Lula Menangi Pemilu Brasil, Saham, Real, dan Obligasi Berguguran

Foto Presiden Brasil - Lula da Silva

Presiden Brasil terpilih kembali, Luiz Inacio Lula da Silva, menyampaikan pidato kemenangan di markas kampanyenya di dalam Hotel Intercontinental di Sao Paulo, Brasil, pada 25 Oktober 2026. (Foto: Anadolu via Getty Images/BBC)

GEBRAK.ID, SAO PAULO — Hasil pemilihan umum di Brasil yang mengejutkan menjadi sorotan utama perdagangan aset pasar berkembang pada Senin (26/10/2026). Saham, mata uang, hingga obligasi Brasil mengalami tekanan tajam setelah Luiz Inácio Lula da Silva dinyatakan meraih kemenangan.

Nilai tukar real Brasil terpuruk 8%, mendekati penurunan harian terbesar sejak dekade 1990-an. Pelemahan tersebut sekaligus membawa mata uang itu ke level terendah sejak Januari.

Di pasar saham, indeks Ibovespa merosot 13,9%, menjadi penurunan harian terdalam sejak awal 2020. Sementara itu, obligasi Brasil berdenominasi dolar AS dengan berbagai tenor termasuk dalam kelompok aset berkinerja terburuk di antara negara-negara pasar berkembang.

Bursa Brasil, B3, merespons gejolak tersebut dengan memperluas batas pergerakan perdagangan di sejumlah pasar utama pada Senin. Kebijakan ini memungkinkan nilai tukar, suku bunga, dan kontrak berjangka indeks saham bergerak dalam rentang yang lebih lebar dibandingkan kondisi normal.

“Posisi investasi menjadi salah satu faktor utama di balik pergerakan aset Brasil yang luar biasa besar hari ini, dan saya berasumsi telah terjadi pergerakan yang berlebihan,” kata Win Thin, kepala ekonom di Bank of Nassau 1982. “Meski begitu, Lula melontarkan berbagai janji belanja untuk memenangkan putaran kedua sehingga prospek fundamental negara tersebut memburuk.”

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada kepastian komitmen pemerintah terhadap pengelolaan fiskal. Tim UBS yang dipimpin Alejo Czerwonko, kepala investasi untuk pasar berkembang, menilai diperlukan “komitmen yang jelas dan kredibel terhadap disiplin fiskal”.

“Beban pembuktian kini berada di tangan pemerintahan,” tulis mereka. “Investor kemungkinan masih akan bersikap skeptis dan memilih menunggu bukti baru dari menteri keuangan yang ditunjuk sebelum menilai ulang aset Brasil berdasarkan kemungkinan koreksi terhadap defisit anggaran.”

Tekanan juga meluas ke pasar mata uang negara berkembang. Indeks yang mengukur pergerakan mata uang kelompok negara tersebut ditutup melemah 0,3%. Meski demikian, beberapa mata uang Amerika Latin bergerak berlawanan dengan tren, termasuk peso Meksiko.

Gabriela Siller, kepala analisis ekonomi di Banco Base, menjelaskan bahwa peso mendapat keuntungan dari langkah investor yang mengurangi kepemilikan aset berbasis real Brasil dan mengalihkan dananya ke mata uang lain di kawasan tersebut.

Di pasar saham global, indeks saham negara-negara berkembang merosot ke posisi terendah sejak akhir Juli, terutama akibat kejatuhan saham Brasil. Indeks Kospi Korea Selatan sempat terkoreksi hingga 1,7% di tengah penantian investor terhadap laporan kinerja Microsoft Corp, Alphabet Inc, Amazon.com Inc, serta produsen cip Korea Selatan SK Hynix Inc dan Samsung Electronics Co.

Laporan keuangan perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai prospek investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Sementara itu, di pasar kredit, Kolombia menawarkan obligasi berdenominasi dolar AS senilai US$5,2 miliar. Nilai penerbitan tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah negara itu. Langkah ini berlangsung ketika pemerintahan baru berjanji mengendalikan defisit anggaran yang terus membengkak sekaligus mengembalikan utang pemerintah ke jalur yang berkelanjutan. (*)

(Zaky Al Hamzah/bloombergtechnoz)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID