mitigasi berjalan sesuai perkembangan di lapangan.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga
PVMBG masih menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Status tersebut naik dari Level II atau Waspada setelah terjadi peningkatan aktivitas vulkanik pada awal Juli 2026.
Suwarno menjelaskan, status Siaga membuat masyarakat dan seluruh pihak yang beraktivitas di sekitar Gunung Anak Krakatau perlu mematuhi rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan otoritas vulkanologi.
“Masyarakat, wisatawan maupun nelayan diimbau tidak beraktivitas dalam radius yang telah direkomendasikan oleh otoritas vulkanologi guna menghindari risiko yang dapat ditimbulkan akibat erupsi maupun lontaran material vulkanik,” ujarnya.
Secara khusus, PVMBG meminta nelayan dan wisatawan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer dari kawah.
“Gunung Anak Krakatau masih dalam status level III, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah, Gunung Anak Krakatau,” kata Suwarno.
Selain menjaga jarak dari kawasan kawah, nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta memperhatikan perkembangan informasi resmi sebelum melaut. Kondisi cuaca turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menjaga keselamatan.
Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi 4 Kali Sehari, Kolom Abu Tembus 300 Meter, Status Siaga Dipertahankan
Masyarakat juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang belum terverifikasi. Informasi dari PVMBG dan lembaga berwenang menjadi rujukan utama dalam menentukan langkah keselamatan.
Pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau akan terus berlangsung untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkaniknya. Kondisi gunung api yang masih fluktuatif membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda.
(Sumnber: PVMBG)
