Pilot dan Pramugari Punya Risiko Kanker Lebih Tinggi, Ini Hasil Studi Terbaru

pilot dan pramugari pixabay

Studi terbaru menyoroti risiko kanker terkait radiasi pada pilot dan pramugari yang sering bekerja di ketinggian. (Foto ilustrasi: Pixabay)

Editor: Devona R

GEBRAK.ID, JAKARTA — Profesi pilot dan pramugari selama ini identik dengan perjalanan lintas negara dan ketinggian. Namun, sebuah studi terbaru menyoroti sisi lain pekerjaan di udara, yakni potensi risiko kematian akibat kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi.

Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Internal Medicine, dikutip Kamis (20/8/2026), menganalisis data nasional Amerika Serikat lebih dari 12 juta sertifikat kematian yang mencantumkan informasi pekerjaan.

Para peneliti kemudian membandingkan angka kematian akibat sejumlah kanker yang berkaitan dengan paparan radiasi. Jenis kanker yang masuk dalam analisis antara lain leukemia, limfoma, multiple myeloma, kanker kulit, payudara, tiroid, prostat, serta kanker sistem saraf pusat.

Hasil penelitian menempatkan pramugari di posisi teratas untuk persentase kematian akibat kanker terkait radiasi. Pilot berada di urutan berikutnya.

Risiko Pramugari Lebih Tinggi

Peneliti menemukan pramugari memiliki kemungkinan sekitar 50 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker terkait radiasi dibandingkan populasi pekerja secara umum. Sementara itu, risiko pada pilot sekitar 36 persen lebih tinggi.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena kedua kelompok profesi itu tidak menunjukkan peningkatan kematian yang sama akibat kanker yang tidak berkaitan dengan paparan radiasi.

Penulis tinjauan studi, Catherine Olsen dan Ken Karipidis, menilai hasil tersebut mendukung dugaan bahwa paparan radiasi akibat pekerjaan dapat berperan terhadap peningkatan risiko.

“Paparan radiasi akibat pekerjaan, bukan gaya hidup atau faktor sosial ekonomi, menjadi penyebab meningkatnya risiko tersebut,” demikian kesimpulan yang dikutip dalam laporan penelitian.

Meski persentasenya terlihat kecil, angka tersebut memiliki arti ketika dilihat dari risiko absolut. Penulis utama studi, Dr. Vishal Patel dari Harvard Medical School, menyebut sekitar 6,9 persen kematian pramugari disebabkan oleh kanker yang masuk dalam kelompok penelitian tersebut.

Artinya, sekitar satu dari 14 kematian pada kelompok pramugari berkaitan dengan kanker tersebut. Pada pilot, angkanya mencapai 6,7 persen. Sebagai pembanding, angka pada populasi pekerja secara umum berada di kisaran 5 persen.

Radiasi Kosmik Jadi Perhatian

Salah satu faktor yang menjadi perhatian peneliti adalah radiasi kosmik yang berasal dari luar angkasa. Sebagian besar radiasi tersebut tidak mencapai permukaan Bumi dalam jumlah besar, tetapi paparannya meningkat ketika seseorang berada di ketinggian.

Kondisi tersebut membuat awak pesawat, termasuk pilot dan pramugari, berpotensi menerima paparan radiasi pengion lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang bekerja di permukaan Bumi.

Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) juga telah mengakui bahwa awak pesawat terpapar radiasi pengion. Namun, menurut para peneliti, pemerintah AS belum menetapkan batas dosis radiasi secara federal maupun mewajibkan pemantauan paparan tersebut.

“Kita tidak dapat mengelola paparan yang kita pilih untuk tidak diukur,” kata Patel melalui surat elektronik.

Sara Nelson, pemimpin Association of Flight Attendants-CWA yang mewakili sekitar 55.000 pramugari, turut menyoroti persoalan tersebut. Ia mengatakan paparan radiasi pada awak pesawat sudah lama menjadi perhatian serikat pekerja.

“Risikonya sudah diketahui, tetapi awak pesawat tidak mendapatkan edukasi atau informasi yang memadai. Dan tidak ada yang bertanggung jawab,” ujar Nelson.

Peneliti Ingatkan Keterbatasan

Kendati hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang perlu diperhatikan, peneliti mengingatkan bahwa studi tersebut memiliki sejumlah keterbatasan.

Peneliti tidak mengetahui secara pasti berapa besar dosis radiasi yang diterima setiap pilot dan pramugari selama menjalankan pekerjaannya. Mereka juga tidak dapat memastikan seluruh paparan berasal dari aktivitas penerbangan.

Faktor kesehatan lain juga belum sepenuhnya diperhitungkan. Pola kerja tidak teratur, jet lag, dan gangguan jam biologis tubuh, misalnya, dapat turut memengaruhi kesehatan dan perkembangan kanker.

Kemungkinan kesalahan pencatatan pekerjaan dalam sertifikat kematian juga menjadi salah satu keterbatasan penelitian.

Olsen dan Karipidis menyebut pemeriksaan kulit secara rutin, termasuk tahunan, layak dipertimbangkan bagi pekerja penerbangan yang sering bekerja di ketinggian. Sementara bagi perempuan yang bekerja dalam profesi tersebut, pemeriksaan mamografi lebih awal atau lebih sering juga dapat menjadi pertimbangan.

Studi ini tidak serta-merta menyatakan bahwa menjadi pilot atau pramugari pasti menyebabkan kanker. Namun, hasil penelitian memperkuat pentingnya pemantauan paparan radiasi serta edukasi kesehatan bagi pekerja penerbangan yang menghabiskan banyak waktu di udara.

(Sumber: JAMA Internal Medicine)