Studi ABCD Ungkap Jejak Kemiskinan pada Perkembangan Otak Anak
Studi ABCD ungkap jejak kemiskinan pada perkembangan otak anak. (Foto: jektvnews)
GEBRAK.ID — Berdasarkan data World Bank atau Bank Dunia per April 2026, sekitar 64,2 persen penduduk Indonesia atau sekitar 184,9 juta orang berada di bawah garis kemiskinan internasional yang digunakan untuk kelompok negara berpendapatan menengah atas.
Persentase tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan proporsi penduduk terbesar di bawah ambang kemiskinan tersebut di antara 59 negara berkembang yang masuk kategori upper-middle income. Angka Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan Afrika Selatan yang mencapai sekitar 60 persen dan Filipina sebesar 56,5 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, perbedaannya terlihat semakin mencolok karena Thailand berada di kisaran 10,1 persen, sedangkan Malaysia sekitar 1 persen.
Perbedaan yang cukup besar antara angka World Bank dan data kemiskinan nasional Indonesia terutama disebabkan oleh perbedaan metode serta standar yang digunakan dalam menentukan garis kemiskinan.
World Bank menggunakan ambang kemiskinan internasional sebesar US$8,30 per orang per hari, atau setara dengan sekitar Rp1,51 juta per bulan per kapita berdasarkan paritas daya beli (PPP) 2021. Standar tersebut digunakan untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk di negara-negara berkembang dengan kategori pendapatan menengah atas.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan pendekatan kebutuhan dasar minimum atau basic needs approach. Berdasarkan metode tersebut, garis kemiskinan Indonesia berada di sekitar Rp669 ribu per kapita per bulan. Dengan menggunakan standar nasional ini, BPS mencatat tingkat kemiskinan Indonesia sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta penduduk.
Perbedaan metodologi tersebut tidak berarti bahwa 64,2 persen penduduk Indonesia secara otomatis dapat dikategorikan sebagai masyarakat miskin, terlebih miskin ekstrem. Angka World Bank lebih menggambarkan jumlah penduduk yang berada di bawah standar hidup yang digunakan untuk membandingkan negara-negara berpendapatan menengah atas secara internasional.
Meski demikian, data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif rentan jika dibandingkan dengan standar hidup internasional tersebut. World Bank sendiri tetap menyarankan agar pemerintah menggunakan garis kemiskinan yang ditetapkan BPS sebagai dasar utama dalam merancang kebijakan bantuan sosial dan program perlindungan masyarakat di Indonesia.
Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, kondisi ini bisa menghambat terwujudnya mimpi Indonesia emas 2045. Kemiskinan tak hanya menghasilkan kesenjangan struktural yang menyulitkan mobilitas sosial, tapi juga menghambat perkembangan otak anak yang sangat penting untuk melahirkan sumber daya manusia yang tinggi.
Penelitian pencitraan otak longitudinal terbesar di Amerika Serikat pada awalnya dirancang untuk mempelajari bagaimana alkohol dan narkoba memengaruhi otak yang sedang berkembang. Dalam perkembangannya, salah satu hasil paling menarik justru menunjukkan bagaimana kemiskinan dan kondisi sosial ekonomi dapat tercermin dalam perkembangan otak anak.
Studi Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) terus mengikuti hampir 12.000 anak untuk memahami apa yang terjadi sebelum dan setelah seseorang mulai menggunakan zat seperti alkohol, nikotin, atau ganja. Salah satu temuan penting dari penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah perbedaan otak yang berkaitan dengan penggunaan zat sejak usia dini ternyata sudah terlihat sebelum anak mulai menggunakannya.
Menurut Mark S. Gold M.D. dalam Psychology Today.com, penelitian ini juga menghasilkan temuan yang tidak kalah mengejutkan. Kondisi sosial dan ekonomi tempat seorang anak tumbuh ternyata memiliki hubungan yang sangat kuat dengan perkembangan otaknya.
Menjawab Pertanyaan tentang Otak dan Penggunaan Zat
Selama puluhan tahun, para peneliti kecanduan menghadapi persoalan yang sulit dijawab. Ketika seseorang yang menggunakan alkohol, ganja, atau zat lainnya menunjukkan perbedaan pada hasil pemindaian otak, para ilmuwan tidak dapat memastikan apakah perbedaan tersebut sudah ada sebelum penggunaan zat dimulai atau baru muncul setelahnya.
