60 Tahun Hari Aksara Internasional, Literasi Kini Bukan Sekadar Bisa Baca dan Tulis
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat membuka Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 di Jakarta, Selasa (8/9/2026). (Foto: Tangkapan layar Youtube Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Enam dekade setelah UNESCO menetapkan Hari Aksara Internasional pada 1966, tantangan literasi berubah semakin kompleks. Kemampuan membaca dan menulis kini tidak lagi cukup.
Masyarakat juga dituntut mampu memilah informasi, memahami perkembangan teknologi, hingga menggunakan kecerdasan artifisial (AI) secara bijak.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong momentum 60 tahun Hari Aksara Internasional (HAI) 2026 untuk memperluas makna literasi agar memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, masih terdapat masyarakat yang belum memperoleh hak dasar untuk belajar, memahami informasi, dan mengembangkan kemampuan.
“Ini adalah momentum refleksi dan aksi nyata bagi kita semua. Literasi hari ini memiliki makna yang semakin luas. Literasi tidak lagi cukup dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis,” ujar Mu’ti saat membuka Webinar Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut Mu’ti, perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital, dan kemunculan AI membuat masyarakat harus memiliki kemampuan berpikir kritis. Setiap orang perlu mampu memahami informasi secara mendalam, bersikap reflektif terhadap konten yang dikonsumsi, serta terus belajar sepanjang hayat.
Karena itu, peringatan HAI tahun ini mengusung tema global Literacy for People, the Planet and Prosperity yang kemudian diadaptasi Indonesia menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera”.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan, tiga unsur tersebut menggambarkan arah baru gerakan literasi.
Sesama berarti literasi harus membuat manusia semakin berdaya dan mampu hidup bersama secara bermartabat. Semesta mengajak masyarakat memahami alam serta tanggung jawab menjaga lingkungan. Sementara Sejahtera menempatkan pengetahuan sebagai bekal untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup.
“Dulu kita berjuang agar setiap orang bisa membaca dan menulis. Hari ini tantangannya lebih luas lagi. Kita harus mampu membaca informasi, memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan, berpikir kritis menggunakan teknologi, dan menggunakan kecerdasan buatan secara bijak dalam mengambil keputusan serta terus belajar sepanjang hayat,” jelas Tatang.
Tantangan tersebut juga terlihat dari kondisi literasi global. Chief of Education UNESCO Regional Office in Jakarta, Santosh Khatri, mengatakan lebih dari 88 persen orang dewasa di dunia saat ini telah memiliki kemampuan literasi. Namun, sekitar 739 juta orang dewasa masih belum menguasai keterampilan literasi dasar dan hampir dua pertiganya merupakan perempuan.
Santosh menegaskan literasi bukan sekadar persoalan angka melek aksara. Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat serta ikut membentuk masa depan yang lebih baik.
“Semoga literasi terus membuka pintu ke pembelajaran, kepemilikan, partisipasi, dan semakin inklusif untuk masa depan semua di Indonesia,” ujar Santosh.
Memasuki enam dekade peringatan HAI, Kemendikdasmen berharap literasi tidak berhenti sebagai kegiatan membaca buku atau peringatan tahunan. Literasi perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, membantu masyarakat memahami perubahan zaman, menyaring informasi, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta mengambil keputusan yang berdampak bagi sesama, lingkungan, dan kesejahteraan.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
