28 Tahun Reformasi: Rupiah Pernah Perkasa di Era SBY-Habibie, Kini Sentuh Rekor Terlemah

Perjalanan rupiah sejak Reformasi 1998 memang penuh gejolak. Ada masa ketika rupiah sangat kuat, tetapi ada pula periode ketika mata uang Indonesia mengalami tekanan berat akibat krisis global, pandemi, hingga gejolak geopolitik. (Foto: istimewa) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA--Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan pada 2026. Setelah sempat relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir, rupiah kini menembus level terlemah sepanjang sejarah Reformasi.

Bank Indonesia bahkan menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen untuk meredam tekanan terhadap rupiah yang terus melemah. Reuters melaporkan rupiah sempat menyentuh level sekitar Rp17.670 per dolar AS pada Mei 2026, menjadi rekor terendah baru. 

Perjalanan rupiah sejak Reformasi 1998 memang penuh gejolak. Ada masa ketika rupiah sangat kuat, tetapi ada pula periode ketika mata uang Indonesia mengalami tekanan berat akibat krisis global, pandemi, hingga gejolak geopolitik.

Awal Reformasi 1998: Rupiah Runtuh Akibat Krisis Asia

Krisis moneter Asia 1997-1998 menjadi titik paling kelam dalam sejarah rupiah modern. Sebelum krisis, dolar AS masih berada di kisaran Rp2.000-Rp3.000. Namun ketika badai krisis menghantam, rupiah anjlok drastis.

Pada masa transisi akhir pemerintahan Presiden Soeharto menuju Presiden B. J. Habibie, nilai tukar rupiah sempat menembus kisaran Rp16.000 per dolar AS.

Kondisi saat itu dipicu oleh:

Krisis kepercayaan pasar,

Utang luar negeri swasta yang besar,

Banyak bank kolaps,

Kerusuhan sosial dan politik,

Arus modal asing keluar besar-besaran.

Namun setelah pemerintahan Habibie berjalan dan stabilitas mulai pulih, rupiah perlahan menguat kembali.

Era Habibie: Rupiah Mulai Bangkit

Di masa Presiden B. J. Habibie, pemerintah mulai melakukan restrukturisasi perbankan dan pemulihan ekonomi.

Perlahan rupiah kembali menguat hingga berada di bawah Rp10.000 per dolar AS. Banyak ekonom menilai periode ini menjadi awal pemulihan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia pasca krisis.

Meski masa pemerintahan Habibie singkat, stabilisasi rupiah menjadi salah satu capaian penting saat itu.

Era Gus Dur dan Megawati: Rupiah Masih Berfluktuasi

Pada era Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri, rupiah belum sepenuhnya stabil.

Faktor politik dalam negeri masih cukup memengaruhi pasar. Nilai tukar rupiah beberapa kali bergerak di atas Rp10.000 per dolar AS.

Meski demikian, fondasi ekonomi mulai membaik:

Inflasi mulai terkendali,

Cadangan devisa meningkat,

Pertumbuhan ekonomi perlahan pulih,

Sistem perbankan mulai sehat kembali.

Era SBY: Masa Rupiah Paling Kuat

Banyak pelaku pasar menilai masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi periode paling stabil bagi rupiah sejak Reformasi.

Pada periode 2004-2011, rupiah beberapa kali bergerak di kisaran Rp8.500-Rp9.000 per dolar AS. Ini menjadi salah satu level terkuat rupiah di era Reformasi.

Ada beberapa faktor yang mendukung penguatan rupiah saat itu:

Harga komoditas dunia sedang tinggi,

Investasi asing deras masuk,

Pertumbuhan ekonomi stabil,

Utang pemerintah lebih terkendali,

Kepercayaan investor meningkat.

Meski sempat terguncang krisis global 2008, rupiah relatif cepat pulih.

Karena itu, era SBY sering disebut sebagai salah satu periode “emas” kestabilan rupiah.

Era Jokowi: Rupiah Mulai Bertahan di Atas Rp14.000

Saat Presiden Joko Widodo memimpin, rupiah menghadapi tantangan global yang lebih berat.

Mulai dari:

perang dagang AS-China,

kenaikan suku bunga The Fed,

pandemi COVID-19,

hingga gejolak ekonomi dunia.

Pada masa pandemi 2020, rupiah sempat mendekati Rp16.000 per dolar AS karena kepanikan pasar global.

Meski ekonomi Indonesia kemudian pulih, rupiah cenderung bertahan di atas Rp14.000-Rp15.000 per dolar AS dalam beberapa tahun terakhir.

Namun pemerintah saat itu masih mampu menjaga agar pelemahan tidak terlalu ekstrem dibanding banyak negara berkembang lain.

Era Prabowo: Rupiah Cetak Rekor Terlemah Baru

Memasuki pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, tekanan terhadap rupiah kembali meningkat tajam.

Reuters melaporkan rupiah sempat menyentuh level sekitar Rp17.670 per dolar AS pada Mei 2026. 

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh beberapa faktor:

konflik geopolitik global,

penguatan dolar AS,

kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal,

keluarnya dana asing dari pasar Indonesia,

serta meningkatnya permintaan dolar AS.

Bank Indonesia sampai menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah. 

Jadi, Kapan Rupiah Terkuat dan Terlemah?

Jika melihat perjalanan sejak Reformasi 1998:

Rupiah Terkuat

Terjadi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Sempat berada di kisaran Rp8.500-Rp9.000 per dolar AS

Didukung stabilitas ekonomi dan derasnya investasi asing

Rupiah Terlemah

Rekor terbaru terjadi pada era Presiden Prabowo Subianto tahun 2026

Rupiah menyentuh sekitar Rp17.670 per dolar AS 

Rupiah dan Tantangan Masa Depan

Perjalanan 28 tahun Reformasi menunjukkan bahwa kekuatan rupiah sangat dipengaruhi kondisi global dan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.

Saat ekonomi stabil, investasi masuk deras, dan inflasi terkendali, rupiah biasanya menguat. Sebaliknya, ketika ketidakpastian global meningkat dan investor khawatir terhadap kebijakan ekonomi, rupiah cenderung melemah.

Meski begitu, pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas agar pelemahan rupiah tidak berdampak besar terhadap masyarakat luas.

(berbagai sumber)