![]() | |
|
"Saya rasa perang ini sudah hampir selesai," kata Trump dalam sebuah wawancara telepon, Minggu (8/3/2026). "Mereka sudah tidak punya angkatan laut, tidak punya sistem komunikasi, juga tidak punya angkatan udara. Ini jauh lebih cepat dari perkiraan saya."
Namun di balik pernyataan optimistis itu, fakta di lapangan berbicara lain. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) justru mengumumkan pada Senin (9/3/2026) bahwa mereka telah berhasil melancarkan gelombang serangan ke-30 terhadap target AS dan Israel di Timur Tengah menggunakan drone dan rudal hipersonik serta balistik.
Kontradiksi di Lapangan: Evakuasi vs Klaim Kemenangan
Sementara Trump bicara damai, Pemerintah Washington justru mengambil langkah kontradiktif. AS untuk pertama kalinya memerintahkan evakuasi wajib (mandatory departure) bagi para diplomat dan staf pemerintahnya di Arab Saudi—level evakuasi tertinggi yang menunjukkan situasi keamanan sangat genting.
Perintah itu tidak hanya berlaku bagi pegawai pemerintah AS di ibu kota Riyadh, tetapi juga di Jeddah dan Dhahran, dua kota tempat konsulat AS berada. Langkah ini diambil setelah serangkaian serangan Iran menargetkan fasilitas AS di kawasan, termasuk serangan drone ke Kedutaan AS di Riyadh yang menyebabkan kebakaran terbatas.
"Ini penarikan diplomatik terbesar AS di Timur Tengah sejak Perang Irak 2003," tulis laporan Associated Press, menggambarkan skala krisis yang sebenarnya masih jauh dari kata usai.
Gelombang Ke-30 dan Ledakan di Bahrain
IRGC menyatakan gelombang ke-30 "Operasi Janji Sejati 4" berhasil dilakukan dengan "keberhasilan 100 persen" bertepatan dengan pelantikan pemimpin baru, Mojtaba Khamenei.
Target serangan meliputi pangkalan "teroris AS" di kawasan serta wilayah pendudukan utara menggunakan rudal Khorramshahr, Fattah, dan Kheibar, serta drone strategis. Serangan ini juga menghantam fasilitas Bahrain Petroleum Company (Bapco) di desa Maameer hingga terbakar.
Kementerian Kesehatan Bahrain mengonfirmasi serangan drone Iran di area Sitra menyebabkan 32 warga sipil terluka, termasuk empat orang dalam kondisi kritis. Korban termuda adalah bayi berusia dua bulan, sementara seorang gadis 17 tahun mengalami luka serius di kepala dan mata.
Dampak Ekonomi dan Gejolak Pasar
Pernyataan Trump soal perang yang hampir usai memang sempat menenangkan pasar. Harga minyak sempat melonjak 30 persen hingga menyentuh USD 115 per barel sebelum kembali turun ke USD 94,77 setelah pidato Trump. Bursa saham di Toronto dan New York yang sempat ambruk pun berakhir menguat di akhir sesi.
Namun, klaim kemenangan AS di satu sisi dan serangan terus-menerus Iran di sisi lain menunjukkan bahwa "akhir perang" masih jauh dari kenyataan. Dengan ribuan warga sipil menjadi korban, Timur Tengah masih bergulat dengan konflik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.
(Berbagai Sumber)

Posting Komentar untuk "Sinyal Damai di Tengah Badai: Trump Klaim Perang dengan Iran "Hampir Berakhir", tapi AS Justru Evakuasi Diplomat dari Saudi"