Sekolah Rakyat Pilah Karakter Siswa, Cegah Penularan Perilaku Berisiko
Sekolah Rakyat menerapkan pemilahan khusus terhadap siswa yang menunjukkan kecenderungan perilaku psikososial berisiko sebelum mereka berbaur dengan siswa lain di lingkungan asrama. Tampak dalam gambar para guru Sekolah Rakyat. (Foto ilustrasi: Istimewa)
GEBRAK.ID — Sekolah Rakyat menerapkan pemilahan khusus terhadap siswa yang menunjukkan kecenderungan perilaku psikososial berisiko sebelum mereka berbaur dengan siswa lain di lingkungan asrama.
Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof Mohammad Nuh mengatakan, langkah tersebut penting untuk menjaga lingkungan pendidikan tetap aman sekaligus mencegah munculnya perilaku yang dapat memengaruhi siswa lainnya.
Menurut dia, peserta didik Sekolah Rakyat datang dari latar belakang sosial dan pengalaman hidup yang beragam. Karena itu, sekolah perlu memahami kondisi setiap anak sejak awal dan memberikan penanganan sesuai kebutuhannya.
“Jika ada anak-anak yang membawa perilaku sosial yang dapat merusak, jika langsung digabung maka harus diisolasi dan dibenahi terlebih dahulu. Begitu sudah normal dan baik, baru bisa dicampur dengan siswa lainnya,” kata Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Nuh menjelaskan, proses penerimaan siswa Sekolah Rakyat memperhatikan tiga aspek utama, yakni kondisi fisik dan kesehatan, profil psikososial, serta kemampuan akademik.
Pemilahan juga berlaku bagi siswa yang memiliki penyakit fisik menular, seperti tuberkulosis (TBC). Mereka harus menjalani pengobatan terlebih dahulu sebelum bergabung bersama siswa lain untuk mengurangi risiko penularan.
Di lingkungan sekolah, kepala sekolah, guru, wali asuh, dan wali asrama memiliki kewenangan untuk mengenali serta menangani dinamika perilaku siswa. Langkah tersebut diperlukan agar persoalan yang muncul tidak berkembang menjadi masalah baru dalam proses belajar mengajar.
Nuh mengakui dinamika semacam itu hampir selalu muncul karena peserta didik memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Ia mencontohkan anak yang sebelumnya hidup di jalanan dan terbiasa dengan lingkungan bebas dapat menghadapi kesulitan ketika harus menyesuaikan diri dengan kehidupan asrama.
“Ada, ada, dan itu sudah kita tanganin yang case-case begitu. Saat penyaringan belum terlihat, tapi baru kelihatan ketika sudah berjalan. Jadi semua sudah ada peta jalannya, begitu,” ujar mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut.
Meski menerapkan pemilahan dan penanganan khusus, Sekolah Rakyat tetap mempertahankan prinsip tidak melakukan seleksi berdasarkan kemampuan akademik. Sekolah juga melarang pemberhentian atau drop out (DO) terhadap siswa.
Kebijakan itu sejalan dengan tujuan Sekolah Rakyat untuk membantu mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Program tersebut menyasar anak-anak dari keluarga miskin hingga rentan miskin yang berada dalam Desil 1 sampai 4.
“Prinsipnya tidak boleh melepaskan atau men-DO anak-anak di Sekolah Rakyat. Kalau kita DO, siapa lagi yang akan mengurus mereka? Sekolah Rakyat berada di kuadran anak tidak mampu dengan kemampuan akademik yang perlu dibina dan buktinya sekarang banyak yang percaya diri, bakatnya keluar,” kata Mohammad Nuh menandaskan.
(Devona R/Sumber: Antara)
