PBB Temukan Alasan Masuk Akal AS Lakukan Kejahatan Perang dalam Serangan ke Iran

korban-di-iran

Misi Pencari Fakta Internasional Independen Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB untuk Iran menyebut terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini Amerika Serikat (AS) melakukan kejahatan perang dalam dua serangan militer di Iran pada 28 Februari 2026. (Foto: Anadolu)

GEBRAK.ID — Misi Pencari Fakta Internasional Independen Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB untuk Iran menyebut terdapat alasan yang masuk akal untuk meyakini Amerika Serikat (AS) melakukan kejahatan perang dalam dua serangan militer di Iran pada 28 Februari 2026.

Temuan tersebut tertuang dalam laporan terbaru misi pencari fakta yang dirilis pada Kamis (17/9/2026). Laporan itu menyoroti dua serangan yang menyasar fasilitas sipil di Minab dan Lamerd pada hari pertama perang.

Serangan pertama menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan. Menurut temuan misi, sekolah tersebut merupakan objek sipil yang dapat diidentifikasi dengan jelas dan tidak ditemukan bukti bahwa bangunan itu digunakan untuk kepentingan militer.

Lebih dari 150 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, termasuk sekitar 120 anak-anak. Pemerintah Iran sebelumnya menyebut korban tewas mencapai sekitar 170 orang, sebagian besar merupakan siswi sekolah.

Misi Pencari Fakta PBB menilai serangan tersebut dapat dikategorikan sebagai serangan tanpa pandang bulu yang menyebabkan warga sipil meninggal atau terluka serta menimbulkan kerusakan terhadap objek sipil.

“Berdasarkan bukti yang tersedia, Misi menemukan alasan yang masuk akal untuk meyakini bahwa Amerika Serikat melakukan kejahatan perang berupa serangan tanpa pandang bulu,” demikian kesimpulan misi tersebut seperti dikutip dalam laporan.

Temuan serupa muncul dalam penyelidikan terhadap serangan di Lamerd, Provinsi Fars. Serangan rudal menghantam sebuah kompleks olahraga dan kawasan permukiman di sekitarnya.

Misi pencari fakta menyebut serangan tersebut menewaskan 22 warga sipil. Para penyelidik juga menemukan indikasi penggunaan rudal Precision Strike Missile atau PrSM yang menyebarkan pecahan logam tungsten di sekitar lokasi.

Amerika Serikat sebelumnya tidak mengakui bertanggung jawab atas serangan di Lamerd. Sementara itu, pemerintah AS belum membuka hasil lengkap penyelidikan internal mengenai serangan terhadap sekolah di Minab. Laporan Reuters juga menyebut misi Iran dan AS di Jenewa belum memberikan tanggapan langsung atas permintaan komentar terkait temuan tersebut.

Laporan PBB itu tidak hanya menyoroti tindakan militer Amerika Serikat. Misi yang sama juga menyatakan terdapat dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan aparat Iran dalam penindakan terhadap aksi protes antipemerintah.

Temuan tersebut menunjukkan warga sipil Iran menghadapi dua risiko sekaligus, yakni dampak operasi militer dalam perang serta pelanggaran HAM yang dilakukan aparat di dalam negeri.

Misi Pencari Fakta Internasional Independen untuk Iran dibentuk oleh Dewan HAM PBB pada 2022. Laporan terbaru tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Dewan HAM PBB di Jenewa untuk dibahas lebih lanjut.

(A. Rayyan K/Sumber: Sputnik)