![]() |
| Hantavirus mulai meresahkan, sudah 23 kasus positif ditemukan di RI. (Foto: Gebrak.id/ AI) |
GEBRAK.ID; JAKARTA – Kasus infeksi Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat adanya 23 kasus di Indonesia sejak tahun 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026. Dari jumlah tersebut, 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara 3 orang lainnya meninggal dunia.
Data Kemenkes yang dirilis per 10 Mei 2026 ini menyebutkan bahwa secara total terdapat 251 kasus suspek pada periode yang sama. Setelah dilakukan pemeriksaan, 225 di antaranya negatif, dan 3 sampel tidak dapat diperiksa lebih lanjut. Kasus terbanyak terjadi pada tahun 2025, yaitu 17 kasus, disusul tahun 2026 (hingga pekan ke-16) sebanyak 5 kasus, dan tahun 2024 sebanyak 1 kasus.
Persebaran Kasus di 10 Daerah
Kasus Hantavirus di Indonesia tersebar di sepuluh wilayah, dengan jumlah tertinggi di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (masing-masing 6 kasus). Berikut rinciannya:
· DKI Jakarta: 6 kasus
· DI Yogyakarta: 6 kasus
· Jawa Barat: 5 kasus
· Jawa Timur: 1 kasus (tercatat dua kali dalam rilis, kemungkinan dua wilayah berbeda)
· Banten: 1 kasus
· Sumatera Barat: 1 kasus
· Nusa Tenggara Timur (NTT): 1 kasus
· Sulawesi Utara: 1 kasus
· Kalimantan Barat: 1 kasus
Dua Tipe Klinis Hantavirus
Kemenkes menjelaskan, Hantavirus disebabkan oleh Orthohantavirus yang memiliki 50 varian. Sebanyak 24 varian dapat menginfeksi manusia, antara lain Seoul Virus, Hantaan Virus, Andes Virus, dan Sin Nombre Virus.
Terdapat dua bentuk klinis infeksi Hantavirus pada manusia:
1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)
· Gejala: demam, nyeri badan, lemas, batuk, dan sesak napas
· Masa inkubasi: 14-17 hari
· Tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR): 60%
2. Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS)
· Gejala: demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan tubuh menguning (jaundice)
· Masa inkubasi: 1-2 minggu
· Tingkat kematian: 5-15% (lebih rendah dibanding HPS)
Khusus untuk 23 kasus di Indonesia, seluruhnya merupakan tipe HFRS yang berasal dari varian Seoul Virus.
Faktor Risiko Utama: Kontak dengan Tikus
Masyarakat perlu mewaspadai faktor risiko utama penularan Hantavirus, yaitu kontak dengan tikus atau celurut (shrew), serta terpapar kotoran, urine, atau air liur hewan pengerat tersebut. Virus ini tidak menular antarmanusia melalui kontak biasa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah memperingatkan potensi munculnya lebih banyak kasus Hantavirus tipe HPS menyusul insiden tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius yang meninggal akibat Andes Virus. Namun, WHO menegaskan bahwa wabah ini masih bisa dikendalikan dengan langkah kesehatan masyarakat yang tepat dan ketat.
Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat disarankan:
· Menjaga kebersihan lingkungan dari keberadaan tikus
· Menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat
· Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus
· Melakukan ventilasi ruangan sebelum dibersihkan jika ada indikasi keberadaan tikus
Jika mengalami gejala demam, nyeri otot, lemas, atau sesak napas setelah berpotensi terpapar tikus, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
(dk/berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "23 Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, 3 Meninggal Dunia: Kenali Gejala dan Cara Penularannya"