![]() |
| Algoritma Media Sosial dan Dampaknya pada Gender War. (Foto: Psychology Today). |
GEBRAK.ID -- Media sosial saat ini tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang yang membentuk cara kita memandang hubungan romantis. Tanpa disadari, banyak pengguna terus-menerus terpapar konten yang menggambarkan hubungan sebagai sesuatu yang penuh konflik, kecurigaan, bahkan ketidakpercayaan.
Ungkapan seperti “pria hanya ingin satu hal”, “tidak ada wanita baik yang tersisa”, atau “semua pernikahan pasti gagal” semakin sering muncul setelah seseorang menghabiskan waktu lama di platform digital. Konten semacam ini bukan kebetulan—melainkan hasil dari cara kerja algoritma media sosial.
Menurut Sharabi (2026), media sosial dapat menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan tentang hubungan, terutama melalui konten yang dipersonalisasi oleh algoritma. Paparan berulang terhadap konten semacam ini dapat memengaruhi cara pandang seseorang terhadap hubungan romantis, bahkan berpotensi menciptakan pandangan yang lebih negatif dan terpolarisasi antara pria dan wanita.
Sharabi juga menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja dengan cara mempelajari interaksi pengguna, sehingga konten yang muncul sering kali memperkuat apa yang sudah pernah dilihat atau disukai sebelumnya. Hal ini membuat pengguna semakin sering terpapar konten yang bernada negatif terhadap hubungan tanpa disadari.
Bagaimana Algoritma Media Sosial Membentuk Pandangan Kita
Algoritma media sosial dirancang untuk mempelajari apa yang menarik perhatian pengguna. Sistem ini mengamati apa yang kita tonton, sukai, atau bahkan hanya kita tonton lebih lama beberapa detik.
Jika seseorang berhenti sejenak pada video yang membahas kegagalan hubungan atau konflik pasangan, algoritma akan menganggap konten tersebut menarik. Akibatnya, lebih banyak konten serupa akan muncul di beranda pengguna.
Proses ini bisa menciptakan efek berantai: rasa penasaran kecil dapat berubah menjadi paparan berulang terhadap konten yang cenderung negatif tentang hubungan.
Dalam sebuah pengamatan yang dilakukan melalui akun media sosial baru, terlihat bahwa jenis konten yang ditampilkan kepada pengguna laki-laki dan perempuan bisa sangat berbeda.
Konten yang Sering Dilihat Pengguna Laki-Laki
Pada akun yang merepresentasikan pengguna laki-laki, algoritma cenderung menampilkan konten yang menyoroti sisi negatif perempuan dalam hubungan.
Beberapa contoh yang muncul antara lain narasi yang menggambarkan perempuan sebagai tidak stabil, tidak dapat dipercaya, atau berpotensi berselingkuh. Bahkan ada konten yang menyarankan pria untuk selalu waspada secara emosional maupun finansial terhadap pasangan.
Meskipun perselingkuhan memang terjadi dalam hubungan manusia, hal tersebut jelas bukan kondisi mayoritas. Namun, algoritma dapat memperkuat pandangan ekstrem ini jika pengguna terus berinteraksi dengan konten serupa.
Konten yang Sering Dilihat Pengguna Perempuan
Sebaliknya, pengguna perempuan lebih sering diperlihatkan konten yang menyoroti pria sebagai sumber masalah dalam hubungan.
Video dan tips kencan sering mengarahkan perhatian pada “tanda bahaya” dalam hubungan, serta menggambarkan pria sebagai pihak yang sulit dipercaya atau berpotensi merugikan.
Beberapa istilah psikologis seperti narcissistic personality disorder atau avoidant attachment juga sering disederhanakan secara berlebihan, sehingga membuat banyak perilaku normal dalam hubungan terlihat seperti gangguan serius.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa orang dengan gangguan kepribadian narsistik sejati hanya sebagian kecil dari populasi. Namun penggunaan istilah ini yang terlalu bebas dapat menciptakan kesalahpahaman dalam menilai pasangan.
Dampaknya terhadap Cara Kita Memandang Hubungan
Pandangan yang terlalu menyederhanakan perbedaan antara pria dan wanita sebenarnya bukan hal baru. Buku-buku seperti Men Are from Mars, Women Are from Venus sudah lama membahas hal serupa.
Namun, perbedaannya hari ini adalah intensitas dan konsistensi paparan tersebut. Media sosial membuat orang terus-menerus menerima pesan yang sama, sehingga membentuk persepsi yang lebih ekstrem.
Jika seseorang terus-menerus melihat narasi bahwa lawan jenis adalah “musuh”, maka pandangan tersebut bisa terasa seperti kenyataan umum. Hal ini dapat memperkuat polarisasi dalam cara orang memilih pasangan dan menjalani hubungan.
Akibatnya, sebagian orang menjadi semakin skeptis terhadap hubungan romantis, bahkan memilih untuk tidak berpacaran atau menikah sama sekali.
Paparan berulang terhadap konten yang bias dan negatif di media sosial dapat membentuk cara kita memandang hubungan secara tidak sadar. Algoritma yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan pengguna justru dapat memperkuat pandangan ekstrem tentang cinta dan pasangan.
Di bagian lanjutan dari pembahasan ini, akan dibahas bagaimana cara mengatur ulang algoritma agar kita lebih banyak melihat konten yang sehat, seimbang, dan berbasis fakta ilmiah tentang hubungan.
(Sumber: Sharabi, L. (2026, May 20). Social media is misinforming you about relationships: Why the content you’re seeing may be anti-relationship. Dating in the Digital Age. Reviewed by Vilhauer, M)
.jpg)