Dari Kardus hingga Menara Kudus, Anak-anak Belajar STEM dengan Cara Menyenangkan

anak anak tk belajar

Kardus bekas, tutup botol, batu, hingga gelas plastik ternyata bisa menjadi sarana belajar yang menarik bagi anak-anak. Melalui benda-benda sederhana itu, siswa RA Miftahul Falah Dawe dan PAUD Terpadu Kalirejo, Kudus, Jawa Tengah, mengenal konsep Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, KUDUS – Kardus bekas, tutup botol, batu, hingga gelas plastik ternyata bisa menjadi sarana belajar yang menarik bagi anak-anak. Melalui benda-benda sederhana itu, siswa RA Miftahul Falah Dawe dan PAUD Terpadu Kalirejo, Kudus, Jawa Tengah, mengenal konsep Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM).

Pembelajaran tersebut sejalan dengan Program STEM Nasional yang mengusung prinsip 5M, yakni Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.

Di RA Miftahul Falah Dawe, guru Fitria Anggraeni mengajak anak-anak membuat miniatur sekolah dari kardus. Dalam prosesnya, siswa tidak sekadar menyusun bahan, tetapi juga belajar memikirkan cara agar bangunan dapat berdiri kokoh.

Anak-anak menentukan bahan perekat, mengukur kardus, hingga menghitung jumlah bahan yang diperlukan. Aktivitas sederhana itu sekaligus mengenalkan berbagai unsur STEM secara langsung.

“Untuk teknologinya, bagaimana kardus itu bisa kita gunakan untuk membuat bangunan sekolah. Engineering-nya bagaimana bangunan itu agar tidak roboh. Untuk matematikanya, anak-anak bisa mengambil ukuran dan menghitung berapa kardus yang digunakan,” ujar Fitria, seperti dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen, Kamis (3/9/2026).

Menurut Fitria, penerapan STEM sebenarnya sudah dekat dengan aktivitas belajar sehari-hari. Hanya saja, selama ini istilah tersebut belum selalu muncul dalam kegiatan pembelajaran.

“Alhamdulillah, sebenarnya sudah banyak kita terapkan dalam pembelajaran, hanya belum tahu bahwa itu namanya STEM,” katanya.

Praktik serupa berlangsung di PAUD Terpadu Kalirejo. Kepala sekolah Sumiyati memanfaatkan berbagai benda yang mudah ditemukan di sekitar anak untuk mendorong kegiatan mengamati, merencanakan, bereksplorasi, membuat karya, sekaligus mengenal matematika.

Salah satu proyeknya berupa miniatur Menara Kudus. Anak-anak menggunakan gelas plastik sebagai tiang, menentukan bahan untuk bagian atap, menghias bangunan, kemudian menghitung jumlah susunannya.

“Anak-anak tahu kenapa harus pakai gelas untuk membuat tiang, karena mereka tahu gelas ini bisa berdiri. Kemudian mereka menghitung, tadi ada enam tingkatan/susunan dari bawah ke atas,” kata Sumiyati.

Sumiyati menilai suasana menyenangkan membuat anak lebih aktif mengeksplorasi lingkungan. “Anak-anak semakin happy dan menikmati. Dengan alat dan benda yang kami siapkan, mereka lebih banyak bereksplorasi,” ujarnya.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya menumbuhkan rasa ingin tahu sejak usia dini. Menurutnya, STEM 5M dapat membantu anak memahami berbagai peristiwa di sekitarnya sekaligus membentuk calon saintis muda yang berkarakter Pancasila.

“Kita harus mengarahkan dan memberi arti terhadap peristiwa yang mereka temukan di sekitarnya. Dengan STEM 5M kita harap dapat menyiapkan anak-anak kita menjadi saintis-saintis muda yang berkarakter Pancasila,” pungkas Abdul Mu’ti.

(Devona R/Sumber: Kemendikdsmen)