JAKARTA — Mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bukan sekadar tugas profesi, melainkan panggilan pengabdian. Keterbatasan listrik, akses internet, hingga sarana belajar yang minim menjadi tantangan sehari-hari. Namun di balik kondisi tersebut, para guru tetap berjuang menghadirkan pembelajaran bermakna bagi siswa di pelosok negeri.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pemerataan akses pendidikan di daerah 3T, baik melalui kebijakan, peningkatan kompetensi guru, maupun dukungan teknologi pembelajaran.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Kemendikdasmen, Nunuk Suryani menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional menempatkan guru sebagai aktor utama pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah, kata dia, tidak hanya fokus pada akses, tetapi juga kualitas pembelajaran agar relevan dengan perkembangan zaman.
Kreativitas Guru di Tengah Keterbatasan
Semangat tersebut tercermin dari pengalaman Muhammad Fathul Arifin, guru yang selama lima tahun mengajar di wilayah 3T di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Sejak 2020, ia bertugas di SMA Swasta Bina Ilmu sebelum dipindahkan ke SMK Negeri 2 Buntok pada Januari 2026 setelah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Selama bertugas di daerah terpencil, Fathul menghadapi berbagai kendala, mulai dari fasilitas belajar yang terbatas hingga listrik dan internet yang tidak stabil. Namun kondisi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk berinovasi.
Fathul memanfaatkan proyektor yang ditenagai generator listrik, menggunakan presentasi digital, hingga menghadirkan gim edukasi untuk menjaga minat belajar siswa. Pendekatan humanis dan suasana kelas yang santai juga diterapkan agar siswa merasa nyaman dan percaya diri.
Selain menyampaikan materi, Fathul berusaha membangun motivasi dan pola pikir siswa melalui contoh nyata serta pengalaman hidup. Menurutnya, hal tersebut penting agar siswa memiliki harapan dan cita-cita meski tinggal di daerah terpencil.
Teknologi Membawa Perubahan Nyata
Perkembangan signifikan mulai terasa ketika sekolahnya menerima dukungan teknologi dari pemerintah, seperti Papan Interaktif Digital, akses internet satelit Starlink, serta tenaga surya.
Fasilitas tersebut membantu kelancaran proses pembelajaran, pelaksanaan ujian, hingga kegiatan praktik yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan infrastruktur.
Kini, dengan penugasan barunya, Fathul membawa pengalaman berharga dari wilayah 3T sebagai bekal untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Ia berharap perhatian terhadap sekolah di pelosok terus diperkuat agar kesenjangan pendidikan antara desa dan kota semakin mengecil.
Melalui sinergi kebijakan pemerintah dan dedikasi para guru, transformasi pendidikan di wilayah 3T diharapkan mampu melahirkan generasi unggul dari seluruh penjuru Indonesia.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Dari Desa Terpencil ke Kelas Modern: Kisah Guru Daerah 3T Menaklukkan Keterbatasan dengan Inovasi"