Demokrat Raih Kemenangan Awal di Senat, Posisi Trump Terancam Berubah

Foto Pemilu di AS - 1

Pemilu AS. (Foto: Bloomberg/dok)

GEBRAK.ID, WASHINGTON – Partai Demokrat meraih kemenangan awal dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) yang berlangsung pada Selasa (3/11/2026). Hasil sementara tersebut memperbesar peluang Demokrat untuk merebut kembali kendali Senat setelah dua tahun pemerintahan Presiden Donald Trump yang diwarnai gejolak politik dan ketidakpuasan publik.

Pemungutan suara di sebagian besar wilayah AS mulai ditutup pada Selasa (3/11/2026). Hasil awal menunjukkan bahwa tingginya biaya hidup, kenaikan harga bahan bakar, serta ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Trump menjadi sejumlah isu utama yang memengaruhi pilihan pemilih.

Senator Jon Ossoff dari Georgia diproyeksikan memenangkan pemilihan di negara bagiannya, menurut Associated Press (AP) dan sejumlah organisasi media lainnya. Ossoff dikenal luas di kalangan Partai Demokrat melalui pidato-pidatonya yang mengkritik Trump karena dinilai memanfaatkan jabatan presiden untuk kepentingan pribadi.

Meskipun kemenangan Ossoff hanya mempertahankan kursi yang sebelumnya telah dikuasai Demokrat, hasil tersebut menjadi dorongan politik bagi partainya dalam upaya merebut mayoritas di Senat. Sejumlah negara bagian yang telah menutup seluruh atau sebagian tempat pemungutan suara (TPS) meliputi Georgia, South Carolina, North Carolina, Ohio, Florida, Michigan, Texas, dan Kansas.

Hasil jajak pendapat dan tren historis menunjukkan Partai Demokrat memiliki peluang lebih besar untuk merebut mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih sulit diprediksi.

Optimisme Demokrat meningkat setelah sejumlah survei menunjukkan keunggulan partai tersebut. Sebaliknya, Partai Republik harus mengalokasikan waktu dan dana lebih besar untuk mempertahankan kursi di sejumlah negara bagian yang selama ini menjadi basis kuat mereka, termasuk Kansas, Texas, Alaska, dan South Carolina.

Berdasarkan The Voter Poll, survei komprehensif yang dilakukan AP bersama SSRS, sekitar tiga perempat pemilih dalam pemilihan paruh waktu mengaku merasa “marah” atau “tidak puas” terhadap arah negara di bawah kepemimpinan Trump.

Selain itu, sekitar enam dari 10 pemilih menilai tingginya harga lebih disebabkan oleh “kebijakan Trump” dibandingkan faktor-faktor di luar kendalinya. Ketidakpuasan tersebut turut dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran.

Peluang Demokrat Menguasai Kongres
Untuk merebut mayoritas di DPR, Partai Demokrat hanya membutuhkan tambahan bersih tiga kursi. Cook Political Report, lembaga pemantau politik nonpartisan, memproyeksikan Demokrat berpeluang menambah 15 hingga 25 kursi di lembaga legislatif tersebut.

Sementara itu, persaingan di Senat membutuhkan upaya lebih besar. Demokrat harus merebut empat kursi yang saat ini dikuasai Partai Republik untuk memperoleh mayoritas.

Hasil akhir pemilu diperkirakan membutuhkan waktu beberapa pekan untuk diketahui. Perbedaan aturan penghitungan surat suara melalui pos di setiap negara bagian serta proses penghitungan yang lebih panjang di wilayah yang menggunakan sistem pemungutan suara berdasarkan peringkat pilihan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kepastian hasil.

Jika Demokrat berhasil merebut satu atau bahkan kedua kamar Kongres, hasil tersebut akan menjadi penolakan politik yang signifikan terhadap Trump dan Partai Republik. Kondisi ini terjadi hanya dua tahun setelah Trump kembali ke Gedung Putih dengan kemenangan besar dalam pemilihan presiden 2024.

Dalam kampanye 2024, Trump berjanji mengatasi inflasi dan menjaga AS agar tidak terlibat dalam konflik di luar negeri. Namun, sejumlah survei menunjukkan banyak pemilih yang sebelumnya mendukungnya kini menyesali pilihan mereka.

Trump Siapkan Perlawanan Politik
Sebelum hasil pemilu diumumkan, Trump telah mengantisipasi kemungkinan perubahan komposisi kekuatan politik di Washington. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyatakan akan menjadi “Mr. Veto” untuk menghadapi Partai Demokrat apabila partai tersebut berhasil menguasai mayoritas di DPR atau Senat.

