Dari IPK 2,97 hingga Guru Besar UGM: Perjalanan Inspiratif Prof Nurul Indarti
Wanita kelahiran Yogyakarta pada 1976 ini bercerita kalau meraih titel guru besar bisa dibilang tidak mudah. Ia mengajukan usulan guru besar pada 2017 namun belum lolos di tingkat universitas. Ia pun kembali mengajukan usulan guru besar di tahun 2019 dan akhirnya pada tahun 2020 secara resmi Nurul memperoleh SK guru besar.
“Guru besar itu bukan tujuan, tetapi konsekuensi dari menjalankan tanggung jawab dengan baik sebagai dosen yang diikat oleh tridharma yang core-nya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan. Ketika kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dijalankan dengan baik maka yang lain akan mengikuti, termasuk jabatan guru besar,†kata Nurul menjelaskan.
Pada saat pengukuhan sebagai guru besar, ia berkomitmen untuk terus memproduksi pengetahuan melalui penelitian, menyebarkan hasilnya melalui beragam kanal publikasi dan pengajaran, serta mengaplikasikannya dalam aktivitas pengabdian kepada masyarakat di berbagai konteks.
“Setiap pencapaian dalam hidup, termasuk jabatan akademik profesor, tidak pernah bersifat personal semata. Dalam prosesnya, banyak pihak yang berkontribusi dan melapangkan jalan, semua itu atas kehendak Allah Yang Maha Melapangkan. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,†ungkapnya, saat di Balai Senat UGM.
Nurul dikenal sebagai dosen UGM yang fokus melakukan kajian soal kewirausahaan termasuk dari kelompok marjinal seperti perempuan dan penyandang disabilitas. Seperti pidatonya saat pengukuhannya sebagai guru besar, judulnya Melihat Kewirausahaan dari Pinggiran: Perspektif Etnis, Perempuan, dan Sosial.
Nurul mengaku bersyukur bisa dikukuh Guru Besar pada usia 48 tahun. Bahkan ia tak menyangka menjadi perempuan pertama di prodi Manajemen yang berhasil meraih guru besar. “Bersyukur, saya merasa lega karena ini adalah kewajiban yang tertunda sejak November 2020 jadi saya sudah bisa menyelesaikan kewajiban ini. Ini adalah pertanggungjawaban publik saya atas apa yang saya terima sebagai guru besar.â€
Sebagai perempuan, Nurul menyatakan bahwa ia merasa dimudahkan dalam proses dirinya menjadi guru besar berkat dukungan dan motivasi dari keluarga yang membantunya dalam meraih gelar profesor. Bagi Nurul, dukungan keluarga merupakan sebuah faktor penting dalam usaha seseorang mencapai mimpinya. Apabila seseorang sedang berjuang untuk mencapai cita-cita atau mimpinya, maka sebaiknya keluarga menjadi kelompok yang paling besar memberikan dukungan moril.
Nurul telah mengembangkan kurikulum kewirausahaan menjadi kurikulum wajib bagi mahasiswa program sarjana prodi manajemen pada tahun 2004 silam. Sementara di Magister Manajemen UGM, ia mengembangkan konsentrasi kewirausahaan pada 2011. Ia juga menginisasi kurikulum keberlanjutan pada program Master in Sustainability Development and Management (MASUDEM) MM FEB UGM.
Nurul mengatakan, dengan mengemban jabatan sebagai guru besar, tanggung jawab untuk berkontribusi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat semakin besar pula. Sehingga seorang guru besar harus bisa menjadi teladan bagi mahasiswa dan memiliki nilai bagi dunia akademik.
(kmp/gpt/end)
