Dikembalikan Belanda ke Indonesia, Fosil the Java Man yang Ditemukan Dubois 130 Tahun Silam Kini Dipamerkan
Marcel menegaskan bahwa koleksi Dubois memiliki arti penting tidak hanya bagi Indonesia dan Belanda, tetapi masyarakat dunia. “Fosil ini menjadi saksi atas mata rantai penting dalam evolusi manusia, sekaligus merepresentasikan bagian dari sejarah Indonesia dan merupakan warisan budaya,” ujarnya.
Marcel juga menekankan bahwa penyerahan artefak kali ini menandai fase baru hubungan Indonesia-Belanda. “Penyerahan ini merupakan permulaan dari tahap berikutnya. Kami berniat untuk melakukan repatriasi atas ribuan koleksi yang digali di Indonesia lebih dari 130 tahun lalu,” cetusnya.
Marcel menambahkan, untuk memastikan kelancaran proses tersebut, pihaknya akan terus bekerja sama dengan para ahli Indonesia untuk menjamin fosil dikirim secara aman, sekaligus proses alih data dan para ahli yang terlibat di dalamnya.
Penyerahan dan pengakuan pemindahan kepemilikan atas empat koleksi fosil Dubois ditandai dengan penandatanganan kesepakatan antara Menbud RI Fadli Zon dan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk RI, Mark Gerritsen. Penyerahan ini menandai komitmen bersama antara Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia dalam semangat kerja sama, saling menghormati, dan keadilan sejarah.
Sejarah Awal menghadirkan alur kronologis yang runut dan kontekstual dengan menempatkan Indonesia sebagai ruang pertemuan migrasi dan budaya. Pameran ini menampilkan fosil fragmen Tengkorak, Gigi Geraham, dan Tulang Paha Homo erectus hasil temuan Eugène Dubois yang diperkirakan berasal dari 1 juta tahun yang lalu, serta Cangkang Kerang Bergores.
Pameran ini juga dilengkapi dengan ilustrasi ilmiah, serta konten multimedia imersif yang dirancang untuk menjangkau masyarakat secara luas dan inklusif.
Pamerah ini terwujud melalui kolaborasi lintas lembaga dan mitra kreatif, antara lain Naturalis Biodiversity Center, Leiden; Fadli Zon Library (FZL); Epson; Museum Geologi Bandung; Badan Riset dan Inovasi Nasional; Apud Budianto; Bambang Win; Arafura; dan Jiwakreasi. Kolaborasi ini menegaskan tanggung jawab bersama dalam pelestarian dan diseminasi warisan budaya serta ilmu pengetahuan.
Turut hadir pada acara tersebut antara lain Anggota DPR RI Komisi X, Bonnie Triyana; Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana; Tim Ahli Repatriasi; perwakilan diplomatik negara sahabat; serta para akademisi dan peneliti.
Mendampingi Menbud Fadli Zon antara lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta; Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Inspektur Jenderal Kementerian Kebudayaan, Fryda Lucyana.
Kemudian, Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan, Masyithoh Annisa Ramadhani Alkatiri; Staf Ahli Menteri Kebudayaan Bidang Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Staf Khusus Menteri Bidang Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, M. Asrian Mirza; Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kebudayaan, Katharine Grace Fadli Zon; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Esti Nurjadin; dan jajaran Kementerian Kebudayaan.
Melalui penyelenggaraan pameran Sejarah Awal: Jejak Manusia Jawa, Kini Kembali, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk merawat, meneliti, dan membuka akses seluas-luasnya terhadap warisan budaya dan ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Pameran ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran publik yang memperkuat pemahaman sejarah awal Indonesia, menumbuhkan kebanggaan nasional, serta mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa.
(devo)

