Beda dengan Janice Tjen, Eala Tetap Pilih Asian Games meski Terancam Denda Rp176 Juta
Petenis putri Filipina Alex Eala mengambil keputusan berbeda dari Janice Tjen. Saat petenis Indonesia memilih mundur dari Asian Games 2026 demi mengikuti China Open, Eala justru tetap berkomitmen membela Filipina di ajang olahraga terbesar Asia tersebut. (Foto: US Open)
GEBRAK.ID — Petenis putri Filipina Alex Eala mengambil keputusan berbeda dari Janice Tjen. Saat petenis Indonesia memilih mundur dari Asian Games 2026 demi mengikuti China Open, Eala justru tetap berkomitmen membela Filipina di ajang olahraga terbesar Asia tersebut meski berpotensi menghadapi sanksi dari Women’s Tennis Association (WTA).
Eala terancam denda US$10 ribu atau sekitar Rp176 juta jika melewatkan China Open 2026. Turnamen WTA 1000 di Beijing itu termasuk agenda wajib bagi pemain yang memenuhi kualifikasi, sementara jadwalnya beririsan dengan Asian Games Aichi-Nagoya di Jepang.
China Open berlangsung 30 September hingga 11 Oktober, sedangkan pertandingan tenis Asian Games dimulai 27 September.
Namun, ancaman tersebut tidak mengubah keputusan Eala. Asosiasi Tenis Filipina (PHILTA) telah mengajukan permohonan pengecualian kepada WTA agar Eala dapat tampil di Asian Games tanpa terkena sanksi.
“Alex akan bermain di Asian Games terlepas dari keputusan WTA,” kata Direktur Eksekutif PHILTA Tonette Mendoza dalam pernyataan resmi federasi, dikutip dari laporan media Filipina, Selasa (15/9/2026).
PHILTA juga menegaskan bahwa Eala ingin mengenakan seragam Filipina di Nagoya. Sekretaris Jenderal PHILTA John Rey Tiangco mengatakan, pihaknya telah secara resmi memberi tahu WTA mengenai keputusan tersebut dan meminta pengecualian.
“Alex sendiri sudah menjelaskan bahwa mewakili Filipina adalah sebuah kehormatan dan dia memilih bermain untuk bendera negara,” ujar Tiangco.
Sampai saat ini, WTA belum menjatuhkan denda kepada Eala. PHILTA masih menunggu keputusan resmi terkait permohonan pengecualian tersebut.
Sikap Eala berbeda dengan Janice Tjen. Petenis Indonesia itu sebelumnya mengumumkan tidak akan tampil di Asian Games setelah WTA tidak memberikan pengecualian untuk mengikuti turnamen tersebut.
Janice kemudian memilih tetap bermain di China Open. Pelti mendukung keputusan tersebut karena ada pertimbangan terhadap peringkat dunia dan peluang Janice tampil di Australian Open 2027.
Sekretaris Jenderal Pelti Andi Fajar mengatakan, Janice perlu menjaga poin yang dimilikinya agar tetap berada dalam posisi aman untuk masuk ke babak utama Australian Open.
“Ini bagian dari program supaya Janice itu tetap bisa masuk ke Melbourne Australian Open. Dia harus menjaga poinnya sekarang,” kata Andi.
Pelti bahkan menyatakan siap menanggung denda apabila Janice memilih Asian Games. Namun, menurut Andi, persoalan denda berbeda dengan konsekuensi kehilangan poin yang dapat memengaruhi peringkat.
“Pelti siap bayar. Kami sudah sampaikan ke WTA, kami akan membayar denda, tapi tidak ada hubungannya dengan zero point itu,” ujar Andi.
Kini, pilihan Eala dan Janice menunjukkan dua strategi berbeda dalam menghadapi benturan jadwal antara agenda tenis profesional dan kepentingan membela negara.
Eala memilih Asian Games dengan risiko sanksi WTA, sedangkan Janice mempertahankan jalur turnamen profesional demi menjaga peringkat dan peluang tampil di Grand Slam Australia.
(A. Rayyan K/Berbagai Sumber)