Studi ABCD dirancang untuk membantu menjawab pertanyaan tersebut.
Gagasan penelitian ini mulai berkembang pada 2013 melalui Collaborative Research on Addiction di National Institutes of Health (NIH). Tujuan awalnya adalah memindai otak anak sebelum sebagian besar dari mereka memiliki pengalaman menggunakan zat, kemudian mengikuti perkembangan mereka selama masa remaja hingga memasuki usia dewasa muda.
Pada 2015, penelitian ABCD mulai merekrut 11.880 anak di 21 lokasi penelitian. Para peserta berusia sekitar 9–10 tahun ketika pertama kali bergabung.
Mereka menjalani berbagai pemeriksaan, termasuk pencitraan otak, tes kemampuan kognitif dan psikologis, pengambilan sampel biologis, serta evaluasi mengenai kondisi rumah, sekolah, lingkungan tempat tinggal, kesehatan, dan paparan terhadap zat.
Para peserta kemudian diperiksa berulang kali selama bertahun-tahun. Data penelitian tersebut juga dibuka bagi para ilmuwan lain sehingga dapat digunakan untuk berbagai penelitian lanjutan.
Ketika NIH merilis kumpulan data awal dalam skala besar pada 2018, Direktur National Institute on Drug Abuse (NIDA) Nora Volkow menjelaskan pentingnya memulai penelitian sebelum anak-anak mulai menggunakan zat.
Dengan pendekatan tersebut, para peneliti dapat membandingkan kondisi otak orang yang sama sebelum dan setelah mereka menggunakan alkohol, nikotin, atau zat lainnya.
Delapan tahun kemudian, tujuan tersebut mulai menghasilkan jawaban yang lebih jelas.
Perbedaan Otak Sudah Terlihat Sebelum Penggunaan Zat
Salah satu temuan awal penting berasal dari analisis pada 2024 yang melibatkan 9.804 peserta ABCD. Dari jumlah tersebut, 3.460 peserta melaporkan mulai menggunakan alkohol, nikotin, ganja, atau zat lainnya sebelum berusia 15 tahun.
Alkohol menjadi zat yang paling umum digunakan.
Yang menarik, sebagian besar perbedaan struktur otak yang berkaitan dengan penggunaan zat pada usia dini ternyata sudah terlihat ketika peserta masih berusia 9–11 tahun. Pada usia tersebut, sebagian besar anak belum mulai menggunakan zat.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara karakteristik otak dan penggunaan zat kemungkinan tidak berjalan dalam satu arah.
Beberapa karakteristik otak mungkin membuat seorang anak lebih rentan terhadap perilaku mencari sensasi, impulsivitas, atau keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Setelah penggunaan zat dimulai, paparan terhadap zat tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan otak selanjutnya.
Karena ABCD memulai pengamatan sebelum penggunaan zat terjadi dan terus mengikuti peserta setelahnya, para peneliti dapat melihat kedua sisi dari hubungan tersebut.
Faktor Sosial Ikut Membentuk Risiko
Selain faktor biologis, kondisi sosial juga menjadi bagian penting dalam memahami penggunaan zat pada masa remaja.
Pada penggunaan nikotin, misalnya, sebagian besar penggunaan awal terjadi melalui rokok elektronik atau vaping. Penelitian awal menunjukkan bahwa perilaku teman sebaya merupakan salah satu prediktor kuat terhadap kemungkinan seorang anak mulai menggunakan nikotin.
Sementara itu, penggunaan alkohol dan zat lainnya berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk riwayat penggunaan zat dalam keluarga, pengawasan orang tua, masalah perilaku, kesehatan mental, pola tidur, serta perilaku teman sebaya.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan zat bukanlah hasil dari satu penyebab tunggal. Berbagai faktor biologis, psikologis, keluarga, dan lingkungan dapat saling berinteraksi dalam membentuk risiko.
Apa yang Terjadi pada Remaja yang Menggunakan Ganja?
Ganja memberikan gambaran lain tentang manfaat pemantauan jangka panjang yang dilakukan ABCD.
Dalam analisis pada 2026, peneliti menggabungkan informasi yang diberikan peserta mengenai penggunaan ganja dengan pemeriksaan toksikologi melalui sampel rambut.
