Rusia-China Blokir Resolusi DK PBB soal Selat Hormuz, Dunia Terbelah di Tengah Ancaman Perang Besar

Sidang Umum PBB. (Foto: setneg.go.id)
 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA --Ketegangan geopolitik global kembali memuncak setelah Rusia dan China memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) terkait Selat Hormuz. Keputusan ini terjadi di tengah konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sekutunya—yang berpotensi mengguncang stabilitas energi dunia.
 
Kronologi: Terjadi di Tengah Krisis Perang Iran–AS

Peristiwa veto ini terjadi pada 7 April 2026 dalam sidang DK PBB di New York. Saat itu, situasi Timur Tengah sedang memanas akibat perang yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sejak akhir Februari 2026. 

Konflik tersebut berdampak langsung pada Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia—yang praktis terganggu akibat tindakan Iran membatasi lalu lintas kapal. 

Bahkan, menjelang pemungutan suara, Presiden AS Donald Trump saat itu mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, mempertegas situasi yang semakin genting. 

Siapa yang Memprakarsai Resolusi?
 
Resolusi tersebut diprakarsai oleh Bahrain dan didukung oleh mayoritas anggota DK PBB. Dalam voting, 11 dari 15 negara anggota menyetujui, sementara Rusia dan China menolak (veto), dan dua negara lainnya abstain. 

Isi resolusi pada dasarnya mendorong negara-negara untuk:
 
• Mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz
• Melindungi kapal dagang
• Menjamin kelancaran distribusi energi global

Versi akhir resolusi bahkan telah “dilunakkan” dengan menghapus opsi penggunaan kekuatan militer, demi menarik dukungan Rusia dan China. 

Alasan Rusia–China Memveto

Rusia dan China menilai resolusi tersebut tidak netral dan cenderung menyudutkan Iran.

Perwakilan China di PBB menyatakan bahwa resolusi itu berpotensi disalahgunakan dan memperburuk konflik. Dalam pernyataannya disebutkan: “Akan mengirim pesan yang salah dan membawa konsekuensi serius” 

Sementara Rusia menilai resolusi tersebut bisa memberi legitimasi terhadap aksi militer Amerika Serikat dan sekutunya. Bahkan, diplomat Rusia menyebutnya sebagai upaya memberi “cek kosong untuk agresi lanjutan.” 

Selain itu, kedua negara menekankan bahwa akar konflik—yakni serangan awal terhadap Iran—tidak tercermin secara adil dalam draf resolusi. 

China juga menegaskan bahwa DK PBB seharusnya tidak “memberi legitimasi pada aksi militer yang tidak sah.” 

Dampak: Dunia Terbelah, Krisis Energi Mengintai

Veto ini memperlihatkan perpecahan tajam di tubuh DK PBB. Negara-negara Barat mengecam langkah Rusia dan China karena dinilai memperburuk krisis dan menghambat upaya menjaga jalur perdagangan global. 

Di sisi lain, Iran justru menyambut baik veto tersebut karena dianggap mencegah legitimasi terhadap tekanan militer terhadap negaranya. 

Kegagalan resolusi ini juga meningkatkan kekhawatiran terhadap:
 
• Lonjakan harga minyak dunia
• Gangguan rantai pasok global
• Potensi eskalasi konflik militer lebih luas

Veto Rusia dan China atas resolusi DK PBB terkait Selat Hormuz bukan sekadar langkah diplomatik biasa. Ini menjadi simbol kuat rivalitas geopolitik global yang semakin tajam—di saat dunia justru membutuhkan stabilitas untuk menghindari krisis energi dan konflik berskala besar.

Dengan kondisi yang masih dinamis, masa depan Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik krusial yang akan menentukan arah keamanan dan ekonomi global dalam waktu dekat.

(Berbagai Sumber)

Posting Komentar untuk "Rusia-China Blokir Resolusi DK PBB soal Selat Hormuz, Dunia Terbelah di Tengah Ancaman Perang Besar"