ICMI Siapkan 10 Rekomendasi Ekonomi di CIEIE 2026, Fokus Pangan hingga Penguatan UMKM

Foto Pameran CIEIE

Promosi China (Indonesia) International E-Commerce Industry Expo (CIEIE) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada 3-5 September 2026, yang ditayangkan di Media Sosial. (Foto: IG cieie_indonesia)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyiapkan 10 rekomendasi ekonomi melalui Rembuk Ekonomi Nasional yang digelar dalam rangkaian China (Indonesia) International E-Commerce Industry Expo (CIEIE) 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.

Rekomendasi tersebut mencakup sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemanfaatan teknologi, hingga perluasan kerja sama ekonomi Indonesia dengan negara lain.

Rembuk Ekonomi Nasional tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq. mengatakan forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar gagasan sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan ekonomi, khususnya sektor pangan. “Tadi kita mencoba diskusi, masing-masing menyampaikan insight-nya bagaimana Rembuk Ekonomi Nasional ini kita susun, terutama fokus kepada ketahanan pangan,” ucap Hanif, Jumat 4 September 2026.

Pemerintah Menunggu Rekomendasi ICMI
Hanif mengatakan pemerintah menantikan 10 rekomendasi yang disusun ICMI untuk menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan. “Kami sangat antusias menunggu terbitnya 10 rekomendasi dari ICMI pada hari ini,” lanjutnya.

Menurut Hanif, kerja sama Indonesia dengan China tidak seharusnya berhenti pada forum diskusi maupun pameran. Teknologi yang diperoleh dari kerja sama kedua negara, kata dia, perlu diterapkan secara langsung di daerah-daerah sentra produksi pangan. “Kegiatan fisiknya sebenarnya ada di lapangan. Jadi ada di provinsi-provinsi di mana ketahanan pangan memiliki khas tertentu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap daerah memiliki karakteristik komoditas yang berbeda. Sejumlah wilayah, misalnya, memiliki keunggulan pada komoditas padi, tebu, kakao, maupun kopi. Karena itu, teknologi hasil kerja sama dengan China dinilai perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing daerah.

ICMI Perluas Kerja Sama ke India dan Rusia
Sementara itu, Wakil Ketua Umum ICMI, Teuku Abdullah Sanny, mengatakan organisasi tersebut tidak hanya akan mengembangkan kerja sama ekonomi dengan China, tetapi juga berencana memperluas kolaborasi dengan sejumlah negara lain, termasuk India dan Rusia. “Ke depan, kita juga akan bekerja sama bukan hanya dengan China. Insyaallah, kita akan bekerja sama dengan India, negara yang juga memiliki jumlah penduduk besar, serta Rusia,” kata Teuku. Kerja sama tersebut, menurut Teuku, dapat mencakup perdagangan, teknologi, pembiayaan, hingga pengembangan produk.

Hasil pembahasan dan kerja sama itu nantinya akan dihimpun dalam sebuah buku yang direncanakan disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto. Dokumen tersebut diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan untuk memperkuat sektor UMKM. “Buku tersebut akan kita ajukan kepada Presiden, Bapak Prabowo. Dengan demikian, pemerintah dapat menentukan kebijakan yang perlu dilakukan supaya UMKM tumbuh besar,” ujarnya.

Dorong Ekonomi Digital dan Industri Halal
Selain ketahanan pangan, ICMI mendorong penguatan UMKM melalui kerja sama internasional. Akses terhadap pasar, teknologi, dan pembiayaan dinilai menjadi aspek penting agar pelaku usaha nasional dapat meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas jangkauan bisnisnya. ICMI juga melihat industri halal, khususnya makanan halal, sebagai salah satu sektor potensial yang dapat dikembangkan melalui kerja sama Indonesia dengan China maupun negara lainnya.

Di sektor perdagangan digital, penguatan ekosistem e-commerce juga dinilai penting untuk membantu pelaku usaha Indonesia terhubung dengan pasar internasional. “Tugas ICMI adalah mengolaborasikan semuanya menjadi suatu sistem yang bagus, membangun sistem e-commerce yang bagus, serta membangun ekosistem digital yang baik,” kata Teuku.

CIEIE 2026 jadi Forum Perdagangan Indonesia-China
CIEIE 2026 berlangsung pada 3–5 September 2026 di Hall B-C, JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran ini mempertemukan buyer, importir, distributor, retailer, seller marketplace, supplier, pabrik, dan pemilik merek dari berbagai kategori industri.

Penyelenggaraan CIEIE 2026 juga menjadi ruang untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra dari China serta membuka peluang kerja sama dalam perdagangan lintas negara, teknologi, inovasi, dan pengembangan bisnis. Informasi penyelenggara menyebutkan pameran ini menghadirkan lebih dari 500 exhibitor, 2.000 brand, dan mencakup lebih dari 40 kategori industri.

Pameran tersebut telah resmi dibuka di Jakarta pada 3 September 2026 dan berlangsung hingga 5 September 2026. Kehadiran CIEIE di Jakarta memperkuat posisinya sebagai salah satu forum yang mempertemukan pelaku bisnis Indonesia dengan produsen, supplier, dan pemilik merek dari China.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyatakan CIEIE 2026 menjadi salah satu sarana bagi UMKM Jakarta untuk memperluas jaringan bisnis dan bertemu mitra internasional.

Dengan demikian, rangkaian CIEIE 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga menjadi momentum untuk mempertemukan agenda penguatan UMKM, transformasi digital, teknologi, perdagangan internasional, serta kerja sama ekonomi Indonesia dengan mitra global. (*)

Editor: Zaky Al Hamzah