Peta Dunia Dirombak PBB: Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar dari Greenland!

peta baru pbb bbc

PBB mengadopsi resolusi Correct the Map yang mendorong peta dunia lebih akurat, termasuk menampilkan ukuran Afrika secara proporsional. (Foto: BBC)

GEBRAK.ID — Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil langkah bersejarah dalam dunia kartografi. PBB mengadopsi resolusi bertajuk Correct the Map yang mendorong penggunaan peta dunia dengan representasi ukuran benua yang lebih akurat.

Resolusi yang diajukan Togo atas dukungan Uni Afrika (AU) itu mendapat dukungan sangat besar. Sebanyak 164 negara menyatakan setuju, sementara satu negara menolak dan enam lainnya memilih abstain.

Salah satu perhatian utama dalam resolusi tersebut adalah cara peta dunia selama ini menggambarkan Afrika. Pada peta dengan proyeksi Mercator yang sangat populer, Afrika terlihat jauh lebih kecil dibanding ukuran sebenarnya. Bahkan, Greenland yang luasnya jauh di bawah Afrika tampak hampir sebesar benua tersebut.

Padahal, secara geografis Afrika memiliki luas sekitar 30,3 juta kilometer persegi dan sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland. Distorsi itu muncul karena karakteristik proyeksi Mercator yang memperbesar wilayah ketika semakin jauh dari garis khatulistiwa.

Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menjadi salah satu tokoh utama di balik kampanye Correct the Map. Ia menilai peta bukan sekadar alat untuk menunjukkan lokasi suatu wilayah, tetapi juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami dunia.

“Peta tidak pernah netral. Ia membentuk persepsi, memengaruhi bagaimana posisi suatu bangsa dan benua dipahami di dunia,” ujar Dussey dalam pernyataannya menjelang pemungutan suara PBB.

Melalui resolusi tersebut, PBB mendorong penggunaan proyeksi Equal Earth dan proyeksi lain yang mampu menggambarkan luas daratan secara lebih proporsional. Equal Earth merupakan proyeksi peta yang dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas wilayah secara lebih akurat.

Perubahan ini bukan berarti peta Mercator langsung dilarang. Resolusi PBB bersifat tidak mengikat secara hukum, tetapi mendorong pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi internasional, media, serta perusahaan teknologi untuk menggunakan representasi geografis yang lebih akurat.

Togo dan Uni Afrika melihat perubahan tersebut bukan sekadar persoalan teknis. Mereka menilai gambaran geografis yang lebih proporsional dapat membantu masyarakat memahami skala sebenarnya dari Afrika, termasuk luas wilayah, sumber daya, populasi, dan potensinya.

Dussey menegaskan bahwa Afrika tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Menurut dia, kampanye tersebut bertujuan agar ukuran geografis Afrika ditampilkan sebagaimana kenyataannya.

Kelompok kampanye #CorrectTheMap bahkan memberikan ilustrasi yang mencengangkan. Menurut mereka, luas Afrika masih muat jika dimasukkan negara AS, India, dan China.

“Anda bisa memasukkan Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, dan hampir seluruh Eropa ke dalam benua Afrika, dan itu pun masih ada lahan yang tersisa,” tulis mereka.

Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut. Perwakilan AS menilai pembahasan mengenai peta bukan prioritas dibandingkan persoalan perdamaian dan kemakmuran dunia.

Meski menuai perdebatan, keputusan PBB ini berpotensi mengubah cara dunia melihat peta dalam pendidikan dan berbagai platform digital. Bagi penggagas Correct the Map, perubahan tersebut menjadi langkah untuk menghadirkan gambaran dunia yang lebih mendekati kenyataan geografis.

(Devona R/Berbagai Sumber)