Ronaldo Desak Suporter yang Ejek Mendiang Diogo Jota Dilarang ke Stadion Seumur Hidup

ronaldo-afp-al-nassr

Cristiano Ronaldo angkat bicara setelah sejumlah suporter Al-Taawoun diduga mengejek Ruben Neves dengan membawa-bawa nama mendiang Diogo Jota dalam pertandingan Saudi Pro League. (Foto: AFP/Al Nassr)

GEBRAK.ID — Cristiano Ronaldo angkat bicara setelah sejumlah suporter Al-Taawoun diduga mengejek Ruben Neves dengan membawa-bawa nama mendiang Diogo Jota dalam pertandingan Saudi Pro League.

Ronaldo bahkan meminta agar penggemar yang terlibat mendapat hukuman berat berupa larangan seumur hidup memasuki stadion.

Insiden tersebut terjadi ketika Al-Hilal menghadapi Al-Taawoun pada Sabtu (12/9/2026). Al-Hilal tampil dominan dan menang telak 6-0. Namun, sorotan justru tertuju pada perilaku sebagian suporter tuan rumah yang meneriakkan nama “Jota” ke arah Neves.

Nama tersebut memiliki arti sangat personal bagi gelandang Al-Hilal itu. Neves merupakan salah satu sahabat dekat Jota dan turut menjadi pengusung peti jenazah dalam pemakaman mantan penyerang Liverpool serta timnas Portugal tersebut.

Reaksi Neves di lapangan menunjukkan bahwa ia merasa terganggu dengan aksi tersebut. Pemain asal Portugal itu merespons dari arah lapangan dengan tepuk tangan dan menunjuk ke langit.

Usai pertandingan, Neves juga menyampaikan sindiran keras ketika ditanya mengenai kejadian tersebut.

“Saya berharap mereka tidak pergi beribadah lagi setelah apa yang mereka lakukan,” ujar Neves.

Ronaldo kemudian memberikan dukungan kepada Neves melalui komentar di Instagram pada Minggu (13/9/2026). Kapten Portugal tersebut menilai perilaku seperti itu sudah melewati batas sportivitas.

“Liga harus mengambil tindakan dan menghukum perilaku suporter seperti ini. Ini bukan lagi sepak bola dan harus ada batasnya. Orang-orang yang berperilaku seperti ini seharusnya tidak boleh lagi memasuki stadion,” tulis Ronaldo.

Ronaldo memiliki kedekatan dengan Jota karena keduanya pernah menjadi rekan setim di timnas Portugal. Jota meninggal dunia dalam kecelakaan mobil di Zamora, Spanyol, pada 3 Juli 2025 bersama adiknya, André Silva. Jota ketika itu berusia 28 tahun.

Kasus tersebut juga mendapat perhatian serius dari otoritas sepak bola Arab Saudi. Federasi Sepak Bola Arab Saudi (SAFF) dan Saudi Pro League (SPL) mengecam tindakan yang mengeksploitasi tragedi pribadi untuk tujuan penghinaan atau provokasi.

SAFF dan SPL menyatakan perilaku tersebut tidak memiliki tempat dalam sepak bola Arab Saudi. Komite terkait juga telah mengidentifikasi perilaku yang dipermasalahkan dan akan mengambil tindakan sesuai aturan serta prosedur yang berlaku.

Al-Hilal turut mengajukan laporan resmi kepada SAFF. Sementara itu, Al-Taawoun menyatakan mengecam keras perilaku tersebut dan berjanji bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Pertandingan yang berakhir 6-0 untuk Al-Hilal akhirnya meninggalkan persoalan yang lebih besar daripada sekadar hasil di lapangan. Kasus ini kembali mengingatkan bahwa rivalitas sepak bola memiliki batas, terutama ketika menyentuh tragedi dan kehilangan pribadi seorang pemain.

(A. Rayyan K/Berbagai Sumber)