Prabowo Uji Coba Ambulans Udara di Pesisir Barat, Jawaban bagi Warga yang Harus Tempuh 9 Jam ke Rumah Sakit
Kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan dan pegunungan menjadi tantangan berat. (Foto: Gemini AI)
GEBRAK.ID,LAMPUNG — Presiden Prabowo Subianto mulai merealisasikan janji kampanyenya menghadirkan layanan ambulans udara bagi masyarakat di daerah terisolasi. Uji coba perdana digelar di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter pada 22–23 September 2026, sebagaimana dikonfirmasi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. “Kesiapan ambulans udara ini mulai diuji, salah satunya melalui latihan evakuasi medis menggunakan helikopter di Pesisir Barat, Lampung,” tulis Teddy dalam akun Instagram @sekretariat.kabinet, Senin (28/9/2026).
Ancaman Nyawa di Balik Keterisolasian Geografis
Program ini bukan tanpa alasan mendesak. Presiden Prabowo mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ibu-ibu di daerah terpencil yang harus mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. “Banyak ibu-ibu yang meninggal, karena menempuh jalan tujuh jam sampai sembilan jam pada saat melahirkan. Akhirnya, banyak ibu yang meninggal karena tidak ada jalan yang baik,” ujar Prabowo.
Kondisi geografis Indonesia yang berupa kepulauan dan pegunungan memang menjadi tantangan berat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sejumlah daerah masih mengalami keterbatasan akses menuju fasilitas kesehatan akibat kondisi geografis ekstrem. Di beberapa wilayah, pasien bahkan harus digotong berjalan kaki puluhan kilometer untuk mencapai rumah sakit terdekat.
Enam Helikopter Disiapkan untuk Daerah 3T
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya telah mengumumkan bahwa pemerintah menyiapkan enam helikopter yang berfungsi sebagai ambulans udara. Helikopter ini akan dioperasikan khusus untuk kebutuhan gawat darurat di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T). “Ada 6 helikopter yang pulang pergi, helikopter datang bisa bawa dokternya, karena terisolasi kan mereka, lalu pulang bawa pasiennya, langsung dibawa ke rumah sakit bisa dioperasi,” jelas Budi saat ditemui di Jombang, Jawa Timur.
Ambulans udara ini akan berkoordinasi dengan Basarnas, Polri, dan TNI untuk mobilitas dokter dan pasien. Menurut Budi, layanan serupa sebenarnya sudah beroperasi di Papua dan akan terus dirapikan jangkauannya.
Bersinergi dengan Pembangunan 22 Rumah Sakit Baru
Program ambulans udara merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah memperkuat layanan kesehatan rujukan. Teddy menyatakan bahwa ambulans udara akan disiapkan secara bertahap setelah pembangunan 22 rumah sakit baru di kabupaten/kota yang sebelumnya belum memiliki fasilitas rumah sakit selesai .Rumah sakit-rumah sakit tersebut merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo.
Kementerian Kesehatan menargetkan pembangunan total 66 rumah sakit lengkap berkualitas di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan, dengan fokus pada peningkatan RSUD dari kelas D menjadi kelas C agar mampu menangani penyakit katastropik seperti kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi.
Salah satu rumah sakit yang telah diresmikan adalah RSUD KH Muhammad Thohir di Pesisir Barat, Lampung, pada Juni 2026. Pembangunan rumah sakit ini menelan anggaran APBN 2025 senilai Rp152,99 miliar dengan kapasitas 101 tempat tidur.
Ambulans Udara: Terobosan Inovatif di Tengah Keterbatasan Infrastruktur
Presiden Prabowo menegaskan bahwa ambulans udara harus mampu menjangkau lokasi-lokasi yang tidak memiliki landasan khusus. Helikopter dan pesawat kecil akan dioperasikan untuk mendarat di berbagai medan.“Kita akan membuat ambulans udara dengan helikopter dengan pesawat-pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, di lapangan-lapangan pasir, bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” tegas Prabowo dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI, Agustus 2026.
Selain ambulans udara, pemerintah juga berencana menyiapkan tim dokter terbang. “Kalau perlu dokter yang terbang ke tempat rakyat sakit keras atau menghadapi bencana,” tambah Kepala Negara. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menekankan filosofi di balik program ini. “Karena dalam kondisi darurat, waktu sangat berarti. Insya Allah negara akan terus hadir, hingga ke pelosok negeri. Memperpendek jarak, mempercepat pertolongan, dan pada akhirnya menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.
(Dinar K/ berbagai sumber)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID