22 Tahun Penantian, Ini 7 Fakta Unik yang Mengiringi Takhta Arsenal di Liga Inggris

Pelatih klub Inggris Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta. (Foto: Skysports)

Editor: Damar Pratama

GEBRAK.ID – Puasa selama lebih dari dua dekade akhirnya usai. Arsenal secara matematis mengunci gelar Liga Primer Inggris 2025/2026 setelah rival sekota, Manchester City, ditahan imbang 1-1 oleh AFC Bournemouth di Vitality Stadium, Rabu (20/5/2026) dini hari WIB. Status juara ke-14 sepanjang sejarah ini membuka lembaran baru sekaligus memunculkan sederet fakta unik yang jarang tersorot.

Keberhasilan ini bukan sekadar tentang trofi yang lama dinanti. Di balik pesta kembang api di Emirates Stadium, terdapat detail-detail statistik dan momen psikologis yang merangkai perjalanan dramatis The Gunners. Berikut tujuh poin menarik yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Rekor Gol Tendangan Sudut yang Terlupakan

Kesuksesan Arsenal musim ini tidak melulu soal permainan terbuka yang atraktif. Pelatih Arsenal Mikel Arteta ternyata membangun mesin gol mematikan dari situasi bola mati. The Gunners mencetak 18 gol dari tendangan sudut, memecahkan rekor Liga Primer yang telah bertahan sejak 1992/1993 milik Oldham Athletic (16 gol). Total 28 gol lahir dari situasi dead-ball, menjadi yang tertinggi di liga.

2. Tembok Kokoh David Raya Lampaui Seaman


Di bawah mistar, David Raya menjelma menjadi pahlawan senyap. Kiper asal Spanyol itu membukukan 19 clean sheets, menyamai rekor legenda Arsenal, David Seaman, dan meraih Sarung Tangan Emas untuk ketiga kalinya secara beruntun. Hebatnya, Arsenal hanya kemasukan 26 gol sepanjang musim—jumlah kebobolan terbaik kedua dalam sejarah klub di era Premier League.

3. Duet Gabriel-Saliba, Fondasi tak Tertembus

Kunci pertahanan Arsenal terletak pada duet William Saliba dan Gabriel Magalhães. Saat keduanya menjadi starter, Arsenal memenangi 17 laga dan mencatatkan 15 clean sheet hanya dalam 26 pertandingan. “Mereka adalah jantung dari proyek ini. Konsistensi mereka membuat lini belakang kami hampir tanpa cela,” ujar seorang analis senior Premier League yang dikutip dari data Opta.

4. Perapian, Kapal, dan Lagu AI: Psikologi Unik Arteta

Di balik taktik disiplin, Arteta rupanya memiliki pendekatan psikologis yang tak biasa. Saat performa tim sempat goyah, ia meminta para pemain secara metaforis “membakar” pikiran negatif mereka di perapian pusat latihan. Di awal tahun, ia juga menyemangati fans dengan retorika “naiklah ke kapal kami.” Bahkan, sebuah lagu yang liriknya dibuat oleh AI berisi nama seluruh anggota skuad kini menjadi anthem favorit di ruang ganti.

5. Gyokeres dan Paradoks Mesin Gol

Arsenal juara tanpa bergantung pada satu mesin gol dominan. Rekrutan baru Viktor Gyokeres mencetak 14 gol liga, jumlah yang relatif rendah untuk seorang striker utama tim juara. Ini menjadikannya sejajar dengan Eric Cantona (1995/1996) dan hanya lebih baik dari Frank Lampard serta Ilkay Gündogan yang mencetak 13 gol saat klubnya juara. Bukti bahwa gelar ini dibangun dengan kolektivitas, bukan ego individu.

6. Proyek Jangka Panjang yang Terukur

Gelar ini bukan kejutan instan. Laporan eksklusif The Athletic mengungkap bahwa petinggi klub telah memproyeksikan "jendela kemenangan" antara 2023 hingga 2027. Analisis terhadap penuaan skuad rival, durasi kontrak, dan potensi kepergian pelatih seperti Juergen Klopp serta Pep Guardiola telah diperhitungkan matang sejak musim dingin 2020. Hasilnya, belanja pemain tidak sporadis, melainkan menyebar untuk delapan pemain sekaligus, menciptakan kedalaman skuad yang superior.

7. Jago Kandang tanpa Cacat

Arsenal nyaris sempurna saat berhadapan dengan tim-tim papan bawah. Mereka mendulang 53 poin dari 19 pertandingan melawan tim paruh bawah klasemen, menang 17 kali, dan hanya kemasukan enam gol. Statistik ini mematahkan kebiasaan buruk musim lalu di mana mereka kerap kehilangan poin krusial saat melawan tim medioker.

Kini, setelah gelar domestik dipastikan, tantangan sesungguhnya menanti. Arsenal akan menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) di final Liga Champions pada 30 Mei 2026 mendatang di Budapest, Hungaria. Jika menang, Arteta bukan hanya membawa pulang trofi Si Kuping Besar untuk pertama kalinya ke London Utara, tetapi juga layak disebut sebagai manajer terhebat dalam 144 tahun sejarah klub.

(Berbagai Sumber)

Jangan Terlewatkan: Arsenal Akhirnya Juara Liga Inggris! Kutukan 22 Tahun Berakhir Setelah Man City Ditahan Bournemouth