Hasilnya menunjukkan bahwa remaja yang mulai menggunakan ganja mengalami peningkatan kemampuan belajar, memori episodik, memori kerja, dan sejumlah kemampuan terkait yang lebih lambat dibandingkan dengan remaja yang tidak menggunakannya.
Temuan tersebut tidak menggambarkan kerusakan otak yang tiba-tiba dan sama pada setiap pengguna ganja. Sebaliknya, perbedaannya lebih menyerupai keterlambatan perkembangan.
Pada masa remaja, kemampuan kognitif seharusnya terus berkembang. Namun, remaja yang menggunakan ganja tampak mengalami peningkatan kemampuan yang lebih kecil sehingga dalam beberapa aspek mereka mulai tertinggal dibandingkan dengan kelompok yang tidak menggunakan ganja.
Temuan Mengejutkan tentang Kemiskinan
Salah satu hasil paling mencolok dari studi ABCD ternyata tidak secara langsung berkaitan dengan narkoba.
Pada 2026, Scott Marek, Nico Dosenbach, dan para peneliti dari Washington University School of Medicine menganalisis hampir 12.000 anak ABCD. Mereka membandingkan sekitar 649 faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan dengan struktur serta fungsi otak.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Dari 40 faktor yang paling kuat berkaitan dengan fungsi otak, 37 di antaranya merupakan faktor sosial ekonomi. Sementara dari 40 faktor yang paling kuat berkaitan dengan struktur otak, 35 juga berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi.
Pendapatan keluarga, kepemilikan rumah, tingkat kemiskinan lingkungan, akses transportasi, dan ketersediaan sumber daya di komunitas menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan perkembangan otak dibandingkan banyak faktor lainnya, termasuk IQ, pola pengasuhan, dan riwayat kesehatan.
Menurut para peneliti, kondisi sosial ekonomi memberikan salah satu jejak paling kuat pada otak anak dari berbagai faktor yang mereka analisis.
Bukan Berarti Anak dari Keluarga Miskin Kurang Cerdas
Temuan tersebut tidak berarti bahwa anak yang tumbuh dalam kondisi sosial ekonomi kurang menguntungkan memiliki otak yang lebih “tidak cerdas”.
Pola yang terlihat justru lebih menyerupai karakteristik otak pada anak yang mengalami kelelahan atau stres berkepanjangan.
Hubungan paling kuat ditemukan pada sistem sensorik dan motorik yang sensitif terhadap kondisi seperti kurang tidur dan stres kronis. Jadi, temuan tersebut tidak semata-mata menunjukkan perubahan pada bagian otak yang biasa dikaitkan dengan kecerdasan.
Yang lebih menarik, setelah kondisi sosial ekonomi diperhitungkan, sekitar 70 persen hubungan antara karakteristik otak dan IQ yang sebelumnya ditemukan tidak lagi menunjukkan signifikansi statistik.
Artinya, lingkungan sosial ekonomi kemungkinan memainkan peran yang jauh lebih besar dalam hubungan antara perkembangan otak dan kemampuan kognitif daripada yang sebelumnya diperkirakan.
Kemiskinan dan Perubahan pada Otak
Penelitian ABCD sebelumnya juga telah menemukan hubungan antara kemiskinan rumah tangga dan kemiskinan lingkungan tempat tinggal dengan perbedaan dalam organisasi materi putih otak serta meningkatnya kandungan air pada ruang tertentu di otak. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan proses neuroinflamasi, meskipun hubungan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Penelitian lain juga menemukan adanya perbedaan volume hipokampus yang berkaitan dengan tingkat pendapatan.
Namun, semua temuan ini harus dipahami sebagai hasil penelitian observasional. Artinya, hasil tersebut belum membuktikan bahwa kemiskinan atau satu kondisi tertentu secara langsung menyebabkan perubahan tertentu pada otak.
Meski demikian, berbagai penelitian tersebut memberikan gambaran yang penting. Hasil pemindaian otak seorang anak mungkin sebagian mencerminkan pengalaman sehari-hari yang mereka jalani, seperti apakah mereka mendapatkan tidur yang cukup, merasa aman, mengalami tekanan ekonomi, memiliki akses transportasi yang baik, atau tinggal di lingkungan dengan sumber daya yang memadai.
Dengan kata lain, lingkungan tempat anak tumbuh dapat menjadi bagian dari proses biologis perkembangan mereka.
Mengapa Kemiskinan Penting dalam Pembahasan Kecanduan?
Kemiskinan tentu bukan satu-satunya penyebab kecanduan. Gangguan penggunaan zat dapat terjadi pada orang dari berbagai latar belakang ekonomi.
Namun, kondisi sosial ekonomi dapat memengaruhi sejumlah faktor yang berkaitan dengan perkembangan otak sekaligus risiko penggunaan zat.
Stres kronis, gangguan tidur, paparan terhadap penggunaan dan ketersediaan narkoba di lingkungan, tekanan dalam keluarga, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, serta minimnya pilihan aktivitas yang aman dapat memengaruhi perkembangan anak.
Kondisi yang sama juga berpotensi memengaruhi kapan seseorang mulai menggunakan zat, apakah penggunaan tersebut berkembang menjadi lebih sering, dan seberapa mudah mereka mendapatkan bantuan.
Karena itu, faktor sosial ekonomi dapat menjadi bagian dari rangkaian yang menghubungkan perkembangan otak, kesehatan mental, lingkungan, dan penggunaan zat.
Masa Paling Penting Ada di Depan Mata
Sebagian besar peserta ABCD kini telah berusia sekitar 17–19 tahun. Dalam satu atau dua tahun mendatang, penelitian ini diperkirakan akan menjadi semakin penting bagi ilmu pengetahuan tentang kecanduan.
Lebih banyak peserta akan melewati tahap eksperimen awal menuju penggunaan alkohol, nikotin, atau ganja yang lebih rutin. Sebagian mungkin berhenti menggunakannya, sementara sebagian lainnya dapat mengalami masalah penggunaan zat. Namun, mayoritas tidak akan berkembang menjadi kecanduan.
Perbedaan perjalanan tersebut memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk menjawab pertanyaan yang sejak awal menjadi dasar dibentuknya studi ABCD.
Pertanyaan tersebut antara lain: perbedaan otak apa yang sudah ada sebelum seseorang mulai menggunakan zat? Perubahan apa yang muncul setelah penggunaan menjadi lebih berat atau berlangsung lebih lama? Apakah alkohol, vaping, dan ganja memiliki dampak perkembangan yang berbeda? Bagaimana pengaruh penggunaan beberapa zat sekaligus? Mengapa sebagian remaja mampu tetap berkembang dengan baik meskipun menghadapi berbagai faktor risiko?
Para peneliti juga dapat mempelajari faktor apa saja yang memberikan perlindungan, termasuk peran keluarga, sekolah, lingkungan tempat tinggal, komunitas, dan berbagai bentuk dukungan sosial.
Memahami Kecanduan dengan Melihat Lingkungan Anak
Studi ABCD memberikan kesempatan unik untuk mengamati bagaimana kerentanan biologis, paparan zat, lingkungan, dan perkembangan manusia saling berinteraksi dari waktu ke waktu.
Penelitian ini memang dimulai dengan tujuan memahami pengaruh alkohol dan narkoba terhadap otak. Namun, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perkembangan otak anak tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial tempat mereka tumbuh.
Otak tidak berkembang dalam ruang hampa. Kualitas tidur, tingkat stres, rasa aman, kondisi ekonomi keluarga, hubungan sosial, akses terhadap sumber daya, serta pengalaman sehari-hari semuanya dapat menjadi bagian dari proses perkembangan biologis.
Setelah sekitar satu dekade berjalan, ABCD kini memasuki periode yang sangat penting. Para peserta penelitian mulai memasuki usia ketika risiko penggunaan zat meningkat dan ketika berbagai pola perilaku mulai terlihat lebih jelas.
Semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin besar peluang para peneliti untuk memahami mengapa sebagian orang rentan terhadap penggunaan zat dan kecanduan, sementara sebagian lainnya tetap mampu berkembang meskipun menghadapi faktor risiko yang sama.
Pada akhirnya, memahami kecanduan mungkin tidak cukup hanya dengan melihat zat yang digunakan. Kita juga perlu melihat otak yang sedang berkembang, pengalaman hidup seseorang, serta lingkungan tempat mereka tumbuh.
(Damar Pratama/ Sumber: Psychology Today)
