Layanan BK di Sekolah Berubah, Kemendikdasmen Siapkan Pendampingan untuk Semua Murid

konseling iscgc

Konvensi Nasional XXV, Kongres Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) XV, serta Seminar dan Konferensi Internasional Bimbingan dan Konseling (ISCGC) di Jakarta, Rabu (16/9/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Layanan bimbingan dan konseling atau BK di sekolah mulai diarahkan meninggalkan pola lama yang identik dengan murid bermasalah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong layanan BK menjadi bagian penting dalam membantu seluruh murid berkembang, mengenali potensi, mengelola emosi, hingga menyiapkan masa depan.

Perubahan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Konvensi Nasional XXV, Kongres Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) XV, serta Seminar dan Konferensi Internasional Bimbingan dan Konseling (ISCGC) di Jakarta, Rabu (16/9/2026). Kegiatan itu berlangsung dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bertindak sebagai tuan rumah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengatakan tantangan yang dihadapi murid saat ini semakin kompleks. Tekanan prestasi, kecanduan gawai, krisis identitas, perundungan siber, hingga persoalan pilihan karier membuat sekolah membutuhkan pola pendampingan yang lebih aktif.

“Layanan BK tidak boleh lagi terjebak paradigma lama sebagai ‘polisi sekolah’ atau tempat menghukum anak nakal,” ujar Atip.

Menurut Atip, Kemendikdasmen mendorong pendekatan BK yang transformatif dan komprehensif. Layanan tersebut tidak lagi menunggu persoalan muncul, tetapi berupaya mengenali kebutuhan murid sejak awal dan membangun lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.

Atip menyebut pendekatan tersebut bertumpu pada empat pilar, yakni developmental sesuai tahap perkembangan usia, komprehensif, sistemik, serta transformative justice atau keadilan transformatif.

Penguatan layanan itu juga diarahkan melalui pembaruan regulasi. Kemendikdasmen tengah merekonseptualisasi Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah agar lebih sesuai dengan tantangan pendidikan saat ini.

Selain regulasi, pemerintah menghadapi persoalan ketersediaan guru BK. Ketua Umum Pengurus Besar ABKIN Moh. Farozin menyebut kebutuhan ideal layanan profesional berada pada perbandingan satu guru BK untuk 150 murid.

Guru BK tak Lagi Bekerja Sendirian

Kemendikdasmen juga memperluas keterampilan dasar konseling kepada pendidik di luar guru BK. Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, menjelaskan kementerian menyiapkan diseminasi program “Tujuh Jurus BK Hebat” yang menargetkan 270 ribu guru.

Program tersebut menggunakan Learning Management System (LMS) dan dirancang agar guru memiliki kemampuan dasar untuk mengenali potensi murid, membantu mengelola emosi, menumbuhkan resiliensi, serta membangun komunikasi yang empatik.

“Tujuannya bukan mengubah seluruh guru menjadi guru BK profesional, melainkan membekali setiap pendidik dengan basic counseling skills,” jelas Maila.

Program 7 Jurus BK Hebat sebelumnya juga telah dikembangkan Kemendikdasmen sebagai pendekatan yang dapat diterapkan guru BK maupun guru non-BK. Materinya mencakup mengenali potensi, mengelola emosi, menumbuhkan resiliensi, menjaga konsistensi, menjalin koneksi, membangun kolaborasi, dan menata situasi.

Pada 2026, Kemendikdasmen menargetkan diseminasi program tersebut menjangkau 270 ribu guru. Pemerintah juga memproyeksikan cakupan program terus diperluas dalam beberapa tahun berikutnya.

Dengan pendekatan itu, layanan BK tidak lagi berdiri sebagai ruang tersendiri ketika masalah muncul. Guru, wali kelas, guru BK, sekolah, dan lingkungan pendidikan diharapkan dapat bekerja bersama untuk mendeteksi kebutuhan murid lebih dini.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNJ Andi Hadianto mengapresiasi kolaborasi lintas sektor tersebut. Menurutnya, kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi profesi dapat menghasilkan rekomendasi untuk memperkuat profesi konselor.

Transformasi layanan BK pada akhirnya diarahkan untuk membuat sekolah tidak hanya berfokus pada capaian akademik. Pendampingan sosial dan emosional juga menjadi bagian penting agar murid dapat berkembang secara utuh.

Kemendikdasmen menempatkan layanan BK sebagai salah satu unsur yang mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menggembirakan.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)