Dongfeng Kejar Hak Perdana Baterai CATL 6 Menit, Peta Persaingan Super Fast Charging China Makin Panas
Namun, perbandingan menunjukkan perang pengisian saya super cepat masih hanya klaim di atas kertas. (Foto:Dongfeng)
GEBRAK. ID, JAKARTA— Produsen otomotif China, Dongfeng Motor, dilaporkan tengah melakukan negosiasi intensif dengan raksasa baterai CATL untuk mengamankan hak peluncuran perdana baterai Shenxing generasi ketiga. Baterai dengan klaim pengisian penuh hanya dalam waktu sekitar 6 menit ini menjadi rebutan sejumlah pabrikan menjelang kuartal keempat 2026.
Negosiasi antara Dongfeng dan CATL diketahui telah berlangsung sejak kuartal kedua tahun ini. Mengutip laporan eksklusif 21CBH yang dikutip CarNewsChina, Dongfeng tidak hanya mengejar hak pertama penggunaan baterai tersebut, tetapi juga berupaya membentuk perusahaan patungan guna memperoleh jaminan pasokan serta posisi tawar dalam harga.
Langkah ini diambil Dongfeng untuk memperkuat daya saing produk listriknya di pasar domestik yang semakin ketat. Pada 29 Oktober lalu, kedua perusahaan telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis tingkat grup. Dalam kesepakatan itu, merek-merek di bawah Dongfeng seperti Voyah, M-Hero, dan Yijing direncanakan menjadi pengguna awal produk pengisian daya cepat 10C ke atas.
Baca Juga
Klaim 6 Menit dan Tantangan Infrastruktur
Baterai Shenxing generasi ketiga diperkenalkan CATL pada 21 April 2026. Berdasarkan data resmi CATL, baterai ini mampu melakukan pengisian dari 10 persen ke 80 persen dalam waktu 3 menit 44 detik, dan dari 10 persen ke 98 persen dalam 6 menit 27 detik. Bahkan pada kondisi ekstrem -30 derajat Celsius, pengisian dari 20 persen ke 98 persen diklaim hanya membutuhkan sekitar 9 menit.
Namun, angka-angka tersebut masih merupakan klaim laboratorium. Penerapan di kendaraan produksi massal sangat bergantung pada ketersediaan arsitektur kendaraan 800 volt atau lebih tinggi, serta infrastruktur pengisi daya berdaya sangat besar yang belum merata di China, apalagi di Indonesia.
Peta Persaingan: Siapa Saja Pesaingnya?
Klaim kecepatan pengisian daya saat ini menjadi ajang perlombaan utama pabrikan China. Selain Dongfeng-CATL, sejumlah teknologi dan model kendaraan telah hadir atau segera hadir dengan spesifikasi serupa. Berikut perbandingannya:
1. BYD Blade Battery Generasi Kedua (Sudah Produksi Massal) BYD menjadi pesaing terdekat yang sudah lebih dulu melangkah. Baterai Blade generasi kedua diklaim mampu mengisi daya dari 10 persen ke 70 persen dalam 5 menit, dan ke 97 persen dalam 9 menit. Keunggulan BYD bukan pada angka tercepat, melainkan pada realisasi. Teknologi ini bahkan telah diterapkan pada model murah seperti BYD Seagull di China.
Untuk pasar Indonesia, model seperti BYD Seal dan Sealion 7 masih menggunakan Blade Battery generasi pertama dengan kapasitas 82,56 kWh. Harga BYD Seal di Indonesia per Oktober 2026 berada di kisaran Rp869 juta, sedangkan Sealion 7 Rp879 juta.
2. Chery Volt-dragon (Teknologi Baru Diperkenalkan)
Chery memperkenalkan sistem pengisian daya super cepat bernama Volt-dragon pada Oktober 2026. Teknologi ini diklaim mampu menambah jarak tempuh 500 km hanya dalam 5 menit, atau mengisi dari 10 persen ke 97 persen dalam 6 menit 50 detik. Chery belum mengumumkan model produksi yang akan menggunakan teknologi ini.
Di Indonesia, Chery memiliki lini kendaraan listrik seperti Omoda E5 yang dibanderol mulai sekitar Rp379,9 juta, namun model tersebut belum mengadopsi Volt-dragon.
3. Zeekr 001 dengan Golden Battery (Mendekati Produksi)
Zeekr, merek premium Geely, telah membekali Zeekr 001 dengan baterai Golden Battery berkapasitas 95 kWh. Berdasarkan data pengujian, pengisian dari 10 persen ke 80 persen dapat ditempuh dalam waktu sekitar 7 menit dengan arsitektur 900 volt. Harga Zeekr 001 di China mulai dari 269.800 yuan (sekitar Rp600 jutaan), namun merek ini belum masuk secara resmi ke pasar Indonesia.
Perang Angka vs Realitas
Perbandingan di atas menunjukkan bahwa perang pengisian daya super cepat masih didominasi oleh klaim di atas kertas. CATL Shenxing generasi ketiga memang memimpin dari sisi angka teoretis, tetapi belum ada satu pun kendaraan produksi yang mengonfirmasi penggunaan baterai ini secara resmi hingga laporan ini diturunkan.
Di sisi lain, BYD memiliki keunggulan karena telah lebih dulu menurunkan teknologi pengisian cepat ke kendaraan produksi massal, bahkan di segmen harga terjangkau. Sementara Chery dan Zeekr berada di posisi tengah, dengan teknologi yang sudah diperkenalkan namun belum sepenuhnya teruji di jalan raya.
Bagi konsumen, khususnya di Indonesia, dampak langsung dari persaingan ini masih akan terasa dalam beberapa tahun ke depan. Tantangan terbesarnya bukan hanya pada teknologi baterai, melainkan pada kesiapan jaringan pengisian daya ultra-cepat yang membutuhkan investasi infrastruktur masif
(Damar PY/ berbagai sumber)
Jika berita kami bermanfaat, dukung keberlanjutan jurnalisme independen melalui donasi sukarela.
Dukung lewat SaweriaMau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID