WFH Tiap Jumat dan Gerakan Hemat Energi, Mendikdasmen: Layanan Pendidikan tak Boleh Turun Kualitas

Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengajak masyarakat mulai dari langkah sederhana: menggunakan transportasi umum, bersepeda, hingga berjalan kaki ke sekolah. (Foto Ilustrasi: BKHM Setjen Kemendikdasmen) 
Editor: Endro Yuwanto


GEBRAK.ID; JAKARTA -- Transformasi budaya kerja dan gerakan hemat energi resmi menjadi bagian dari strategi besar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyatakan perubahan ini bukan sekadar penyesuaian teknis, melainkan langkah strategis memperkuat ketahanan nasional melalui sektor pendidikan.

Menurut Mendikdasmen Mu’ti, reformasi pola kerja harus berdampak pada peningkatan kualitas layanan, bukan sebaliknya.

“Work From Home bukan berarti libur—ASN tetap bekerja penuh tanggung jawab, hanya saja dari lokasi yang berbeda. Layanan kepada masyarakat tetap berjalan dan mudah diakses,” ujar Mendikdasmen Mu’ti di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) diberlakukan mulai 1 April 2026, khusus satu hari dalam sepekan, yakni setiap Jumat. Evaluasi menyeluruh akan dilakukan setelah dua bulan pelaksanaan.

Tiga Pilar Transformasi Pendidikan

Kemendikdasmen menyebut transformasi budaya kerja ini bertumpu pada tiga pilar utama.

1️⃣ Pemerataan Akses dan Keadilan Layanan

Transformasi tidak boleh mengurangi layanan publik. Justru sebaliknya, kebijakan ini dirancang agar layanan pendidikan tetap hadir dan mudah dijangkau masyarakat melalui berbagai kanal.

Unit Layanan Terpadu (ULT) tetap dibuka secara tatap muka maupun daring, termasuk melalui posel, WhatsApp, dan telepon.

“Layanan publik seperti ULT akan tetap diselenggarakan. Guru tetap masuk jika murid masuk sekolah, kecuali pada konteks tertentu yang diatur pemerintah,” jelas Mendikdasmen Mu’ti.

2️⃣ Relevansi dan Kesiapan Masa Depan

Digitalisasi menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan yang adaptif. Cara kerja baru dipandang sebagai bagian dari kesiapan menghadapi tantangan global.

Kemendikdasmen menilai birokrasi yang efisien dan adaptif akan mempercepat respons terhadap kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat mutu layanan pendidikan.

3️⃣ Partisipasi Semesta

Perubahan budaya kerja tak akan berhasil tanpa keterlibatan seluruh pihak. ASN diharapkan menjadi teladan, satuan pendidikan mengembangkan praktik hemat energi, dan masyarakat ikut berpartisipasi aktif.

Transformasi ini sejalan dengan semangat Gerakan Indonesia ASRI yang mendorong lingkungan sekolah bersih, sehat, serta berkelanjutan.

Hemat Energi Jadi Gerakan Kolektif


Selain WFH, kebijakan strategis lain mencakup:

* Efisiensi penggunaan kendaraan dinas
* Pengurangan perjalanan dinas
* Optimalisasi transportasi publik
* Perluasan Car Free Day (CFD)
* Penguatan kebiasaan hemat energi di sekolah

Mendikdasmen Mu’ti mengajak masyarakat mulai dari langkah sederhana: menggunakan transportasi umum, bersepeda, hingga berjalan kaki ke sekolah. Ia juga mendorong pemerintah daerah menyiapkan jalur sepeda dan mendukung mobilitas ramah lingkungan.

“Kami ingin memastikan perubahan ini justru memperkuat kualitas layanan pendidikan. Di saat yang sama, ini momentum membangun kebiasaan baru yang lebih baik,” kata Mendikdasmen Mu'ti.

Sekolah Aman, Sehat, dan Berkarakter

Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) diharapkan menjadi bagian integral budaya sekolah, mulai dari pengelolaan sampah, penghijauan, hingga efisiensi penggunaan energi. Lingkungan sekolah yang aman dan sehat diyakini tak hanya menunjang pembelajaran, tetapi juga membentuk karakter murid yang peduli terhadap lingkungan.

“Kami percaya, dengan semangat gotong royong, ASN, satuan pendidikan, dan masyarakat bisa bergerak bersama. Inilah transformasi menuju masa depan—produktif, layanan tetap hadir, dan pendidikan bermutu untuk semua,” pungkas Mendikdasmen Mu’ti.

Transformasi Menuju Pendidikan Tangguh

Langkah Kemendikdasmen ini mencerminkan arah kebijakan nasional yang menekankan efisiensi birokrasi tanpa mengorbankan kualitas layanan publik. Digitalisasi, adaptivitas, dan kesadaran lingkungan menjadi fondasi menuju sistem pendidikan yang tangguh dan berkelanjutan.

Dengan kebijakan WFH setiap Jumat dan gerakan hemat energi, pemerintah berharap ekosistem pendidikan Indonesia mampu bertransformasi lebih modern, responsif, dan ramah lingkungan.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "WFH Tiap Jumat dan Gerakan Hemat Energi, Mendikdasmen: Layanan Pendidikan tak Boleh Turun Kualitas"