Menurut Mendikdasmen Mu’ti, capaian setahun terakhir menjadi pijakan kuat untuk “tancap gas” di 2026. Program revitalisasi satuan pendidikan yang semula menargetkan 10.440 sekolah, realisasinya justru menembus 16.167 sekolah dengan dukungan anggaran Rp16,9 triliun. Distribusi perangkat Interactive Flat Panel (IFP) pun telah menjangkau ratusan ribu satuan pendidikan secara penuh.
“Dengan skema swakelola, program berjalan tepat sasaran, tepat waktu, dan ikut menggerakkan ekonomi lokal,” ujar Mu’ti.
Target 60 Ribu Sekolah dan Tiga IFP per Satuan Pendidikan
Memasuki 2026, pemerintah menaikkan ambisi: 60.000 satuan pendidikan akan direvitalisasi. Pada saat yang sama, digitalisasi pembelajaran dilanjutkan dengan rencana tiga IFP untuk setiap sekolah yang distribusinya dimulai bertahap tahun ini.
Langkah ini bukan sekadar belanja perangkat. Pemerintah ingin memastikan teknologi benar-benar dipakai untuk memperkaya pengalaman belajar di kelas.
Peningkatan Mutu dan Kesejahteraan Guru
Dari sisi sumber daya manusia, 2025 mencatat pelaksanaan PPG bagi 804.157 guru (ASN dan non-ASN) serta bantuan peningkatan kualifikasi S1/D4 untuk 12.500 guru. Pendekatan pembelajaran mendalam juga telah melatih lebih dari 52 ribu kepala sekolah dan 186 ribu pendidik.
“Pembelajaran harus bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan—melibatkan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara utuh,” jelas Mu’ti.
Kabar baik lain datang dari sisi kesejahteraan. Mulai 2026:
* Tunjangan sertifikasi guru non-ASN naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan
* Insentif guru non-ASN menjadi Rp400 ribu per bulan
* Subsidi upah menjangkau 253 ribu guru PAUD nonformal
“Guru adalah kunci mutu pendidikan. Kesejahteraan mereka harus terus diperbaiki,” tegas Mu'ti.
Tes Kemampuan Akademik Bukan untuk Ranking
Dalam evaluasi pembelajaran, Kemendikdasmen memperkenalkan Transformasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang diikuti 3,48 juta siswa SMA/SMK/MA pada November 2025. Mu’ti menekankan, TKA bukan ajang pemeringkatan.
“Hasilnya menjadi bahan refleksi dan perbaikan proses belajar, bukan soal skor atau ranking,” kata Mu'ti.
Tujuh Kebiasaan Sederhana untuk Karakter Hebat
Penguatan karakter siswa didorong lewat Gerakan Tujuh Kebiasaan Indonesia Hebat: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Gerakan ini sudah diikuti 170.870 satuan pendidikan di 38 provinsi.
Pemerintah juga menerbitkan aturan tentang budaya sekolah yang aman dan nyaman, serta mendorong penguatan nasionalisme melalui upacara dan ikrar pelajar setiap Senin.
Sepanjang 2025, siswa Indonesia menorehkan 66 penghargaan internasional: 3 emas, 27 perak, 31 perunggu, dan 5 honorable mention.
DPR: Pendidikan Butuh Partisipasi Nyata, Bukan Politik
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai forum konsolidasi ini penting untuk menyatukan langkah pusat dan daerah berbasis data dan partisipasi bermakna. “Kebijakan pendidikan harus bertumpu pada data dan kolaborasi lintas sektor, bukan semata pertimbangan politik,” ujarnya.
Hetifah menegaskan pendidikan adalah kerja kolektif. DPR, kata Hetifah, berkomitmen mengawal fungsi pengawasan, legislasi, dan anggaran secara partisipatif, termasuk menjaga dana mandatori pendidikan.
Sinergi 900 Pemangku Kepentingan
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, melaporkan sekitar 900 peserta terlibat, mulai dari kementerian/lembaga, DPR, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga mitra pembangunan internasional.
Selama tiga hari, peserta membahas perencanaan, pembiayaan, tata kelola guru, hingga kebijakan baru seperti pembelajaran mendalam, coding, dan kecerdasan artifisial, serta berbagi praktik baik daerah—mulai dari sistem penerimaan murid baru hingga pembelajaran jarak jauh di wilayah tertinggal.
“Pendidikan bermutu untuk semua hanya bisa terwujud jika semua pihak bergotong royong,” ujar Suharti.
Arah 2026: Kolaborasi dan Pemerataan Mutu
Menutup paparannya, Mu’ti menegaskan seluruh kebijakan pendidikan 2026 diarahkan pada penguatan partisipasi dan kolaborasi agar mutu pendidikan benar-benar dirasakan di seluruh Indonesia.
“Kami ingin memastikan pendidikan bermutu hadir nyata untuk semua anak Indonesia,” pungkas Mu'ti.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Peta Besar Pendidikan 2026: Sekolah Direvitalisasi, Guru Diperhatikan, Kelas Makin Digital"