JAKARTA — Pemerintah bergerak cepat merespons bencana angin kencang yang merusak bangunan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada SMPN 48 Sa Ate di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski fasilitas sekolah terdampak, kegiatan belajar mengajar dipastikan tetap berjalan agar hak pendidikan siswa tidak terhenti.
Langkah awal dilakukan melalui peninjauan langsung ke lokasi oleh tim Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi NTT pada Sabtu (14/2/2026). Kunjungan tersebut dilakukan bersama Dinas Pendidikan setempat untuk menilai tingkat kerusakan bangunan sekaligus memetakan kebutuhan penanganan darurat dan pemulihan jangka panjang.
Sekolah yang berada di wilayah pegunungan dengan akses terbatas itu membutuhkan koordinasi lintas instansi agar bantuan dapat segera menjangkau lokasi.
Belajar Sementara di Sekolah Tetangga
Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan, kegiatan belajar sementara dialihkan dengan menumpang di SDN Saikui yang berada di Desa Bu Utara, Kecamatan Tana Wawo. Kebijakan ini diambil sebagai solusi darurat hingga sarana SMPN 48 Sa Ate kembali layak digunakan.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan negara tidak boleh membiarkan anak kehilangan akses belajar akibat bencana.
“Proses pembelajaran harus tetap berjalan meskipun dalam kondisi darurat. Terutama di wilayah terpencil, kehadiran negara harus dirasakan cepat,” ujar Gogot di Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Revitalisasi Jadi Prioritas 2026
Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan rencana pemulihan infrastruktur sekolah. Berdasarkan hasil asesmen lapangan, kebutuhan revitalisasi mencakup pembangunan tiga ruang kelas baru, ruang guru, ruang kepala sekolah, serta satu unit toilet.
Usulan tersebut akan diperkuat sebagai prioritas dalam perencanaan anggaran tahun 2026 agar fasilitas pendidikan dapat kembali berfungsi optimal.
Menurut Gogot, pemulihan sekolah bukan sekadar membangun ulang gedung yang rusak, melainkan memastikan lingkungan belajar kembali aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Harapan dari Pihak Sekolah
Kepala SMPN 48 Sa Ate, Maria Astinuli, menyambut baik kunjungan tim BPMP NTT. Ia menilai kehadiran pemerintah memberikan harapan bagi sekolah yang saat ini masih dalam kondisi darurat.
Menurutnya, verifikasi lapangan yang dilakukan tim juga penting untuk memastikan kondisi sebenarnya di tengah berbagai informasi yang beredar di media sosial.
“Kunjungan ini sangat berarti karena pemerintah bisa melihat langsung kondisi sekolah kami dan mendorong penanganan yang lebih cepat,” ujar Maria dari Maumere.
Saat ini sekolah tersebut hanya memiliki dua ruang kelas darurat untuk menampung 52 siswa — terdiri dari 22 siswa kelas VII dan 30 siswa kelas VIII. Tenaga pendidik berjumlah 11 orang, dengan mayoritas berstatus honorer.
Komitmen Pemerintah untuk Daerah Terdampak
Meski menghadapi keterbatasan sarana, proses belajar tetap berlangsung berkat upaya guru dan dukungan masyarakat setempat. Pemerintah pun berjanji terus memantau perkembangan serta mempercepat bantuan sesuai prosedur yang berlaku.
Penanganan ini menjadi bagian dari komitmen negara dalam menjamin akses pendidikan bagi seluruh anak Indonesia, termasuk di daerah terpencil dan wilayah yang terdampak bencana.
(Sumber: Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Sekolah Rusak Diterjang Angin, Kemendikdasmen Pastikan Siswa SMPN 48 Sa Ate NTT Tetap Belajar"