Trump juga mengaku optimistis terhadap peluang Partai Republik dan kemampuannya melanjutkan agenda pemerintahan melalui kewenangan eksekutif.

Sepanjang sebulan menjelang Hari Pemilu, Trump menggelar lebih dari selusin kampanye, sebagian besar di wilayah yang menjadi basis kuat Partai Republik. Ia meminta para pendukungnya memberikan suara seolah-olah namanya juga tercantum dalam surat suara.

Namun, tingkat persetujuan publik terhadap Trump yang berada di titik terendah dinilai menjadi tantangan bagi sejumlah kandidat Partai Republik. Beberapa politikus partai tersebut bahkan menyampaikan ketidaknyamanan terhadap pesan penutup kampanye Trump yang tidak biasa. Hal itu termasuk komentarnya mengenai proyek renovasi di Washington dan penampilan fisik Senator Ohio, Jon Husted.

Jajak pendapat New York Times/Siena University pada Oktober juga menemukan bahwa pemilih yang kemungkinan besar memberikan suara lebih memercayai Partai Demokrat dibandingkan Partai Republik dalam menangani sejumlah persoalan, termasuk ekonomi, konflik luar negeri, dan imigrasi.

Potensi Penyelidikan dan Kebuntuan Politik
Kekalahan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu berpotensi membawa konsekuensi besar bagi dua tahun terakhir pemerintahan Trump. Selama ini, presiden menikmati dukungan Kongres yang relatif minim memberikan perlawanan terhadap kebijakan pemerintahannya.

Kongres telah mengonfirmasi sejumlah calon anggota kabinet yang kontroversial, mengesahkan undang-undang pemotongan pajak andalan Trump, serta sebagian besar tidak berupaya membatasi kewenangannya dalam menetapkan tarif maupun melancarkan operasi militer terhadap Iran.

Jika kembali menguasai Kongres, Partai Demokrat telah mengisyaratkan akan melakukan penyelidikan terhadap Trump dan sejumlah sekutunya. Kemungkinan tersebut berulang kali dikecam oleh presiden dalam beberapa bulan terakhir.

Di sisi lain, Trump dan Partai Demokrat tetap harus bekerja sama dalam sejumlah persoalan fiskal penting, termasuk pendanaan pemerintah dan upaya menaikkan batas utang negara. Sementara itu, apabila Partai Republik mampu memperoleh hasil lebih baik daripada perkiraan, kondisi tersebut berpotensi memberikan dorongan politik bagi Trump.

Situasi itu dapat menyerupai pemilihan paruh waktu 2022 ketika Presiden AS saat itu, Joe Biden, memanfaatkan hasil yang lebih baik dari perkiraan untuk menyatakan bahwa kepemimpinannya memperoleh dukungan publik. Dalam pemilu tersebut, Partai Demokrat berhasil menambah satu kursi di Senat dan kehilangan lebih sedikit kursi DPR dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Sengketa Hukum Membayangi Penghitungan Suara
Selain persaingan politik, sejumlah gugatan hukum turut membayangi pelaksanaan pemilihan paruh waktu AS 2026. Perselisihan di pengadilan diperkirakan semakin meningkat apabila hasil pemilihan di sejumlah wilayah berlangsung ketat.

Departemen Kehakiman AS telah mengajukan banding terhadap keputusan hakim federal yang menolak gugatan untuk mencegah Alaska mengesahkan hasil pemilihan Senat sebelum pemungutan suara apabila kandidat Partai Republik mengalami kekalahan tipis.

Dalam perkara lain, Mahkamah Agung AS menolak upaya pemerintahan Trump untuk memaksa ribuan surat suara di California disisihkan berdasarkan tuduhan yang belum terbukti bahwa surat suara tersebut diberikan oleh warga negara asing.

Sementara itu, pengadilan banding AS mencabut putusan yang sebelumnya melarang Departemen Kehakiman mengancam pejabat pemilu tingkat negara bagian dan lokal dengan tuntutan pidana apabila mereka menghitung surat suara yang dipersengketakan.

Hasil pemilihan paruh waktu ini menjadi penentu penting bagi keseimbangan kekuasaan politik di AS. Selain menentukan komposisi DPR dan Senat, hasilnya juga akan memengaruhi kemampuan Trump menjalankan agenda pemerintahannya hingga akhir masa jabatan pada 2029. (*)

(Zaky Al Hamzah/AP/Bloomberg)

Dukung GEBRAK.ID

Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.

Dukung lewat Saweria
Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID