Dari Tukang Bangunan ke Mahasiswa Berprestasi UGM, Kisah Alfath Biayai UTBK dari Upah Proyek

Alfath Qornain Isnan Yuliadi, mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM). (Foto: Dok.UGM)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID – Jalan menuju bangku kuliah tak selalu mulus. Bagi Alfath Qornain Isnan Yuliadi, mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), perjalanan itu dimulai dari proyek bangunan, debu semen, dan besi tulangan.

Sebelum resmi menjadi mahasiswa dan meraih predikat berprestasi, Alfath pernah bekerja sebagai tukang bangunan membantu ayahnya. Upah harian yang ia terima sebagian ditabung untuk membayar biaya Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), tiket masuk menuju perguruan tinggi negeri (PTN) impiannya.

Lulusan SMK yang tak Ingin Berhenti di Tengah Jalan

Sejak awal, kuliah bukanlah rencana utama bagi Alfath. Ia disekolahkan di SMK agar setelah lulus bisa langsung bekerja membantu keluarga. Kondisi ekonomi menjadi pertimbangan besar.

“Awalnya memang tarik ulur. Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK supaya setelah lulus bisa langsung bantu kerja,” ujar Alfath dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (10/4/2026).

Namun di dalam diri Alfath tumbuh keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan. Ia meyakini, jika hanya berhenti di jenjang SMK, ruang berkembangnya akan lebih terbatas.

“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” cetus Alfath.

Keputusan itu bukan hal ringan. Ia sadar pilihannya akan berdampak pada kondisi keluarga. Karena tak ingin membebani orang tua, Alfath memilih membiayai persiapan kuliahnya secara mandiri.

Sisihkan Rp50 Ribu per Hari untuk Biaya UTBK

Bersama ayahnya, Alfath mengerjakan hampir seluruh pekerjaan di proyek—menggali pondasi, mengangkut material, hingga membantu pekerjaan struktur. Dari upah hariannya, ia menyisihkan Rp50 ribu untuk ditabung sebagai biaya pendaftaran UTBK dan kebutuhan sekolah.

“Saya nggak enak minta ke Bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” kata Alfath.

Tak hanya bekerja, Alfath juga belajar di sela waktu. Polanya disiplin: empat hari bekerja, tiga hari fokus belajar penuh menjelang ujian.

Namun ujian mentalnya belum selesai. Menjelang hari tes, Alfath mengalami kecelakaan kerja setelah terjatuh dari lantai dua proyek. Rasa khawatir sempat menghantui.

“Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” ujar Alfath.

Tangis Haru Saat Dinyatakan Lolos UGM

Hari pengumuman menjadi momen tak terlupakan. Alfath membuka hasil seleksi seorang diri di kamar. Saat dinyatakan lolos UGM, ia langsung berlari memeluk kakeknya.

“Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, saya jadi kuliah,” kenang Alfath.

Alfath menjadi satu-satunya cucu yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Kebanggaan keluarga menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus berprestasi.

Dari Mahasiswa Introvert ke Insan Berprestasi UGM

Di tahun pertama kuliah, Alfath mengaku masih fokus pada akademik dan cenderung tertutup. Namun memasuki semester tiga, ia mulai aktif di organisasi dan kompetisi, termasuk di Badan Semi Otonom (BSO) Sekolah Vokasi UGM.

“Saya dulu bahkan diajak lomba nggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting,” kata Alfath.

Tak tanggung-tanggung, Alfath telah mengikuti sedikitnya 15 kompetisi tingkat nasional dan internasional. Salah satu pencapaian membanggakan adalah menjadi finalis kompetisi yang digelar oleh Nanyang Technological University Singapura.

Dedikasi dan konsistensinya mengantarkan Alfath meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM tahun 2025. “Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” ujarnya.

Pendidikan sebagai Jalan Mobilitas Sosial

Kisah Alfath menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan tinggi dapat membuka peluang mobilitas sosial. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan lulusan pendidikan tinggi memiliki peluang pendapatan dan akses kerja formal yang lebih besar dibanding lulusan pendidikan menengah.

Di sisi lain, akses perguruan tinggi melalui jalur UTBK-SNBT juga semakin kompetitif setiap tahunnya, sehingga perjuangan seperti yang dilakukan Alfath menjadi inspirasi bagi banyak siswa dari keluarga sederhana.

Bagi Alfath, kunci utamanya adalah berani bermimpi dan memaksimalkan usaha. “Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal,” pungkasnya.

(Sumber: ugm.ac.id)

Posting Komentar untuk "Dari Tukang Bangunan ke Mahasiswa Berprestasi UGM, Kisah Alfath Biayai UTBK dari Upah Proyek"