Pemuda Indonesia Veldesen Yaputra Raih Juara II Kompetisi Video UNESCO di Italia
Pemuda Indonesia, Veldesen Yaputra, meraih Juara II dalam kompetisi video program UNESCO x vivo yang berlangsung di Italia. (Foto: KBRI Paris)
GEBRAK.ID — Pemuda asal Pontianak, Kalimantan Barat, Veldesen Yaputra, mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional setelah meraih Juara II dalam kompetisi video UNESCO x vivo di Italia.
Veldesen memperoleh penghargaan tersebut melalui ajang Capture the Future: Global Youth Storytelling Initiative for People and Nature yang digelar di Cagar Biosfer Appennino Tosco-Emiliano, Italia.
Veldesen bersaing dengan peserta dari berbagai negara untuk mengangkat hubungan manusia, budaya, kehidupan ekonomi, dan perubahan lingkungan melalui karya visual.
Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, I.G.A.K. Satrya Wibawa, menyambut capaian tersebut sebagai bukti bahwa generasi muda Indonesia mampu membawa perspektif nasional ke forum global.
“Prestasi Veldesen bukan hanya soal meraih penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana anak muda Indonesia mampu membawa pengalaman, pengetahuan, dan perspektif kita ke dalam percakapan global mengenai keberlanjutan,” ujar Satrya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/9/2026).
Program UNESCO x vivo tersebut merupakan kolaborasi UNESCO melalui Man and the Biosphere Programme dengan vivo. Program ini mengajak anak muda menggunakan fotografi dan video berbasis telepon pintar untuk menceritakan hubungan masyarakat dengan alam serta berbagai upaya menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
UNESCO mencatat program tersebut mendapat lebih dari 700 pendaftar dari 98 negara. Sebanyak 15 peserta dari 13 negara kemudian terpilih mengikuti tahap lanjutan di Cagar Biosfer Appennino Tosco-Emiliano, Italia.
Veldesen memiliki latar belakang Environmental Design dari Tsinghua University, China. Ia menaruh perhatian pada arsitektur berkelanjutan dan konsep green building.
Selama berada di Italia, Veldesen melakukan pengamatan langsung terhadap kehidupan masyarakat setempat. Ia berbincang dengan warga, produsen minyak zaitun, petani, hingga peneliti lingkungan untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap kehidupan dan ekosistem lokal.
Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi ketika ia melihat pohon-pohon mengering dan kehilangan daun di kawasan cagar biosfer. Dari percakapannya dengan peneliti lokal, Veldesen mendapatkan gambaran mengenai perubahan kondisi lingkungan dan iklim yang memengaruhi ekosistem.
Pengalaman tersebut kemudian ia tuangkan dalam video menggunakan telepon pintar. Veldesen memadukan perspektif yang terbentuk dari pengalaman akademik dan kehidupannya di Indonesia, China, serta Italia.
Pendekatan tersebut akhirnya membawanya ke posisi kedua meski bidang utama Veldesen bukan videografi.
Sebelumnya, Veldesen juga menjadi salah satu dari dua anak muda Indonesia yang dipilih mengikuti program global UNESCO. Ia membawa pengalaman dalam arsitektur hijau dan pengetahuan lokal untuk memperkuat perspektif mengenai keberlanjutan.
Veldesen berharap prestasi tersebut dapat mendorong lebih banyak pemuda Indonesia terlibat dalam riset lingkungan, mencari bentuk adaptasi lokal, dan berani tampil dalam forum internasional.
“Kita membawa nama Indonesia. Di mana pun kita bereksperimen dan belajar, kita tetap warga negara Indonesia. Apa yang kita hasilkan juga membawa Indonesia,” kata Veldesen.
Prestasi itu sekaligus menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak hanya membutuhkan perhatian pemerintah dan peneliti. Kreativitas anak muda juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan persoalan perubahan iklim kepada masyarakat global.
(Devona R/Siaran Pers)
