Trump Menyerah! Pasukan AS Ditarik dari Iran dalam 2-3 Pekan, Akui Kekalahan?

Presiden AS Donald Trump. (Foto: Anadolu/Kyle Mazza)


Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya angkat bendera putih. Setelah lebih dari sebulan terlibat konflik bersenjata dengan Iran, Trump mengumumkan bahwa pasukan AS akan segera ditarik dari wilayah Iran dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan.

"Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (31/3/2026).

Pernyataan ini muncul setelah serangan udara gabungan AS-Israel sejak 28 Februari 2026 yang telah menewaskan lebih dari 1.340 warga Iran, menurut data pemerintah setempat. Di pihak AS, sedikitnya 13 prajurit tewas.

Kekalahan Tersirat di Balik Retorika Kemenangan

Meskipun Trump berusaha membungkus penarikan ini sebagai "misi tercapai", narasi yang muncul justru sebaliknya. Iran telah membuktikan diri mampu bertahan dan melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Konflik ini juga memicu kekacauan global. Harga energi melonjak dan pelayaran di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak dunia—terganggu parah.

"Saya pikir itu akan sangat aman, tetapi kami tak ada lagi hubungannya dengan itu," kata Trump, melepas tanggung jawab atas keamanan Selat Hormuz kepada negara lain seperti Prancis.

Iran: Tidak Menyerah, tak Tunduk

Sementara AS menarik pasukan, Iran justru menunjukkan keteguhan. Dalam pidatonya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah dan akan melanjutkan perlawanan dengan bantuan sekutu regionalnya.

Trump mengeklaim "perubahan rezim" di Iran dengan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Namun faktanya, kepemimpinan Iran telah beralih ke Mojtaba Khamenei dengan dukungan penuh dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pertanyaan Besar: Siapa yang Kalah?

Penarikan pasukan AS ini memunculkan spekulasi bahwa Trump tidak mampu menaklukkan Iran. Konflik yang dimulai dengan agresi besar-besaran kini berakhir dengan hengkangnya AS tanpa mencapai tujuan yang jelas.

Iran menyatakan siap untuk membangun kembali kekuatannya. Sementara AS harus menghadapi kenyataan pahit bahwa strategi "shock and awe"-nya gagal membungkam perlawanan.

Pertanyaan besar kini menggantung: apakah stabilitas kawasan akan benar-benar pulih? Atau justru akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh aktor-aktor lain? Yang pasti, rakyat Iran masih harus berjuang memulihkan kehidupan mereka dari kehancuran akibat konflik yang dipicu oleh AS.

(Sumber: Anadolu)

Posting Komentar untuk "Trump Menyerah! Pasukan AS Ditarik dari Iran dalam 2-3 Pekan, Akui Kekalahan?"