34 Tahun Berlalu, Skripsi Rudi Fajar tentang AI dari Unpad Kini Viral di Media Sosial
Alumnus FEB Unpad, Rudi Fajar, yang membahas AI di skripsinya pada 1992 silam. (Foto: FEB Universitas Padjadjaran)
Editor: Yogi Ardhi
GEBRAK.ID, BANDUNG — Ketika artificial intelligence atau AI belum menjadi bagian dari percakapan teknologi sehari-hari, Rudi Fajar sudah membahasnya dalam skripsi.
Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad) itu menyusun skripsi tentang pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membantu pekerjaan akuntan pada Juli 1992. Kini, 34 tahun kemudian, karya tersebut kembali mencuri perhatian dan viral di media sosial.
Skripsi Rudi berjudul Artificial Intelligence sebagai Alat Bantu Akuntan Publik dalam Pemilihan Prosedur Pemeriksaan Piutang. Topik tersebut tergolong sangat maju untuk ukuran awal dekade 1990-an, ketika akses terhadap teknologi dan literatur mengenai AI masih sangat terbatas.
Rudi mengaku ketertarikannya bermula ketika mengikuti perkuliahan System Management. Dalam mata kuliah tersebut, ia menemukan pembahasan singkat mengenai artificial intelligence dan expert system.
“Waktu itu kan masih muda, penuh dengan rasa ingin tahu, penuh dengan idealisme keilmuan, dan utamanya tertantang,” ujar Rudi, dikutip dari laman resmi FEB Unpad, Rabu (19/8/2026).
Satu paragraf dalam materi kuliah kemudian memantik rasa ingin tahunya. Saat itu, AI disebut sebagai salah satu bentuk perkembangan paling canggih dalam program komputer di masa depan.
“Ada satu paragraf yang membahas selintas mengenai artificial intelligence, yang mengatakan bahwa pada masa depan tingkatan yang paling canggih dari program komputer adalah penggunaan artificial intelligence dan expert system,” jelasnya.
Literatur AI Harus Dicari hingga Singapura
Rudi menghadapi tantangan besar ketika mulai mengembangkan gagasannya. Berbeda dengan kondisi saat ini, informasi mengenai AI pada awal 1990-an masih sangat sulit ditemukan.
Ia bahkan tidak menemukan literatur yang dibutuhkan di Bandung maupun Jakarta. Demi mendapatkan bahan penelitian, Rudi kemudian mencari referensi hingga ke Singapura.
“Saya tidak menemukan referensinya di Bandung maupun Jakarta, karena sudah kepalang basah, saya mencari literatur ke Singapura dan mendapatkan dua sampai tiga buku yang saya perlukan,” kenangnya.
Dalam penelitiannya, Rudi mencoba melihat bagaimana AI dapat membantu akuntan publik mengambil keputusan dalam proses pemeriksaan piutang.
Ia memiliki keyakinan bahwa semakin lengkap data yang tersedia, semakin baik pula informasi yang dapat diolah oleh sistem komputer. Konsep tersebut kini menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan teknologi berbasis data.
“Saya meyakini jika data besar dan lengkap, maka proses pengolahan informasi akan lebih lengkap, lebih akurat, dan mengurangi human error. Semakin banyak data maka akan semakin pintar dan akurat,” kata Rudi.
Tak Berjalan Sendiri, Dibantu Mahasiswa ITB
Untuk mewujudkan gagasannya dalam bentuk program komputer, Rudi mendapat bantuan dari teman kosnya yang ketika itu merupakan mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB).
Keduanya kemudian mengembangkan sebuah program sederhana menggunakan perangkat lunak Clipper Summer ’87.
Program tersebut mereka arahkan untuk membantu proses pemilihan sampel dalam pemeriksaan piutang. Bagi Rudi, program yang dibuat pada 1992 itu memang tidak bisa begitu saja disamakan dengan teknologi AI modern.
Namun, Rudi melihat ada gagasan awal yang memiliki kemiripan dengan prinsip AI saat ini. “Dikaitkan dengan AI dengan definisi saat ini tentu akan debatable. Program tersebut lebih tepatnya embrio atau cikal-bakal AI,” ujarnya.
Meski sederhana, konsep yang dibawa Rudi cukup relevan dengan perkembangan teknologi sekarang. Ia mencoba memanfaatkan data dan sistem komputer untuk membantu manusia dalam mengambil keputusan.
Skripsi 1992 Viral di Era AI
Rudi menegaskan bahwa sejak awal dirinya tidak memiliki ambisi menciptakan teknologi besar melalui skripsi tersebut. Ia hanya ingin menyampaikan sebuah gagasan melalui contoh yang sederhana dan mudah dipahami.
Namun, perkembangan teknologi kemudian membuat gagasan tersebut terlihat semakin relevan.
Setelah lebih dari tiga dekade berlalu, skripsi yang ditulis pada 1992 itu justru viral ketika AI telah berkembang pesat dan mulai digunakan dalam berbagai bidang kehidupan.
FEB Unpad memberikan apresiasi terhadap karya Rudi. Kampus tersebut menilai gagasan yang muncul puluhan tahun lalu menunjukkan pentingnya keberanian untuk berpikir visioner.
“Apa yang pada 1992 masih berupa gagasan dan embrio pemikiran, kini telah berkembang menjadi teknologi yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan,” ungkap FEB Unpad.
Apresiasi juga datang dari Ikatan Alumni FEB Unpad. Organisasi tersebut menilai Rudi telah menunjukkan bahwa keterbatasan teknologi pada masanya tidak menghalangi lahirnya gagasan besar.
“Apresiasi setinggi-tingginya untuk Kang Rudi Fajar, karya ini menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bagi kita semua untuk selalu berani berinovasi dan berpikir jauh ke depan,” tulis IKA FEB Unpad melalui unggahan Instagram resminya.
Kisah Rudi menjadi menarik bukan semata karena skripsinya menyebut AI pada 1992. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana rasa ingin tahu, keberanian mengeksplorasi gagasan baru, dan kemauan mencari referensi dapat melahirkan pemikiran yang melampaui zamannya.
Ketika AI kini menjadi salah satu teknologi yang paling banyak dibicarakan, skripsi Rudi menjadi pengingat bahwa gagasan tentang masa depan terkadang sudah muncul jauh sebelum teknologinya benar-benar hadir.
(Sumber: FEB Unpad)
